Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-konsel/149 |
|
![]() |
|
e-Konsel edisi 149 (1-12-2007)
|
|
Edisi (149) -- 01 Desember 2007 e-KONSEL ====================================================================== Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen ====================================================================== Daftar Isi: = Pengantar : Bersaksi di Tengah Rutinitas = Renungan : Betlehem di Hatiku = Cakrawala : Terlalu Gembira untuk Merenung = Kesaksian 1 : Natal, Masa untuk Menggali Kenangan = Kesaksian 2 : Bintang Masa Lampau = Tips : Buat Catatan Harian Adven = Info 1 : Kirim Ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru = Info 2 : SOTeRI ======= PENGANTAR REDAKSI ========== Memasuki Minggu Adven pertama, suasana Natal tentu sudah mulai terasa di berbagai tempat. Di gereja-gereja, liturgi khusus menyambut dan merayakan Natal pun telah dan mulai disusun. Mungkin panitia perayaan pun semakin giat mempersiapkan segala sesuatunya. Selain di gereja, suasana Natal juga bisa kita rasakan di sekitar kita. Lihat saja atribut Natal yang sudah mulai dipajang di berbagai tempat, mulai dari pusat perbelanjaan, hotel, dan rumah makan. Malah Anda sendiri mungkin tengah mempersiapkan ornamen-ornamen Natal di rumah Anda. Ciri lain yang biasa muncul di saat menjelang Natal adalah lagu-lagu Natal yang mulai membahana di berbagai tempat. Sementara kisah-kisah Natal dan kesaksian Natal mulai dituturkan dan disaksikan. Memang demikianlah nuansa Natal, yang memberikan suasana tersendiri bagi kita dalam merayakan kelahiran Yesus Kristus, Sang Juru Selamat. Kesibukan mempersiapkan Natal memang selalu menguras waktu dan tenaga kita. Tapi ingat, jangan sampai kesibukan ini hanya menjadi rutinitas yang kita lakukan menjelang natal. Cobalah renungkan kembali kasih Allah kepada kita saat mempersiapkan Natal tahun ini. Lakukan sesuatu yang juga bisa membuat orang-orang di sekitar kita merasakan kasih Allah melalui Natal kali ini, misalnya dengan menceritakan kasih Allah yang sudah Anda rasakan hingga saat ini. Jadikan kesaksian Anda ini sebagai alat untuk menyemarakkan Natal, seperti beberapa kesaksian dalam edisi kali ini. Mari terus menyaksikan kasih Allah supaya Natal kita menjadi lebih bermakna dan menjadi berkat bagi keluarga, sahabat, teman, atau siapa saja yang mendengarnya. Selamat menyiapkan Natal! Pemimpin Redaksi e-Konsel, Christiana Ratri Yuliani ========== RENUNGAN ========== BETLEHEM DI HATIKU Bacaan: Yesaya 6:1-7 "Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putra telah diberikan untuk kita; ... dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai" (Yesaya 9:5). Aku dilahirkan di Rhodes, Yunani, dalam keluarga Kristen Ortodoks Yunani. Meskipun sejak kecil aku tinggal di Argentina, aku sering berpikir tentang kakekku, seorang pendeta Gereja Ortodoks di Yunani. Kenangan yang paling berkesan bagiku adalah tentang perayaan Natal. Orang-orang Kristen Ortodoks berusaha menyucikan tubuh dan pikirannya di masa Adven. Di Yunani, kami melambangkan penyucian ini dengan mengecat putih semua tembok rumah. Masa Adven sangat istimewa dan menyimpan kenangan bagi kami. Ketika kami mengenang ini, aku mendengar lagi nyanyian para malaikat, "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi" (lihat Lukas 2:14). Kata-kata itu mengingatkan aku akan bayi Yesus yang kuasa kasih-Nya telah mengubah sejarah. Hadiah luar biasa ini memberi kita sukacita yang penuh. Yesus adalah Terang, Jalan, dan Kebenaran, serta jaminan kita akan hidup yang kekal. Pokok pikiran: Bagaimana menyiapkan hatiku untuk menyambut Kristus dalam Minggu Adven ini? Doa syafaat: Mereka yang mencari pembaruan rohani dalam masa Adven. Diambil dari: Majalah : Kalam Hidup, Edisi Desember 2003, Tahun ke-73, No.696 Penulis : Nn. Virginia Rhodas (Buenos Aires, Argentina) Penerbit: Yayasan Kalam Hidup -- Gereja Kemah Injil Indonesia, Bandung 2003 Halaman : 21 ========== CAKRAWALA ========== TERLALU GEMBIRA UNTUK MERENUNG "Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya." (Lukas 2:17-19) Natal adalah kesempatan untuk pesta, itulah yang terjadi sekarang. Rasanya Natal jadi kurang greget kalau tidak disertai dengan gemerlap lampu, pelbagai dekorasi Natal, berlimpahnya makanan, dan indahnya pakaian. Natal juga kesempatan untuk memeragakan seluruh keterampilan warga gereja. Pelbagai pertunjukkan bertemakan Natal dipersiapkan sampai berbulan-bulan. Akhirnya, terselenggaralah ibadah dan perayaan Natal yang sangat meriah, panjang, penuh atraksi, dan tentunya ... meletihkan. Dengan semua itu, Natal diharapkan menjadi kesempatan bagi orang Kristen untuk mengekspresikan segenap sukacita dan kegembiraan mereka atas kelahiran Sang Juru Selamat! Saya belum menikah, apalagi punya anak. Jadi, saya belum bisa menghayati sepenuhnya kegembiraan menantikan dan menyaksikan kelahiran seorang anak. Namun, saya yakin bahwa ketika Tuhan Yesus lahir, Bunda Maria pasti sangat gembira. Begitu juga Yusuf. Surga pun bergembira. Para malaikat memuji Allah (Luk. 2:13). Para gembala, yang termasuk masyarakat kelas bawah dalam tatanan sosial Yahudi, tentu turut bergembira ketika menerima kabar baik untuk mereka: "Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud" (ay. 11). Karena itu, tanpa menunda-nunda, mereka segera ke kota Daud untuk mencari Sang Bayi yang "dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan". Saya bayangkan, sesampai di kota kecil Betlehem, para gembala itu menyapa orang-orang yang mereka temui di sana. Mereka bertanya, "Di mana kami bisa menjumpai seorang bayi yang baru lahir dan dibaringkan di palungan?" Tentunya semangat mereka menimbulkan minat dalam hati beberapa penduduk Betlehem untuk ikut mencari Sang Bayi misterius. Akhirnya, rombongan itu menemukan apa yang mereka cari. Mereka "menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan" (ay. 16). Pasti mereka begitu gembira. Lalu dengan penuh semangat, "mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu" (ay. 17). Bayangkan "serunya" mereka bercerita tentang perjumpaan mereka dengan malaikat pembawa kabar baik di padang Efrata! Juga tentang kabar baik itu sendiri! Di sisi lain, saya melihat ekspresi yang lain dari para penduduk Betlehem yang mengikuti para gembala. Kitab Suci mencatat, "Dan semua orang yang mendengarkannya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka" (ay. 18). Ekspresi mereka adalah heran. Penginjil Lukas tidak menjelaskan lebih lanjut apa yang mereka perbuat. Cuma heran. Titik. Mari kita kembali kepada ekspresi para gembala. Setelah menjumpai bayi Yesus dan bercerita tentang apa yang mereka alami dan dengar, kembalilah mereka kepada aktivitas mereka dengan sukacita, sambil memuji dan memuliakan Allah (ay. 20). Mengapa? "Karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka" (ay. 20). Setelah itu, tokoh-tokoh ini menghilang begitu saja. Gambaran mengenai ekspresi kegembiraan para gembala hanyalah satu sisi dari gambaran kegembiraan Natal. Kegembiraan karena apa? Karena apa yang dapat didengar dan dilihat. Kalau mau ditambahkan ..., yang dapat diraba! Apakah kegembiraan Natal hanya berhenti pada peristiwa Natal itu sendiri, tanpa kelanjutan? Sekarang mari kita perhatikan ekspresi Maria. Seperti telah saya sampaikan tadi, Maria pasti bergembira atas kelahiran Putranya. Namun, mendengar apa yang dikatakan para gembala tentang Sang Bayi, ia menunjukkan ekspresi kegembiraan yang berbeda: "Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya" (ay. 19). Malam itu, Maria harus melahirkan Putranya di tempat yang sangat tidak layak -- di kandang binatang. Ia harus membaringkan Putranya di "ranjang" yang sangat kotor -- palungan. Lalu, ia dan suaminya mendapat kunjungan dari orang-orang kalangan bawah, para gembala, yang mengatakan hal-hal yang luar biasa tentang Bayi mereka. Pastilah muncul banyak tanda tanya besar di hati Maria. Mungkin, sempat ia berkata dalam hati, "Kalau Bayi ini Sang Juru Selamat, mengapa Ia harus lahir seperti ini?" Sungguh, Maria tidak mampu mencerna makna dari semua kejadian itu. Ia hanya bisa menyimpannya dalam hati, lalu merenungkannya. Dalam hal ini, Maria menunjukkan kerendahan hati seorang hamba. Dia menurut saja pada kehendak Tuhannya. Apa saja yang direnungkan sang bunda? Saya yakin ia mencoba merangkai potongan-potongan kejadian dalam perjalanan hidupnya, peristiwa demi peristiwa, mencoba memahami makna di balik semua itu, dan tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya oleh Tuhan. Saat ini, kala memperingati Natal, apakah kita hanya akan heran seperti orang-orang yang mengikuti para gembala? Atau kita hanya akan berusaha bergembira karena segala yang dapat dilihat, didengar, dan diraba pada kesempatan Natal, seperti para gembala? Atau seperti Maria, kita juga akan menerima dan menyimpan segala anugerah-Nya dalam hati kita, dan terus-menerus merenungkannya di sepanjang hidup kita? Mencoba merangkai semua hal yang telah kita alami supaya kita lebih memahami maksud Allah bagi kita dan tanggung jawab yang dipercayakan-Nya kepada kita? Semoga! Diambil dan disunting seperlunya dari: Judul buku: Harta Karun Natal: Kumpulan Paparan Inspiratif Alkitabiah tentang Natal Penulis : Satya Hedipuspita Penerbit : Mitra Pustaka dan Literatur Perkantas Jawa Barat, Bandung 2005 Halaman : 125 -- 130 ========== KESAKSIAN 1 ========== NATAL, MASA UNTUK MENGGALI KENANGAN Pada suatu musim panas, keluarga saya memberi pekerjaan kepada seorang pengembara meskipun kami menduga orang itu peminum. Pada musim gugur, ia meninggalkan kami, tetapi pada hari Natal, sebuah kartu Natal dikirim dari tempat yang ratusan mil jauhnya -- tak ada pesan yang tertulis, hanya ada tanda tangan. Lalu pada musim semi, ia datang menemui kami. "Saya sudah berhenti minum-minum," katanya. "Saya akan mendapat pekerjaan tetap." Waktu kami mengucapkan terima kasih atas kartu yang dikirimnya, ia mengatakan itu satu-satunya kartu yang dikirimnya. "Saya ingin berterima kasih melalui kartu itu, bukan karena pekerjaan yang kalian berikan, tetapi karena kalian menghargai saya. Itu membantu saya memasuki kehidupan yang baru." Kemudian ada seorang ibu di sebuah rumah sakit. Ia membawa-bawa kartu yang diterimanya dari seorang teman kami di dalam tasnya yang kecil. Dan selama masa Natal, ia akan menghentikan orang dan berkata, "Lihat kartu Natal ini. Majikan saya yang mengirimkannya. Saya tidak dilupakannya." Tidak lama sesudah itu, kami mendengar kabar bahwa kartu itu, satu-satunya kartu yang diterimanya, merupakan awal kesembuhannya. Sekarang, menjelang Natal, saya mengingat kedua kartu Natal itu. Masing-masing menggambarkan kelahiran baru pada hari Natal dan kedua-duanya mengingatkan saya bahwa Natal adalah masa yang tepat untuk menggali kenangan. Diambil dari: Judul buku : Kisah-kisah Nyata Seputar Natal Judul artikel: Natal, Masa untuk Menggali Kenangan Penulis : Reamer Kline Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung 1989 Halaman : 163 ========== KESAKSIAN 2 ========== BINTANG MASA LAMPAU Natal membangkitkan berbagai kenangan. Sebagai seorang anak laki-laki, aku masih ingat ketika aku berada di tengah-tengah kegembiraan yang tak dapat dilukiskan antara kereta api listrik, sepeda-sepeda, sarung tangan baseball, dan sepatu roda. Sebagai seorang ayah muda, aku ingat ketika mata anak-anakku yang kecil bercahaya. Mereka melihat keajaiban pada hari itu. Tetapi di antara itu semua, ada sebuah Natal yang tak dapat kulupakan. Pada Natal tahun 1945, aku bekerja sebagai tentara yang ditugaskan di daerah yang ditaklukkan, yaitu di Frankfurt, Jerman. Aku harus menjaga keamanan dan ketertiban di tempat itu. Perang telah berakhir kira-kira tujuh bulan sebelumnya dan meninggalkan puing-puing yang merupakan reruntuhan sebagian besar kota. Banyak di antara rumah-rumah yang ditinggalkan dalam keadaan utuh kemudian diambil alih untuk perumahan tentara AS. Di antara para perwira angkatan bersenjata, kami bertiga tinggal di sebuah rumah bertingkat tiga. Rumah itu cukup untuk menampung kami. Setiap hari kerja, kami pergi ke kantor dan pulang malam hari. Ketika kami pulang, tempat tidur sudah dibereskan oleh seorang wanita tua dengan sangat rapi. Rumah kami pun sudah dibersihkan olehnya. Ia berkebangsaan Jerman dan dipekerjakan oleh angkatan bersenjata AS sebagai pengurus rumah tangga untuk beberapa rumah di daerah itu. Karena ia sangat sibuk, kami hanya sesekali melihat wanita yang lemah itu. Percakapan kami terbatas karena ia tidak dapat berbahasa Inggris dan bahasa Jerman kami pun buruk. Melalui bahasa isyarat dan senyuman, kami menunjukkan kepuasan kami atas pekerjaannya. Seminggu sekali, aku pergi ke kantin tentara untuk mengambil ransum gula-gula yang berbentuk batangan, sabun, dan keperluan-keperluan tambahan. Kadang-kadang aku mengomel karena tidak ada banyak pilihan di tempat itu. Tetapi aku selalu membeli semua yang boleh kubeli. Aku menyimpan kelebihannya di dalam lemari kecilku yang dapat dikunci. Ketika Natal sudah dekat, aku sepantasnya memberi sedikit hadiah kepada pengurus rumah tangga itu. Aku memberinya beberapa barang dari kelebihan barang yang kusimpan. Aku mengisi sebuah kotak kardus yang besar dengan gula-gula yang berbentuk batangan, sabun, dan beberapa kaleng jus buah. Dalam sistem barter di antara orang-orang Jerman, hadiahku kepadanya bernilai banyak dan jumlah dolarnya pun banyak. Tetapi bagiku, harganya tak berarti. Aku tahu bahwa wanita itu tak akan bekerja pada hari Natal. Ketika aku berangkat ke kantor pada 24 Desember, aku taruh kotak hadiahku dan sebuah kartu ucapan selamat Natal di atas meja yang bisa dilihatnya. Sepanjang hari, aku merasa agak bangga bila mengingat banyaknya hadiah yang kuberikan kepadanya. Dia seperti seorang ahli waris wanita di daerahnya yang miskin. Ketika aku pulang dalam kegelapan di malam hari pada bulan Desember, aku melihat dari jendela sebuah cahaya lampu yang temaram. Rumah itu sepi. Hadiahku dan si penerima hadiah tidak kelihatan. Tetapi di bawah cahaya lampu, aku melihat ada kartu Natal dan hadiah dari wanita itu untukku. Aku tak mengharapkan hadiah, tetapi ternyata itu ada. Ia memberikan hadiah sesuai kemampuannya, dan itu diberikannya dengan semangat Natal yang sesungguhnya. Ada sepuluh lembar kartu pos bergambar yang sudah tua dan ujung-ujungnya sudah terlipat. Kartu pos itu menggambarkan kota Frankfurt, dan diletakkan di atas meja yang diterangi lampu temaram itu. Selain itu, ada selembar kertas dan tulisan rapi yang berbunyi, "Selamat Natal". Kartu-kartu ini adalah harta yang sangat berarti baginya. Kartu-kartu ini memunyai makna tersendiri di samping gambar-gambar yang memesona di dalamnya. Ia menaruh setiap kartu pada ujungnya dan menyatukannya sehingga setiap dua kartu membentuk suatu titik dan kesepuluh kartu itu membentuk sebuah bintang Natal. Aku melihat hadiah itu dan memikirkan wanita ini. Saat itu, aku dapat membayangkannya sedang berada di Frankfurt pada tahun-tahun yang lalu. Toko-tokonya terang dan penduduknya larut dalam kegembiraan. Aku dapat membayangkan gedung opera yang megah, gedung-gedung pemerintah, taman-taman, dan jembatan-jembatan di kota itu. Aku pun dapat membayangkan hari-hari penuh keceriaan sebelum semuanya diporak-porandakan oleh perang. Itu terjadi ketika kota yang dicintainya, Frankfurt, masih penuh kehidupan. Sekarang, kondisi Frankfurt amat menyedihkan dan hancur. Pengurus rumah tangga yang kecil ini pun sudah tua dan lemah. Apa yang dapat diberikan oleh seorang wanita kecil yang tua dan miskin? Ia hanya bisa memberi dari kemiskinannya dan dari hatinya. Tetapi, aku tahu bahwa ia telah memberikan sesuatu dari harta bendanya yang paling berharga. Barang itu ialah kenangan yang paling disayanginya dari kota cantik yang dicintainya. Hanya sedikit yang dapat ia berikan, tetapi hanya itulah yang dimilikinya. Lima puluh tahun kemudian, bila aku sesekali membelai gambar-gambar yang pudar pada kartu-kartu pos yang tersimpan di dalam kotak, aku diingatkan kembali pada rasa cinta dan cara memberi yang sejati pada masa Natal. Setiap tahun, kadang-kadang kami menyusun kartu-kartu itu di atas meja untuk membentuk bintang Natal seperti yang dilakukannya di Jerman malam itu. Sekali lagi, aku menyadari bahwa ada kebajikan yang jauh lebih banyak di dalam hadiahnya yang sederhana. Ini lebih daripada apa yang kuberikan kepadanya. Mudah bagiku untuk mendapatkan barang-barang yang kuberikan kepadanya. Aku mungkin bangga karena bisa memberikan semua itu untuknya. Itulah pelajaran yang diberikan kepadaku. Mukjizat sebenarnya yang memengaruhi hatiku pada malam itu adalah pengetahuan yang kuperoleh secara tiba-tiba. Bintang yang diberikan wanita itu kepadaku ternyata mewakili sebuah bintang lain yang muncul sembilan belas abad yang lalu (pada saat cerita ini ditulis -- Red). Cinta yang lahir dari bintang itu dapat mengatasi segala hambatan bahasa, ras, dan agama di seluruh dunia. Bahkan di sebuah negara dan di dunia yang tercabik-cabik oleh perang, pengaruh dan cinta Natal yang pertama itu telah membuat kami semua bersaudara. (Kesaksian dari John B. Matheson, JR., Salt Lake City, Utah) Bahan diambil dari: Judul buku : The Magic of Christmas Miracle Dituliskan oleh: Jamie C. Miller, Laura Lewis, dan Jennifer Basye Sander Penerbit : PT. Bhuana Ilmu Populer, Jakarta 2002 Halaman : 159 -- 163 ========== TIPS ========== BUAT CATATAN HARIAN ADVEN O datanglah, Immanuel, Tebus umatmu Israel Yang dalam berkeluh kesah, Menantikan Penolongnya, Bersoraklah, hai Israel, Menyambut sang Imanuel! (Kidung Jemaat 81:1) Catatan harian Adven adalah cara yang sangat baik untuk merekam perenungan, harapan, dan doa-doa Anda sepanjang masa Adven. - Mungkin Anda ingin memunyai catatan harian dari tahun ke tahun dengan hanya menulis sedikit setiap masa Adven. - Mungkin Anda ingin memunyai catatan harian hanya untuk satu tahun saja. Anda bisa menambah catatan untuk masa perayaan Natal dan Epifania untuk mendapatkan sudut pandang yang utuh sepanjang masa Natal. - Mungkin Anda ingin membuat catatan harian Adven keluarga dengan mengajak tiap anggota keluarga mengisinya. - Mungkin Anda ingin menghiasi catatan harian Anda dengan potongan dari kartu-kartu Natal kesayangan Anda. - Mungkin Anda ingin mengajak tiap anak Anda untuk membuat catatan harian Natal. Doronglah anak Anda untuk mencatat kenangan favorit mereka, daftar doa Natal mereka, bahkan mungkin surat untuk Bayi Yesus. - Mungkin Anda ingin menyisipkan benda pengingat dari musim Natal dalam catatan harian Adven Anda -- setangkai daun holly kering, daftar acara kejadian istimewa, foto, atau lukisan Natal dan lukisan musim dingin. Pribadi ------- Jaga agar catatan harian Anda bersifat pribadi. Jadikan ini sebagai cara bagi Anda untuk menyatakan diri dengan cara yang pribadi dan akrab. Gunakan catatan harian Anda sebagai cara merekam: - hasil perenungan Anda pada kisah-kisah Natal dan masa Adven; - kerinduan dan keinginan spiritual Anda; - harapan dan penantian Anda tentang apa yang akan dilakukan Kristus dalam dan melalui hidup Anda; dan - perenungan Anda akan simbol-simbol musim Natal ini. Berpusat pada Kristus --------------------- Jaga agar catatan harian Anda berpusat pada Kristus. Mungkin Anda merasa kurang setuju dengan materialisme dan komersialisme di sekeliling Anda. Mungkin Anda merasa kesepian dan kecewa pada impian dan harapan yang tidak terpenuhi, atau mungkin Anda merasa agak sedih saat mengalami hari-hari kelabu yang dingin. Nyatakan perasaan Anda dengan memikirkan apa maksud Kristus bagi Anda dalam perasaan seperti itu. Apa artinya bagi Yesus untuk lahir di tengah kandang kesunyian Anda? Apa artinya bagi Yesus untuk hadir di tengah kesibukan Natal Anda yang tidak terkendali? Catatan Anda dalam catatan harian Adven tidak perlu panjang. Mungkin hanya beberapa kata. Catatan Anda tidak perlu seperti prosa atau puisi kelas wahid. Yang penting itu adalah pernyataan yang tulus dari hati Anda. Sebenarnya memang Adven adalah masa untuk membiarkan hati Anda merasakan debar jantung Tuhan. Diambil dan disunting seperlunya dari: Judul buku: 52 Cara Sederhana Membuat Natal Menjadi Istimewa Penulis : Jan Dargatz Penerbit : Interaksara, Batam 1999 Halaman : 19 -- 21 ========== INFO 1 ========== KIRIM UCAPAN SELAMAT NATAL DAN TAHUN BARU Untuk menyambut dan memeriahkan Natal 2007 dan Tahun Baru 2008, Redaksi e-Konsel memberi kesempatan kepada para pelanggan setia dan pembaca e-Konsel untuk memberikan ucapan selamat Natal dan Tahun Baru, baik kepada sesama pelanggan atau pun pembaca e-Konsel lainnya. Kirimkan ucapan Anda melalui e-mail ke: konsel(at)sabda.org Silakan kirimkan ucapan Natal dan Tahun Baru Anda (dalam bentuk teks karena Redaksi tidak bisa menampilkan dalam bentuk gambar) sebelum 24 Desember 2007. Redaksi akan menampilkan kiriman ucapan Anda di Edisi 150 (15 Desember 2007) dan 151 (1 Januari 2008). Jadi, kirim sebanyak-banyaknya ya ..., Redaksi tunggu :) ========== INFO 2 ========== SOTeRI SOTeRI adalah singkatan dari Situs Online Teologi Reformed Injili yang merupakan pengembangan (upgrade) dari situs e-Reformed yang sudah dibangun sejak tahun 2001. SOTeRI bertujuan untuk menjadi sarana memperkenalkan sistem teologia Reformed dan kegiatan-kegiatannya kepada masyarakat Kristen Indonesia. Selain menyajikan arsip dari semua publikasi e-Reformed, situs ini juga memuat artikel-artikel teologia lain yang juga memiliki corak pengajaran teologi Reformed yang Injili. Informasi situs-situs lain yang serupa (sealiran), baik yang berbahasa Indonesia maupun berbahasa Inggris, juga dapat Anda temui di situs ini. Melalui SOTeRI ini, Anda juga bisa mendaftar untuk berlangganan publikasi e-Reformed. Selain itu, situs ini juga menyediakan fasilitas untuk mengirimkan komentar. Dengan demikian, pengunjung berinteraksi dengan mengirimkan komentar-komentar sehubungan dengan pembahasan artikel-artikel yang ada di dalamnya. Nah, fasilitas ini tentu sangat menarik karena kita semua bisa ikut terlibat menjadi bagian dari situs ini. Kami berharap kehadiran SOTeRI ini dapat menjadi berkat bagi Anda. ==> http://reformed.sabda.org/ ============================== e-KONSEL ============================== PIMPINAN REDAKSI: Christiana Ratri Yuliani PENANGGUNG JAWAB ISI dan TEKNIS Yayasan Lembaga SABDA INFRASTRUKTUR dan DISTRIBUTOR Sistem Network I-KAN Copyright(c) 2007 oleh YLSA http://ylsa.sabda.org/ http://katalog.sabda.org/ Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati ====================================================================== Anda punya masalah/perlu konseling? atau ingin mengirimkan Informasi/artikel/bahan/ sumber konseling/surat/saran/pertanyaan/dll. silakan kirim ke: konsel(at)sabda.org atau owner-i-kan-konsel(at)hub.xc.org Berlangganan: subscribe-i-kan-konsel(at)hub.xc.org Berhenti : unsubscribe-i-kan-konsel(at)hub.xc.org ARSIP : http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/ Situs C3I : http://c3i.sabda.org/ ======================================================================
|
|
![]() |
|
© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org |