Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-konsel/147 |
|
![]() |
|
e-Konsel edisi 147 (1-11-2007)
|
|
Edisi (147) -- 01 November 2007 e-KONSEL ====================================================================== Milis Publikasi Elektronik Pelayanan Konseling Kristen ====================================================================== Daftar Isi: = Pengantar : Dunia Remaja = Cakrawala : Remaja, Mencari Identitas dan Pengakuan = TELAGA : Perkembangan Remaja Putra-Putri (I) = Tips : Konseling kepada Remaja = Tanya Jawab : Berkomunikasi dengan Anak Remaja = Info : National Counseling Workshop LK3 ======= PENGANTAR REDAKSI ========== Usia remaja boleh dibilang usia yang "tanggung" atau usia transisi menuju kedewasaan. Umumnya pada masa-masa ini, anak usia remaja akan mengalami banyak persoalan, baik yang berasal dari dirinya sendiri maupun dari lingkungannya. Persoalan yang biasa dialami para remaja pada umumnya adalah masalah mencari jati dirinya untuk mendapatkan sebuah pengakuan terhadap dirinya. Ini merupakan suatu persoalan yang cukup kompleks, mengingat remaja saat ini cenderung lebih bersikap kritis terhadap dirinya. Keterlibatan orang tua dalam kondisi ini sangat diperlukan. Orang tua perlu memahami perubahan yang sedang dialami oleh si anak. Di samping itu, komunikasi dua arah antara anak dan orang tua sangat diperlukan. Perhatian dan kasih sayang serta sikap bijak dari orang tua sangat memengaruhi pembentukan karakter si anak. Untuk menolong orang tua maupun pendidik yang bergelut dengan dunia remaja, e-Konsel kali ini mengangkat berbagai sajian yang akan membawa kita memahami dunia remaja. Diharapkan dengan memahami mereka, kita dapat mendidik mereka dengan lebih baik lagi sehingga tercipta generasi yang membanggakan, dan lebih dari itu, nama Tuhan semakin dimuliakan melalui mereka. Selamat membaca! Redaksi Tamu e-Konsel, Novita Yuniarti ========== CAKRAWALA ========== REMAJA, MENCARI IDENTITAS DAN PENGAKUAN Tidak sedikit orang tua yang mengeluhkan anak remajanya susah diajak bicara dan perilakunya sukar dimengerti. Ada dua hal utama yang menjadi perhatian remaja. Pertama, identitas dan kepribadian. Sedang yang kedua, remaja membutuhkan pengakuan. 1. Identitas dan Kepribadian Penulis pernah dititipi anak remaja. Dari percakapan terbuka dengannya, penulis mendapat informasi bahwa remaja ini pernah tertarik merokok karena memerhatikan bagaimana pemuda-pemuda pengangguran di depan rumahnya begitu menikmati menghisap rokok pada pagi hari. Satu kali, seorang remaja datang ke studio foto dengan potongan rambut seperti helm tentara Romawi kuno. Kepalanya dicukur klimis, kecuali bagian tengah rambutnya, dari depan ke belakang diatur tegak lurus. Barangkali ia salah satu pengagum tentara Romawi. Anak remaja memang seperti itu. Mereka akan berusaha tampil seperti idolanya. Kalau idolanya pemain sepak bola terkenal seperti David Backham, rambutnya akan dicukur mirip potongan rambut idolanya. Bahkan, anak remaja yang suka menonton film laga seperti Wiro Sableng, sering kali kakinya bergerak seolah menendang dan tangannya bergerak seolah-olah memukul atau menangkis pukulan. Dari sini terlihat bahwa anak remaja memang sedang mencari identitas diri. Yang pasti, idolanya bukan pribadi yang cengeng dan "memble", melainkan satu tokoh yang dianggapnya keren, gagah, dan populer. Ketika anak tidak mendapatkan sesuatu yang dapat dijadikan idola dari ayah atau ibunya, mereka tidak sulit untuk mengambil tokoh idolanya dari tayangan tv, komik, atau majalah. Apakah orang tua pernah menyediakan waktu untuk berbicara secara jujur dan terbuka dengan anak remajanya sehingga mengerti benar apa yang ada di dalam pikiran dan perasaan, serta kerinduan hatinya? Tidak sedikit orang tua yang menghadapi kesulitan karena sibuk bekerja, baik di luar maupun di dalam rumah sehingga tidak tersedia cukup waktu untuk berbicara dengan anak remajanya. "Koran Tempo" pernah memuat hasil survei yang menyatakan bahwa 59% orang tua di London sulit berperan sebagaimana layaknya orang tua, seperti meluangkan waktu untuk anak (Senin, 19 Juli 2004, hlm. B1). Juga harus dibuang mitos yang dipegang kebanyakan orang tua bahwa anak kelak juga akan mendapat pengertian sendiri sesuai dengan tingkat kedewasaan umurnya. Sesungguhnya, remaja sangat membutuhkan bimbingan dan arahan untuk hidupnya. Berikan bimbingan dan pengarahan kepada remaja dengan kasih, tetapi tegas. Hindari cara memerintah dengan keras. Usahakan berbicara dengan sabar perihal hak dan tanggung jawab, pendidikan dan disiplin, juga hukum tabur-tuai. Misalnya, setiap sore ingatkan untuk menyelesaikan tugas sekolah, menyiapkan perlengkapan sekolah dan menaruh di meja belajarnya. Baru keesokan paginya diperiksa kembali sebelum dimasukkan ke dalam tas. Dengan cara itu, diharapkan tidak ada perlengkapan yang tertinggal. Demikian juga harus terus-menerus diingatkan untuk menyimpan pakaian, tas, sepatu di tempat yang disediakan agar tidak menimbulkan kesulitan ketika diperlukan. Penulis pernah menguping seorang remaja yang menelepon temannya. Ketika telepon tersambung dan di seberang sana ada yang mengangkat, ia segera bicara, "Halo, saya mau ngomong sama Nurdin." Setelah ia menelepon, penulis memberitahu, "Sebaiknya ketika telepon diangkat, katakan `selamat pagi` jika waktu itu pagi. Selanjutnya, dengarkan baik-baik suara lawan bicara. Jika nada suaranya tidak pasti apakah itu suara orang tua atau bukan, sapalah dengan sebutan `Pak` jika itu suara pria, dan `Ibu` jika itu suara wanita." Bimbingan dan arahan orang tua kepada remaja tidak hanya melulu perkara lahiriah dan berhubungan dengan sekolah maupun etika pergaulan, tetapi juga berkenaan dengan kehidupan iman yang sangat penting artinya dan sangat perlu diberikan untuk remaja dengan kasih, tetapi tegas. Ada seorang remaja diterima di salah satu SLTA. Setelah mulai bersekolah, dia mengetahui bahwa hanya dia sendiri yang beragama Kristen. Dia memilih keluar dan tidak bersekolah. Ia mengalami kecemasan karena sendirian beragama Kristen. Ada seorang lulusan SLTA diterima bekerja di salah satu instansi pemerintah. Ketika akan menjalani pendidikan prajabatan, dia memilih mengundurkan diri karena tidak ada teman lain yang beragama Kristen. Dia tidak memiliki keyakinan bahwa beragama Kristen akan memberikan jaminan rasa aman. Penulis bertanya kepada seorang remaja, "Apakah kamu dapat berdoa?" Jawabnya, "Sulit, sebab di rumah, Mama mengajar bahwa berdoa harus memakai bahasa yang sesuai dengan anak-anak, remaja, atau orang dewasa." Lalu penulis memberitahu bahwa berdoa itu tidak keluar dari pikiran, melainkan percakapan dari dalam hati kita kepada Tuhan Yesus. Alamat doa harus benar, yaitu Tuhan Yesus (Mzm. 62:8). Sangatlah strategis menanamkan kehidupan iman kepada remaja. Bahkan semestinya lebih dini lagi. Sejak kanak-kanak, mereka harusnya sudah diperkenalkan secara pribadi kepada Tuhan Yesus. Tidak perlu harus menunggu ketika mereka sudah beranjak remaja. Sejak balita, anak-anak dituntun untuk berdoa kepada Tuhan Yesus, baik pada saat bangun tidur, sebelum tidur, sebelum makan, atau sebelum berangkat ke sekolah. Dan yang penting diperhatikan, anak-anak maupun remaja akan dengan mudah mengambil teladan hidup dari iman orang tuanya sendiri. Oleh sebab itu, orang tua patut hidup dalam iman dengan sungguh-sungguh. Setiap orang tua perlu memerhatikan perkataan Tuhan Yesus, "Siapa saja yang menyebabkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku ini berbuat dosa, lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya lalu dibuang ke dalam laut" (Mrk.9:42). Betapa seriusnya Tuhan Yesus memberikan kepercayaan dan tanggung jawab kepada orang tua untuk membimbing dan mengarahkan anak kecil yang sudah dikaruniai iman kepada-Nya. Penyesatan yang menyebabkan anak berbuat dosa dapat dilakukan orang tua secara pasif atau aktif. Secara pasif, misalnya dengan cara orang tua tidak memberitahukan dan membimbing anak untuk melakukan hal yang benar; tidak memberikan teladan yang benar. Secara aktif, penulis menjumpai di suatu daerah gersang sewaktu musim palawija, anak-anak disuruh orang tuanya mencuri mentimun, terong, atau buah nangka untuk disayur. Atau anak disuruh berbohong dengan mengatakan ibunya tidak ada ketika tukang kredit datang menagih angsuran pembayaran. Pembentukan identitas dan kepribadian sedemikian penting pada masa remaja. Sehingga kelalaian dan pengabaian memberikan bimbingan dan arahan identitas hidup iman Kristen tentu akan memunyai pengaruh dan akibat yang jauh di dalam hidup remaja. Pembentukan kepribadian dapat diperoleh melalui didikan dan disiplin yang terus-menerus dengan sentuhan kasih. Didikan yang dimaksud bukanlah belajar di sekolah, melainkan didikan orang tua kepada anak sejak balita, anak-anak, dan remaja menuju dewasa. Remaja, bahkan sejak anak-anak, harus banyak mendapat didikan, pemberitahuan, informasi, nasihat, teguran, bahkan jangan dihindarkan hajaran atau disiplin bilamana diperlukan. Hajaran atau disiplin itu bisa berupa suatu hukuman tidak diberi uang saku untuk sementara waktu. 2. Remaja Butuh Pengakuan Ada orang tua yang menyebutkan anak remajanya sangat cinta teman. Hampir sepanjang hari dan malam bersama teman-temannya sehingga sangat sedikit waktu berada di rumah, kecuali untuk tidur malam saja. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Orang tua harus mampu meneropong penyebab yang mengakibatkan perilakunya demikian. Remaja mendapat tempat dan pengakuan sebagai satu pribadi, baik dalam hal mengemukakan pendapat maupun dalam mengekspresikan dirinya di antara sesama temannya. Mereka dapat dengan leluasa berbicara dengan sesamanya, dapat bercerita asyik mengenai idolanya, hobi, dan kesukaannya tanpa takut dicemoohkan atau diremehkan. Seorang remaja dengan jujur mengakui bahwa ia merasa lebih tenang dan khusyuk berdoa di gereja tetangganya daripada di gedung gereja lingkungannya sendiri di mana orang tuanya bergabung. Hal seperti ini memungkinkan terjadi di kota-kota. Janganlah hal seperti itu dipandang sebagai satu kesalahan yang perlu dicela, melainkan yang terpenting ialah bagaimana kita menyikapinya. Diambil dan diedit seperlunya dari: Judul majalah: Kalam Hidup, Edisi Januari 2005, Tahun ke-75 no. 707 Penulis : Wiharja Jian Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung 2005 Halaman : 34 -- 37 ========== TELAGA ========== PERKEMBANGAN REMAJA PUTRA-PUTRI (I) Yang disebut remaja adalah anak-anak yang berusia sekitar 11 -- 20 tahun. Masa remaja adalah masa pertumbuhan, jadi anak-anak remaja ini belum mencapai bentuk akhir dari tubuhnya. Bagi remaja pria, pada waktu-waktu tertentu suaranya akan berubah sebagai bagian dari perubahan fisik yang khas bagi pria. Yang penting hal ini dirayakan, dalam pengertian dimengerti dan disambut. Jangan sampai si anak pria ini menjadi malu karena diolok-olok oleh orang tuanya, suaramu kok jadi begini, sebentar kecil, sebentar keras, sebentar tinggi, sebentar rendah, sebentar seperti perempuan, kok tidak pecah seperti pria lainnya. Hal seperti ini sebaiknya jangan dipermasalahkan oleh orang tua. Remaja putri juga mengalami suatu perubahan yang besar ketika dia mengalami masa haidnya yang pertama. Perubahan yang paling utama dan yang pasti terjadi dalam diri remaja, baik yang putra maupun yang putri adalah terjadi perubahan hormonal. Di mana mulailah diproduksi hormon-hormon pria pada diri si anak atau remaja pria. Misalnya, hormon testosteron, akibat hormon ini remaja pria mengalami perubahan pada suaranya, juga perubahan pada bentuk tubuh dengan akan munculnya bagian-bagian tubuh yang sebelumnya tidak ada pada remaja putra. Tanda jelas lainnya adalah pada umumnya dengan adanya perubahan hormon tersebut, si remaja putra mulai mengembangkan rasa ketertarikan kepada lawan jenisnya, yaitu wanita. Dan rasa ingin dikagumi serta disukai oleh wanita ini adalah salah satu ciri yang dominan dalam perkembangan remaja putra. Sebenarnya, ini merupakan suatu masa yang unik bagi manusia yang menginjak usia remaja putri dan remaja putra. Karena menurut teori, dan memang kenyataannya kita lihat, secara fisik perempuan itu pada masa ini tinggi dan ukuran badannya bisa jauh lebih tinggi duluan daripada remaja putra. Ada perbedaan antara remaja putra dan putri dalam hal siapa yang akan disukai. Remaja putri cenderung menyukai remaja putra yang matang, lebih besar, suaranya lebih berat, serta pikirannya juga lebih matang, dia akan memiliki daya tarik yang kuat. Karena kebanyakan remaja putri menyenangi figur-figur pria yang seperti itu. Yang mungkin menjadi masalah adalah tidak semua remaja pria itu bisa bertumbuh tinggi dan juga tidak semua remaja putri itu tubuhnya langsing-langsing. Di sini peranan orang tua cukup penting. - Pertama, mereka harus peka, bahwa hal-hal yang bersifat fisik itu sangat berpengaruh dalam perkembangan jiwa remaja. - Kedua, yang kita tekankan kepadanya adalah bahwa yang akhirnya menjadi kunci keberhasilan dia diterima bukanlah bentuk tubuhnya, melainkan isi hatinya. Mazmur 119:41,42 berkata, "Kiranya kasih setia-Mu mendatangi aku, ya TUHAN, keselamatan dari pada-Mu itu sesuai dengan janji-Mu, supaya aku dapat memberi jawab kepada orang yang mencela aku, sebab aku percaya kepada firman-Mu." Konsep diri yang benar bagi anak-anak remaja itu penting sekali. Dan konsep yang benar itu berasal dari pengenalan yang benar akan siapa Tuhannya. Tuhan adalah Tuhan yang mendatangkan kita atau mendatangi kita dengan kebaikan-Nya. Tuhan yang mengasihi kita dan menciptakan kita. Jadi, konsep diri itu jangan sampai berkisar dari firman Tuhan sehingga dikatakan aku bisa memberi jawab kepada orang yang mencela aku. Pada masa remaja, saya kira banyak celaan-celaan terhadap diri sendiri, ia harus percaya pada yang firman Tuhan katakan. Sajian di atas kami ambil/edit dari isi kaset TELAGA No. T056A yang telah diringkas/disajikan dalam bentuk tulisan. Jika Anda ingin mendapatkan transkrip lengkap kaset ini lewat e-mail, silakan kirim surat ke: < owner-i-kan-konsel(at)hub.xc.org > atau: < TELAGA(at)sabda.org > atau kunjungi situs TELAGA di: ==> http://www.telaga.org/ringkasan.php?perkembangan_remaja_1.htm ========== TIPS ========== KONSELING KEPADA REMAJA Sekitar tahun 1950, pengaruh terbesar dalam kehidupan remaja adalah rumah. Selanjutnya adalah sekolah, gereja, teman sebaya, dan televisi. Sebuah survei yang diadakan tahun 1990 menunjukkan bahwa teman sebaya memunyai pengaruh terbesar dalam kehidupan remaja, berikutnya adalah musik rap, televisi, rumah, dan sekolah. Gereja bahkan tidak masuk dalam daftar itu! Selain berita ini, sebagian besar remaja (92%) ingin lebih banyak belajar tentang nilai-nilai. Tampaknya secara intuisi, anak-anak muda ini memahami bahwa masalah-masalah berat seperti kekerasan, seks bebas, ketidakhadiran orang tua, penyalahgunaan obat-obatan, dan kehamilan di usia remaja memiliki kesempatan yang lebih baik untuk diselesaikan saat nilai-nilai moral diajarkan dan dipercayai. Oleh sebab itu, pendeta yang melayani konseling untuk para remaja harus memahami bahwa remaja generasi sekarang adalah remaja yang pesimis. Banyak anak muda yang melihat bahwa warisan yang mereka terima adalah dunia yang telah terpolusi dan masyarakat sosial yang terpecah-belah secara rasial yang dibebani dengan masalah-masalah sosial. Generasi baru dari orang-orang muda ini mempertanyakan wewenang dan meremehkan kebiasaan yang telah turun-temurun. Dalam banyak hal, para remaja ini adalah orang-orang yang tak kenal lelah, memunyai keinginan yang besar untuk bertumbuh tetapi takut pada konsekuensinya. Berdialog dengan remaja ----------------------- Tidak semuanya sesuram gambaran menakutkan yang sudah dikemukakan. Berikut beberapa saran yang bisa membantu kita untuk bisa melayani para remaja itu dengan efektif. 1. Hindari berlaku seperti seorang anak remaja untuk bisa menjalin relasi dengan mereka. Ini merupakan kesalahan yang sering terjadi di berbagai tempat. Seorang konselor tidak perlu mengenakan pakaian dengan model terbaru, mendengarkan musik pop, atau menggunakan bahasa slang/gaul untuk bisa menjalin relasi dengan anak-anak muda ini. 2. Jadilah pendengar yang ahli. Dengarkan para remaja itu dengan "telinga ketiga" seperti yang dikatakan oleh Theodore Reik. Konseling yang benar kepada remaja tidak akan berjalan baik bila tanpa mendengarkan hati yang terluka -- kecemasan, kesedihan, rasa malu, kesepian, rasa tidak nyaman -- yang dialami oleh para remaja ini yang mungkin akan membosankan bila diceritakan. "... cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata ..." (Yak. 1:19). 3. Temukan inti dari masalah yang disampaikan oleh para remaja itu. Gunakan bahan-bahan pendukung, misalnya "Helping the Struggling Adolescent: A Counseling Guide" (Zondervan). Sumber-sumber seperti ini menyediakan bentuk-bentuk dan tuntunan untuk pendekatan yang lebih cepat terhadap masalah-masalah seperti depresi, rasa bersalah, kecemasan, kedukaan, penyalahgunaan obat-obatan, penyimpangan terhadap pola makan, dan masalah-masalah lain. 4. Tantanglah para remaja ini untuk membicarakan berbagai topik percakapan. Banyak remaja menempatkan situasi hidup mereka dalam bentuk yang global, seperti "semuanya payah", "tidak ada yang benar", dan "Ayah payah". Selama mereka melihat dunia dengan cara yang seperti ini, mereka tidak akan berkembang. Rajin-rajinlah melayani mereka untuk menyingkirkan pernyataan-pernyataan mereka yang tidak masuk akal. 5. Biasakan diri dengan masalah-masalah yang sering terjadi. Remaja zaman sekarang membutuhkan konselor yang tidak malu membicarakan masalah-masalah seperti masturbasi, pengunaan obat-obatan, perceraian orang tua, kematian seorang teman, kencan perkosaan, atau masalah-masalah seksual lainnya. Dengan atau tanpa bantuan, para remaja ini akan menghadapi masalah-masalah ini. 6. Mintalah bantuan komunitas dan kelompok-kelompok pendukung. Bagi mereka yang tidak memiliki pengalaman dalam melayani para remaja dengan masalah khusus, bisa mereferensikan mereka kepada orang lain yang lebih berpengalaman. Remaja yang menghadapi masalah pelecehan yang dilakukan oleh orang tua, depresi yang parah, bunuh diri, gangguan tidur, atau ketergantungan pada obat-obatan harus ditangani oleh ahli yang sudah terlatih. Pendeta tidak akan mampu menolong setiap pergumulan yang dialami oleh para remaja. Buddy Scott, penulis "Relief for Hurting Parents", mendirikan dan memimpin suatu agen/komunitas yang menolong para keluarga yang memiliki anak remaja. Kelompok pendukung yang dia dirikan, "Parenting Within Reason", merupakan sumber yang tepat bagi para orang tua dan pelayan lainnya. Sayangnya, tidak ada rumus yang universal atau sederhana untuk menyelesaikan masalah-masalah kompleks yang dihadapi oleh para remaja. Jika ingin membuat sesuatu yang berbeda dalam hidup mereka, kita perlu mempraktikkan prinsip-prinsip yang telah terbukti dalam psikologi kontemporer, tergantung pada teologi yang alkitabiah, dan meminta tuntunan Roh Kudus dalam setiap usaha kita. (t/Ratri) Diterjemahkan dari: Judul buku : Leadership Handbook of Outreach and Care Judul asli artikel: Adolescent Counseling Penulis : Les Parrot III Penerbit : BakerBooks, Michigan 1997 Halaman : 318 -- 319 ========== TANYA JAWAB ========== BERKOMUNIKASI DENGAN ANAK REMAJA Pertanyaan: ----------- Sejak anak saya memasuki usia remaja, sikapnya mulai berubah. Ia lebih sering diam di kamarnya dan tidak banyak bicara dengan kami lagi. Tetapi ia dapat menghabiskan waktu berjam-jam bercakap-cakap melalui telepon. Apakah ini gejala yang wajar atau tidak? Bagaimanakah cara menghadapinya? Jawaban: -------- Menurut Erik Erikson, pada saat anak memasuki usia remaja, dia pun memulai proses pembentukan identitas atau jati dirinya. Sebetulnya, anak sudah mulai mengumpulkan bahan-bahan untuk pembentukan jati dirinya jauh sebelum masa itu. Namun, pada masa remajalah jati diri anak mencapai bentuk yang relatif matang. (Saya katakan relatif sebab menurut hemat saya, pembentukan jati diri merupakan suatu proses yang berkesinambungan melampaui masa remaja.) Identitas diri sebenarnya adalah gambar atau pemahaman tentang siapakah kita ini. Pada waktu kita masih kanak-kanak, kita sangat bergantung pada orang tua yang mengasuh kita. Perlahan-lahan kebergantungan pada orang tua semakin berkurang seiring dengan kemampuan kita memenuhi kebutuhan pribadi kita. Pada masa remaja, praktis dapat dikatakan bahwa kita sudah dapat hidup secara mandiri, kecuali dalam aspek keuangan. Pada saat itu, barulah kita mulai bisa melihat diri kita secara lebih jelas, terpisah dari orang tua. Gambar atau pemahaman tentang siapakah kita (jati diri) mulai muncul dan kita pun semakin menyadari keinginan-keinginan dalam diri kita. Pada masa ini, kehidupan sosial anak juga sudah meluas sehingga peran orang tua mulai menciut. Orang tua yang tadinya merupakan pusat kehidupan sosial anak sekarang tersisihkan dan digantikan dengan teman-teman sebayanya. Sebelumnya anak selalu bertanya bila hendak melakukan sesuatu. Sekarang anak mulai menunjukkan keengganannya meminta pendapat, apalagi izin orang tua. Kalau dulu anak selalu menceritakan semua peristiwa yang dialaminya, sekarang anak mulai menyimpan rahasia. Nah, di sini letak kesulitannya. Acapkali orang tua menafsirkan perilaku anak ini secara negatif, seolah-olah anak merahasiakan sesuatu yang buruk. Sudah tentu adakalanya anak memang menyimpan hal-hal yang buruk. Namun, yang biasanya terjadi adalah anak bukannya merahasiakan sesuatu tetapi hanya tidak lagi merasa perlu menceritakan setiap peristiwa yang dialaminya kepada orang tua. Kecenderungan anak untuk lebih "seru" jika sedang berbincang-bincang dengan teman-temannya sebenarnya masuk akal. Bukankah kita juga pada umumnya lebih bisa "masuk" kalau berbicara dengan teman-teman sebaya kita dibanding dengan orang-orang yang 25 tahun lebih tua dari kita (jarak usia antara anak dan orang tua juga sekitar 25 tahun). Teman sebaya sudah pasti lebih memiliki kesamaan dengannya karena hidup dalam dunia yang sama. Di sinilah dituntut kesediaan orang tua untuk memelajari dunia anak remaja agar anak remaja dapat melihat bahwa orang tuanya sungguh memahami pikirannya. Ada beberapa cara yang dapat orang tua lakukan. Misalnya, kita mengajak anak pergi berduaan sehingga kita dapat berbincang-bincang dengannya seperti teman. Bercakap-cakaplah dengannya, jangan menginterogasinya. Lakukan hal ini (interogasi) pada saat dan tempat yang lain bilamana memang ada alasan yang kuat untuk mencurigai perilakunya. Jangan memarahinya karena ia memakai telepon terlalu lama. Marahilah karena ia lalai melaksanakan tanggung jawabnya akibat terlalu lama berbicara di telepon. Marahilah karena ia kurang memedulikan orang lain yang juga ingin memakai telepon, namun tidak bisa. Satu hal lagi yang penting, jangan memarahinya karena ia memakai telepon selama lima puluh menit sedangkan Saudara hanya menyisakan lima menit untuk pembicaraan per telepon. Meski ia adalah anak kita, namun kepribadiannya dapat bertolak belakang dengan kita. Mungkin ia tipe anak yang senang bergaul, sedangkan kita lebih suka menyendiri. Kita perlu menyadari dan menerima perbedaan ini dengan lapang dada, asalkan anak tidak berbuat hal-hal yang salah. Nah, saya harap jawaban ini dapat menolong Saudara sekalian yang memunyai anak remaja di rumah. Diambil dan diedit seperlunya dari: Judul buletin: Parakaleo (Edisi Okt. - Des. 1995) Penulis : Pdt. Paul Gunadi Ph.D. Penerbit : Dept. Konseling STTRII, Jakarta 1995 Halaman : 3 -- 4 ========== INFO ========== NATIONAL COUNSELING WORKSHOP LK3 Semakin banyaknya masalah yang muncul dalam pernikahan, mendorong LK3 untuk mengadakan "National Counseling Workshop". Dengan menghadirkan pembicara yang kompeten di bidangnya, LK3 mengundang Anda para suami-istri, pemimpin gereja, hamba Tuhan, praktisi, konselor, guru, pemimpin sekolah dan lembaga kristiani, profesional, dan Anda yang peduli pada masalah keluarga untuk menghadiri seminar yang dibagi dalam dua tahap ini. National Counseling Workshop 1 (NCW1) yang mengangkat tema "EVERLASTING INTIMACY: MERAYAKAN PERNIKAHAN SELAMANYA", diadakan pada: Hari, tanggal: Senin -- Rabu, 12 -- 14 November 2007 Pukul : 09.00 -- 17.00 WIB Tempat : Landmark Building Tower A Lt. 22, Jl. Jend. Sudirman, Jakarta Disusul National Counseling Workshop 2 (NCW 2) yang mengangkat tema "REMAJA: PERMASALAHAN REMAJA DAN SOLUSI TERBAIK" pada: Hari, tanggal: Kamis -- Sabtu, 15 -- 17 November 2007 Pukul : 09.00 -- 17.00 WIB Tempat : Landmark Building Tower A Lt. 22, Jl. Jend. Sudirman, Jakarta Beberapa pembicara yang hadir untuk menyajikan materi-materi menarik dalam kedua acara tersebut antara lain: 1. Pdt. Julianto Simanjuntak (Ketua LK3) 2. Dr. Andik Wijaya, M.Rep.Med (Direktur Yada Institute Medical Sexologist) 3. Anne Parapak, M.A. (Fasilitator Keluarga) 4. Puspita Zorawar, M.Psi. (Trainer Personality & Communication) 5. Pdt. Dr. Daniel Ronda (Rektor STTJ) 6. DR. Jonatan Parapak (Rektor UPH) 7. Pdt. Joshua Lie, M.Phil. (Teolog) 8. M.S.H. Lesminingtyas (Penulis dan Staf LK3) 9. KRMT Roy Suryo Notodiprojo (Pakar Telematika dan Komunikasi) Pendaftaran dan informasi lebih lanjut sehubungan dengan kedua acara ini, bisa Anda dapatkan di: 1. Gedung Mutiara Jl. Kiai Tapa 99A Grogol, Jakarta Barat Telp. 021-5608477, Fax. 021-5644129 HP. 08174844333 (Ning); 08121030564 (Duma); 081932123738 2. Landmark Building Tower A Lt. 22 Jl. Jend. Sudirman Kav. 1 Jakarta Pusat Telp. 021-7055705 -- 08151661312 3. Taman Permata Sektor 5D7/20 Lippo Karawaci, Tangerang Telp. 021-55658224 HP. 08194242369 (Frida); 08174969794 (Samurai) Email: konseling_lk3(at)cbn.net.id Web : http://www.lk3web.info/ Dapatkan diskon sebesar 20% bagi Anda yang mendaftar melalui publikasi e-Konsel. Silakan mengisi formulir berikut ini dan kirim ke: <konsel(at)sabda.org> ----------------------------potong di sini---------------------------- Formulir Pendaftaran National Counseling Workshop LK3 ---------------------------------------------------------------------- Nama : Alamat rumah : Alamat e-mail: No Telp/HP : Pekerjaan : ---------------------------------------------------------------------- ============================== e-KONSEL ============================== PIMPINAN REDAKSI: Christiana Ratri Yuliani PENANGGUNG JAWAB ISI dan TEKNIS Yayasan Lembaga SABDA INFRASTRUKTUR dan DISTRIBUTOR Sistem Network I-KAN Copyright(c) 2007 oleh YLSA http://www.sabda.org/ylsa/ http://katalog.sabda.org/ Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati ====================================================================== Anda punya masalah/perlu konseling? masalah-konsel(at)sabda.org Informasi/artikel/bahan/sumber konseling/surat/saran/pertanyaan/dll. dapat dikirimkan ke alamat: owner-i-kan-konsel(at)hub.xc.org Berlangganan: subscribe-i-kan-konsel(at)hub.xc.org Berhenti : unsubscribe-i-kan-konsel(at)hub.xc.org Sistem lyris: http://hub.xc.org/scripts/lyris.pl?enter=i-kan-konsel ARSIP : http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/ Situs C3I : http://c3i.sabda.org/ ======================================================================
|
|
![]() |
|
© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org |