Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-konsel/216 |
|
![]() |
|
e-Konsel edisi 216 (15-9-2010)
|
|
______________________________e-KONSEL________________________________ Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen ______________________________________________________________________ EDISI 216/15 September 2010 Daftar Isi: = Pengantar: Belenggu Mengasihani Diri Sendiri = Cakrawala: Mengasihani Diri Sendiri = Tips: Mengatasi Rasa Mengasihani Diri Sendiri = Bimbingan Alkitabiah: Ketika Mengasihani Diri Sendiri = Info: Pembukaan Kelas Natal November 2010: Pendidikan Elektronik Studi Teologi Awam (Pesta) PENGANTAR ____________________________________________________________ Shalom, Mungkin semua orang percaya tidak asing dengan kisah orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:30-35). Kisah ini tidak hanya memberikan pelajaran mengenai perbuatan baik, tetapi di dalamnya terdapat sebuah pelajaran yang sangat dalam dan penting bagi seorang konselor Kristen yang sedang membimbing konselinya untuk keluar dari rasa mengasihani diri sendiri. Dengan menolong orang lain, orang Samaria ini telah memutuskan untuk tidak dibelenggu oleh rasa kasihan terhadap diri sendiri sendiri karena dibenci dan kerap dilecehkan oleh orang Yahudi. Ya, topik yang dibahas dalam e-Konsel edisi ini adalah "Mengasihani Diri Sendiri". Anda dapat menyimak sebuah artikel yang telah Redaksi siapkan mengenai masalah yang mungkin sedang Anda atau konseli Anda hadapi ini. Jangan lupa, sebagai seorang konselor Kristen, prinsip-prinsip Alkitab harus selalu menjadi dasar dalam menjalankan tugas. Oleh karena itu, simaklah kolom Bimbingan Alkitabiah yang dapat menolong Anda ketika sedang mengalami atau membantu mereka yang sedang merasa kasihan terhadap dirinya sendiri. Selain itu, simak pula tip untuk mengatasi rasa kasihan terhadap diri sendiri. Kiranya menjadi berkat. Pimpinan Redaksi e-Konsel, Davida Welni Dana < evie(at)in-christ.net > http://c3i.sabda.org http://fb.sabda.org/konsel CAKRAWALA ____________________________________________________________ MENGASIHANI DIRI SENDIRI Ketika saya membiarkan diri saya mengasihani diri sendiri, saya tidak berguna bagi Tuhan. Saya lumpuh ketika mata saya terpaku pada diri sendiri. Tidak ada kuasa Roh Kristus yang bekerja dalam diri saya, kecuali saya mengarahkan pikiran saya kepada-Nya. "Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya." (1 Petrus 2:21) Tidak ada waktu yang lebih saya benci daripada waktu ketika saya mengasihani diri sendiri. Mengasihani diri sendiri adalah bukti terkuat bahwa pikiran kita jelas-jelas kacau. Allah tidak pernah menciptakan pikiran kita untuk diri kita sendiri. Bahkan kita juga tidak disuruh untuk menguji diri kita sendiri, apalagi mengasihani diri sendiri. Mengasihani Diri Sendiri Beberapa tahun lalu saya ditangkap. Bagi saya, ini adalah salah satu cobaan terbesar untuk mengasihani diri sendiri. Saya sangat terkejut ketika para polisi yang tidak berseragam tersebut mengepung, memborgol, dan menyeret saya ke penjara. Saya berada di tiga penjara yang berbeda dalam 1 minggu. Saya menghadapi maksimum dua tuntutan masing-masing 99 tahun penjara. Saya tidak punya uang dan tidak punya perlindungan. Sudah tentu saya merasa sangat terancam. Walaupun jaksa penuntut umum akhirnya menyarankan kepada hakim agar membatalkan tuntutan tersebut (yang langsung dilaksanakan oleh sang hakim), peristiwa tersebut memakan waktu 10 minggu yang penuh misteri dan ketidakpastian sebelum saya akhirnya mengetahui hasilnya. Saya ingat perasaan saya. Saya tidak bisa membayangkan apa yang sedang terjadi karena saya hanya seorang diri di penjara. Saya berbaring di alas tipis di atas semen; saya menangis, saya berdoa, saya memupuk rasa kasihan terhadap diri sendiri. Saya tidak dapat tidur di tengah-tengah tangisan dan teriakan yang terdengar dari sel-sel lain. Sangat aneh, saya belum pernah merasakan hal ini sebelumnya. Rasanya seperti mimpi buruk! Benar-benar tidak nyata. Tetapi karena saya harus terus mengusir kecoak-kecoak dari tangan saya, saya baru sadar betapa nyatanya semua ini. Ini bukanlah sebuah mimpi! Dokter yang memeriksa saya sebelum saya masuk ke sel pertama menjadi panik setelah dia memeriksa tekanan darah saya. Dia meminta petugas menempatkan saya di sel yang dekat dengan posnya agar dia bisa menjemput dan memeriksa saya di kantornya sampai malam. Dia sangat memerhatikan saya terutama saat dia tahu bahwa saya pernah mendapat serangan jantung beberapa tahun sebelumnya. Setelah itu saya merasakan untuk kedua kalinya rasa mengasihani diri yang terburuk, yaitu ketika saya berada di penjara yang ketiga. Saya diberitahu bahwa seorang donatur yang sangat dermawan menyediakan uang 0,000 untuk menjadi jaminan bagi saya. Karena saya berpikir bahwa ketika mereka menjemput saya dari sel saya saya akan dibebaskan, maka saya sangat merasa terpukul ketika saya dipindahkan ke kota dan penjara yang lain sebelum uang itu datang. Di penjara ketiga inilah saya sangat marah dan kecewa. Saya dimasukkan ke sel yang mereka sebut "tangki" bersama sekitar lima belas pria lainnya. Sel itu cukup kecil dan semua orang terbaring di lantai sehingga untuk berjalan pun sulit. Saya mengambil posisi di bangku kecil yang terletak di ujung sel. Selama 12 jam saya duduk di ujung sel sambil menggerutu. Bagian belakang saya terasa nyeri. Bangku tersebut sangat tinggi sehingga kaki saya tidak bisa menyentuh lantai. Sungguh sangat tidak nyaman! Walaupun di penjara sebelumnya saya telah menjadi saksi Kristus lewat konseling dengan tahanan lainnya, di penjara ini saya terus menggerutu mengasihani diri sendiri sampai Tuhan mengubah persepsi saya. Allah berbicara Saat itulah Allah berbicara kepada saya, "Di manakah mahkota berduri? Aku tidak melihat darah. Di manakah paku? Aku tidak melihat salib. Di manakah hinaan dan cemooh? Aku tidak melihatmu dalam kondisi yang tidak nyaman. Kapan mereka mencambukmu? Apakah kamu menderita sebanyak yang kamu pikirkan?" Setelah itu, sikap saya akhirnya berubah dan saya memfokuskan pikiran saya tentang Dia yang menjadi inti dari semuanya. Di dalam sel itu, Dia mengizinkanku bersaksi kepada semua orang. Selama lebih dari 2 jam, saya menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka dan mempersaksikan Kristus. Terkadang sel itu sunyi senyap sampai-sampai saya dapat mendengar suara napas mereka. Pada waktu lain, sel tersebut meledak dengan tawa. Ketika saya membiarkan diri saya mengasihani diri sendiri, saya tidak berguna bagi Tuhan. Saya lumpuh ketika mata saya terpaku pada DIRI sendiri. Tidak ada kuasa Roh Kristus yang bekerja dalam diri saya, kecuali saya mengarahkan pikiran saya kepada DIA. Saat saya "memikirkan hal-hal yang dari daging", tidak akan ada kesaksian-Nya lewat saya kepada orang-orang ini. Saya adalah satu-satunya orang Kristen di sel. Ketika saya mengarahkan pikiran pada "hal-hal yang di atas", saya mampu melakukan hal-hal yang sebelumnya saya anggap mustahil. Tuhan, dengan kemurahan-Nya, mengizinkan saya "menebus waktu" saya. Ketika pengacara saya akhirnya tiba dan nama saya dipanggil ke ruang konferensi, dan ketika saya melangkahi tubuh orang-orang yang ada di antara saya dan pintu sel, setiap dari mereka berkata, "Tuhan memberkatimu." Begitu saya tiba di pintu penjara itu, air mata telah mengalir di wajah saya. Saya berbalik dan mengangkat tangan saya ke langit dan berkata, "Kiranya Tuhan memberkati kalian dan mengungkapkan diri-Nya kepada kalian." Setelah saya selesai mengucapkan hal itu, sel itu penuh dengan orang yang berkata, "Jangan lupa doakan kami." Tangan melambai-lambai di jeruju-jeruji besi saat petugas mengantarku menuju kebebasan dengan uang jaminan. Aku mendengar mereka satu demi satu berseru, "Doakan saya!" Kemarahan Yesus Paling tidak tiga kali kemarahan Yesus menyala-nyala terhadap hal-hal yang sangat Dia benci: pada peristiwa penyucian Bait Allah, kecaman-Nya yang pedas terhadap kemunafikan orang-orang Farisi, dan pada peristiwa ketika Petrus berkata kepada-Nya untuk mengasihani diri sendiri. Iblis mencobai Yesus untuk mengasihani diri sendiri paling tidak sebanyak dua kali. "Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai Iblis. Selama di situ Ia tidak makan apa-apa dan sesudah waktu itu Ia lapar. Lalu berkatalah Iblis kepada-Nya: `Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti.`" (Lukas 4:2-3) Yesus tidak mau mengasihani diri-Nya sendiri. Mengasihani diri sendiri juga tidak dibenarkan untuk kita. Ya, Yesus menolak ajakan untuk mengasihani diri sendiri. Yesus menegur Petrus dengan keras. "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia." (Matius 16:23) Bisa Anda bayangkan Yesus menganggap kata-kata Anda berasal dari Iblis? Bayangkan bahwa Yesus mengatakan bahwa Anda adalah "batu sandungan" bagi Yesus! Mengapa Yesus memberikan teguran keras ini kepada Petrus? Apakah hal itu tidak terlalu berlebihan? Ketika Anda membaca catatan kaki ayat tersebut pada Alkitab King James Version, Anda akan melihat bahwa tanggapan Yesus yang keras menunjukkan ketidaksukaannya yang sangat mendalam terhadap rasa mengasihani diri sendiri. Inilah yang tertulis dalam catatan kaki tersebut: "Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: `Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.` (`Kiranya Allah menjauhkan hal itu` dalam bahasa Ibrani berarti `Kasihanilah diri-Mu sendiri`)." (Catatan kaki King James Version, Matius 16:22) Petrus meminta Yesus untuk mengasihani diri-Nya sendiri. Yesus tidak hanya diam saja mendengar hal itu, tetapi Ia juga menolaknya dengan teguran yang keras. Yesus tidak membiarkan pikiran mengasihani diri sekecil apa pun masuk ke dalam pikiran-Nya. Sebuah contoh lain atas penolakan Yesus terhadap rasa mengasihani diri sendiri adalah saat [para prajurit Romawi] meminta Simon [orang Kirene] membawa salib untuk Yesus. "Ketika mereka membawa Yesus, mereka menahan seorang yang bernama Simon dari Kirene, yang baru datang dari luar kota, lalu diletakkan salib itu di atas bahunya, supaya dipikulnya sambil mengikuti Yesus. Sejumlah besar orang mengikuti Dia; di antaranya banyak perempuan yang menangisi dan meratapi Dia. Yesus berpaling kepada mereka dan berkata: "Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu!`" (Lukas 23:26-28) Yesus tidak mau mereka menangisi Dia dan merasa mereka telah berbuat sesuatu untuk-Nya. Tanpa Dia sebagai Juru Selamat mereka, mereka dan anak-anak mereka akan selamanya dipisahkan dari Allah. Yesus tidak mau menerima rasa kasihan mereka dan Dia memberikan perspektif yang benar bagi wanita-wanita ini dan bagi kita. Yesus dilahirkan untuk tujuan ini. Tidak ada ratapan dan tindakan apa pun yang dapat mencegah Yesus dari tekad-Nya mencapai tujuan-Nya. Cara kita satu-satunya melawan godaan hebat untuk mengasihani diri sendiri adalah dengan melakukan apa yang akhirnya saya lakukan di sel itu dengan semua orang di sana: "lihatlah kepada Yesus sang `Pencipta` dan `Penuntas` iman kita; yang demi sukacita yang ada di hadapan-Nya telah menghadapi salib, dan menanggung hinaan" Jika kita bisa mengalihkan pikiran kita dari diri sendiri kepada Yesus, hal ini akan membawa kita ke suatu tempat yang dapat membuat kita bersama-sama Paulus berkata, "Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita." (Roma 8:18) Dengan sikap ini, kita akan menjadi serupa dengan Allah. Taati Alkitab yang berkata kepada kita, "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup." (1 Yohanes 2:6) "Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala." (5:21) Terutama berhala mengasihani diri sendiri yang licik! (t/Uly) Diterjemahkan dan disunting dari: Judul artikel asli: Self Pity Nama situs: SingleVISION Ministries Penulis: A. Gene Veal Alamat URL: http://www.seegod.org/self_pity.htm TIPS _________________________________________________________________ MENGATASI RASA MENGASIHANI DIRI SENDIRI Diringkas oleh: Evie Wisnubroto Berikut ini adalah empat tip untuk mengatasi rasa mengasihani diri sendiri: 1. Putuskanlah untuk bangkit dan berjalan lagi dengan kekuatan dari Tuhan. (Kisah Para Rasul 3:3-8) 2. Putuskanlah untuk bersukacita. (Kisah Para Rasul 16:22-26) 3. Putuskanlah untuk menyerahkan diri dan situasi Anda kepada Tuhan. (1 Petrus 2:21-23) 4. Putuskanlah untuk berbuat baik terhadap orang lain. (Lukas 10:30-35) Keputusan-keputusan ini tidak dapat diambil dengan sembrono karena tidak dapat dilakukan dengan kekuatan sendiri. Anda dapat mengambil keputusan tersebut jika Anda bersandar sepenuhnya kepada Tuhan. Jika Anda memutuskan untuk keluar dari rasa kasihan terhadap diri sendiri, ada sukacita yang tidak dapat diambil oleh siapa pun. Kisah Para Rasul 3:3-8 Kisah Para Rasul 3:3-8 mengisahkan seorang lumpuh yang mengharapkan uang dari Petrus dan Yohanes. Namun Petrus dan Yohanes tidak memberinya uang, melainkan memintanya berdiri dan berjalan. Orang lumpuh itu diberi pilihan, apakah ia mau berdiri dan berjalan atau tidak? Anda pun dapat memilih untuk tetap mengasihani diri Anda atau bangkit serta berjalan lagi dalam iman dan dengan kuasa Roh Kudus. Bangkitlah, terimalah uluran tangan Tuhan melalui firman Tuhan, yaitu janji-janji penglepasan dan pemulihan. Proses berduka merupakan periode yang normal ketika Anda sedang terluka. Namun ingatlah, ada waktu untuk berhenti berduka. Anda harus bangkit dan berjalan lagi dengan kuasa Tuhan. Berjalanlah dalam iman, berjalanlah dalam pengampunan, dan berjalanlah sambil bersandar penuh kepada Yesus. Atau, Anda dapat memilih untuk terus mengasihani diri sendiri, namun hal itu akan menghalangi sukacita dari Tuhan untuk Anda. Kisah Para Rasul 16:22-26 Meskipun Paulus dan Silas harus dilempar ke penjara karena melakukan pekerjaan dan perintah Tuhan, mereka tidak meratapi semua itu sambil mengasihani diri mereka. Di dalam penjara, mereka tidak memilih untuk berbaring dan menunggu kematian mereka. Mereka memilih untuk terus berdoa dan menyanyikan puji-pujian bagi Allah. Ya, mereka membuat pilihan untuk bersukacita. Apakah Anda juga pernah terluka karena kesalahan yang tidak Anda lakukan? Atau ketika Anda berbuat baik, orang lain malah menuding Anda telah berbuat jahat? Apakah saat ini Anda memilih untuk mengurung diri dalam penjara mengasihani diri sendiri karena rasa luka tersebut? Sadarilah bahwa pilihan untuk mengasihani diri sendiri adalah sebuah bentuk perbudakan yang mengerikan. Saya mendorong Anda untuk membuat pilihan untuk bersukacita. Ketika Paulus dan Silas menyanyikan pujian, Alkitab mengatakan bahwa tiba-tiba gempa mengguncang fondasi penjara itu dan semua orang yang terbelenggu pun bebas. Ketika Anda memilih untuk bersukacita, Roh Kudus akan menolong Anda karena hanya Dialah yang dapat memberikan sukacita itu. 1 Petrus 2:21-23 Kalaupun Paulus dan Silas memiliki hak untuk menikmati rasa mengasihani diri sendiri, maka terlebih lagi Tuhan kita Yesus Kristus. Dia, yang tidak berdosa telah dihina, dikutuk, dikhianati, disiksa, dan disalibkan dengan kejam sampai mati. Namun Dia tidak pernah berkata akan membalas semua penderitaan yang telah dialami-Nya. Yesus menyerahkan diri-Nya kepada Bapa yang menghakimi dengan benar. Yesus tidak pernah mengasihani diri-Nya sendiri. Ketika kita disakiti, pandanglah kepada Yesus yang merupakan teladan hidup. Jangan tinggal diam untuk mengasihani diri sendiri. Jangan pula bersumpah untuk membalas dendam pada musuh Anda. Hal tersebut hanya akan membuat Anda menjadi sama dengan mereka. Serahkanlah diri Anda, rasa sakit Anda, kekecewaan Anda, dan keresahan-keresahan Anda kepada Tuhan yang adalah setia dan bersedia bekerja dalam hidup Anda. Ketika Anda menyerahkan masalah kepada Tuhan, maka Anda telah membawa kepada Tuhan segala sesuatu yang dapat membuat Anda merasa kasihan pada diri sendiri. Itu juga berarti Anda telah menyerahkan hak Anda untuk menjadi pahit, Anda menyerahkan hak untuk membalas dendam, Anda telah mengangkat tangan Anda dan menolak segala bentuk upaya kekuatan diri sendiri. Anda menantikan Roh Kudus dan mengikuti jalan yang ditunjukkan-Nya. Lukas 10:30-35) Salah satu cara yang baik untuk melepaskan diri dari perangkap belas kasihan kepada diri sendiri adalah dengan membantu orang lain. Orang Samaria adalah keturunan campuran dan dibenci oleh orang Yahudi. Namun ketika orang Samaria yang murah hati tersebut menemukan orang asing yang terluka di tengah jalan, ia meluangkan waktu, tenaga, bahkan uang untuk menolong orang asing tersebut. Sebagai orang Samaria, mungkin ia sering mengalami pelecehan dan diksriminasi karena warisan dari nenek moyangnya. Mungkin dia juga telah dihina oleh orang Yahudi. Bahkan, mungkin dia juga pernah dipukuli. Jadi, mengapa ia mau repot-repot dengan orang asing ini? Dia sudah cukup menderita. Tetapi, orang Samaria ini tidak melewati orang asing yang malang itu. Dia mendekati orang asing itu dan meletakkannya di atas keledainya. Orang Samaria itu lalu membawa orang asing itu ke penginapan dan memberi petugas penginapan itu uang untuk merawat orang asing tersebut. Saya percaya, peristiwa ini merupakan saat-saat penting dalam hidup orang Samaria itu untuk memilih tidak mengasihani diri sendiri. Mengapa saya yakin bahwa dia telah memutuskan untuk tidak mengasihani dirinya sendiri? Jika seseorang terus-menerus hidup dalam rasa kasihan terhadap dirinya sendiri, maka mustahil baginya untuk merasakan iba terhadap orang lain. Jika Anda menolong orang lain ketika Anda sedang dalam keadaan terluka dan merasa kasihan pada diri sendiri, maka hal itu akan menguntungkan Anda. Pertolongan yang Anda berikan akan mengalihkan pikiran Anda, rasa sakit Anda, dan rasa kasihan Anda pada diri sendiri. Dengan melakukan hal itu pula, Anda sedang menyerahkan situasi dan masalah Anda sendiri kepada Roh Kudus untuk bergerak bebas dalam hidup Anda. Ambillah keputusan Apakah Anda pernah disakiti oleh seseorang? Apakah Anda pernah jatuh ke dalam perangkap rasa kasihan terhadap diri sendiri? Anda berpikir bahwa dengan mengasihani diri sendiri keadaan akan lebih baik? Jika demikian, sekarang waktunya untuk membuat beberapa keputusan. Putuskanlah untuk bangkit dan berjalan lagi; putuskanlah untuk bersukacita; putuskanlah untuk menyerahkan diri dan situasi Anda kepada Tuhan; serta putuskanlah untuk melakukan kebaikan kepada orang lain. Keputusan-keputusan ini tidak dapat diambil dengan sembrono karena tidak dapat dilakukan dengan kekuatan sendiri. Anda dapat mengambil keputusan tersebut jika Anda bersandar sepenuhnya kepada Tuhan. Jika Anda memutuskan untuk keluar dari rasa kasihan terhadap diri sendiri, ada sukacita yang tidak dapat diambil oleh siapa pun. (t/Davida) Diterjemahkan dan diringkas dari: Judul artikel asli: Self Pity Nama situs: FaithWriters Penulis: Michael Wogoman Alamat URL: http://www.faithwriters.com/article-details.php?id=109243 Tanggal akses: 15 September 2010 BIMBINGAN ALKITABIAH _________________________________________________ KETIKA MENGASIHANI DIRI SENDIRI Masalah sesungguhnya yang terdapat dalam rasa mengasihani diri sendiri adalah karena kita menggantikan Allah dalam hidup kita dengan usaha yang berpusat pada diri sendiri untuk menangani rasa sakit itu. Beberapa ayat Alkitab yang berbicara tentang mengasihani diri sendiri 1. Kecenderungan untuk bergantung selain pada Allah. Yesaya 31:1: Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yang begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari TUHAN. 2. Hanya Allah saja sumber kekuatan kita. Mazmur 57:2: Kasihanilah aku, ya Allah, kasihanilah aku, sebab kepada-Mulah jiwaku berlindung; dalam naungan sayap-Mu aku akan berlindung, sampai berlalu penghancuran itu. 3. Panggilan ilahi untuk berserah. 1 Petrus 5:7: Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. 4. Suatu keputusan yang harus diambil semua orang. Amsal 3:5: Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. 5. Berkat berasal dari memercayakan diri. Mazmur 40:5: Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya pada TUHAN. 6. Bila tidak ada pertobatan, ada kematian rohani. 2 Korintus 7:10: Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian. 7. Jalan ke arah pertobatan. Yakobus 4:9-10: Sadarilah kemalanganmu, berdukacita dan merataplah; hendaklah tertawamu kamu ganti dengan ratap dan sukacitamu dengan dukacita. Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu. 8. Pertahankan sikap mementingkan orang lain. Filipi 2:4: Janganlah tiap-tiap orang hanya memerhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Bahaya Mengasihani Diri Sendiri Salah satu bahaya terbesar yang dapat menimpa kita saat dilanda kesedihan adalah terperosok dalam sikap mengasihani diri sendiri. Dan hal ini sangat mudah terjadi. Mengasihani diri sendiri adalah gejala "betapa malangnya aku". Kita merasa kasihan kepada diri sendiri dengan harapan agar sakit yang kita alami dapat berkurang. Orang yang berperasaan peka mudah sekali mengasihani diri sendiri karena mereka mudah terluka. Kepekaan adalah kemampuan untuk bersimpati dan merupakan sarana Allah agar kita bisa merasakan perasaan orang lain secara mendalam. Kepekaan adalah hal yang indah bila digunakan dengan cara demikian. Tetapi jika kepekaan itu membuat kita hanya memikirkan diri sendiri, ini bertentangan dengan rencana Allah bagi kita dan menjerumuskan kita dalam perasaan yang sangat menyedihkan. Masalah sesungguhnya yang terdapat dalam rasa mengasihani diri sendiri adalah karena kita menggantikan Allah dalam hidup kita dengan usaha yang berpusat pada diri sendiri untuk menangani rasa sakit itu. Kita tidak berpaling pada Allah dalam kesulitan kita dan membawa rasa sakit itu kepada-Nya. Kita lebih memilih pengobatan sementara yaitu dengan mengasihani diri sendiri. Kita merasa rendah diri, merengek, berkeluh kesah, mengadu, juga menuduh Allah melupakan kasih karunia-Nya kepada kita. Dalam kerangka berpikir yang berpusatkan pada diri sendiri ini, kita menganggap masalah kita yang kecil lebih serius dibandingkan malapetaka besar dalam kehidupan orang lain. Rasa kasihan yang kita curahkan kepada diri sendiri memang agak mengurangi rasa sakitnya, tetapi hal ini dilakukan dengan cara yang tidak melibatkan Allah. Mengasihani diri sendiri adalah kepekaan yang berubah menjadi egoisme; kita lebih memilih menangani rasa sakit itu dengan cara kita sendiri dibandingkan cara Allah. Satu-satunya cara untuk mengobati rasa mengasihani diri sendiri adalah dengan bertobat. Kita harus berpaling dari sikap keras kepala dalam menghadapi masalah hidup dan rasa sakit kita dengan kekuatan sendiri dan menyerahkan masalah itu kepada Allah. Setelah bertobat, barulah rasa mengasihani diri sendiri itu bisa disingkirkan. "Ya Allah, ampuni aku karena aku sering bersandar pada kekuatanku sendiri dan bukannya bersandar pada-Mu bila aku sedang mengalami masalah. Aku mau bertobat dari kecenderungan yang sangat tertanam di dalam diriku ini, dan berpaling kepada-Mu untuk mendapatkan penghiburan, kesembuhan dan pembebasan. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin." Diambil dan disunting dari: Nama situs: Indo Lead Penulis: Tidak dicantumkan Alamat URL: http://sabda.org/lead/ketika_mengasihani_diri_sendiri Tanggal akses: 15 September 2010 INFO _________________________________________________________________ PEMBUKAAN KELAS NATAL NOVEMBER 2010: PENDIDIKAN ELEKTRONIK STUDI TEOLOGI AWAM (PESTA) Salah satu pelayanan YLSA adalah membuka Sekolah Teologi jarak jauh yang disebut Pendidikan Elektronik Studi Teologia Awam (PESTA). Melalui kelas-kelas diskusi di PESTA, YLSA berharap dapat menolong memperlengkapi jemaat-Nya dengan pengetahuan teologi yang memadai dengan berlandaskan pada kebenaran firman Tuhan (Alkitab) sebagai dasar iman kristiani. Pada bulan November 2010, PESTA akan membuka kelas diskusi yang membahas topik-topik seputar Natal. Kelas Natal ini akan mempelajari pokok-pokok penting seputar peristiwa Natal. Para peserta pun dapat saling mendiskusikan makna Natal yang sebenarnya dalam kehidupan orang percaya. Jika Anda tertarik untuk mengikuti kelas diskusi ini, segera daftarkan diri Anda. Untuk keterangan lebih lanjut dan pendaftaran kelas PESTA Natal, silakan kirim e-mail ke admin PESTA di alamat berikut ini. ==> kusuma(at)in-christ.net _______________________________e-KONSEL ______________________________ Apakah Anda punya masalah/perlu konseling, atau ingin mengirimkan informasi/artikel/bahan/surat/saran/pertanyaan/sumber konseling? silakan kirim ke: < konsel(at)sabda.org > atau < owner-i-kan-konsel(at)hub.xc.org > Berlangganan via email: < subscribe-i-kan-konsel(at)hub.xc.org > Berhenti berlangganan < unsubscribe-i-kan-konsel(at)hub.xc.org > ARSIP: http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel Situs C3I: http://c3i.sabda.org Facebook Konseling: http://fb.sabda.org/konsel Twitter Konseling: http://twitter.com/sabdakonsel ______________________________________________________________________ Pimpinan Redaksi: Davida Welni Dana Staf Redaksi: Tatik Wahyuningsih dan Sri Setyawati Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA Didistribusikan melalui sistem network I-KAN Copyright (c) 2010 Konsel / YLSA -- http://www.ylsa.org Katalog: http://katalog.sabda.org Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati ______________________________________________________________________
|
|
![]() |
|
© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org |