Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-doa/64

e-Doa edisi 64 (11-10-2012)

Doa Meditatif 1

_________________________________e-Doa________________________________
                       (Sekolah Doa Elektronik)

BULETIN DOA -- Doa Meditatif 1
Edisi Oktober 2012, Vol.04 No.64

DAFTAR ISI
ARTIKEL DOA: DOA MEDITATIF 1
STOP PRESS: INTERNATIONAL DAY OF PRAYER FOR THE PERSECUTED CHURCH
            (IDOP)

Shalom,

Doa adalah sebuah keadaan yang di dalamnya kita dapat menemukan
keintiman dengan Bapa. Namun, ada orang percaya yang menganggap
kedekatan dengan Allah bukanlah sebuah hal yang penting, selama hidup
mereka diberkati. Dalam e-Doa 64 dan e-Doa 65, kami menyajikan artikel
yang membahas tentang doa meditatif. Seperti apakah doa meditatif itu?
Temukan jawabannya dengan membaca artikel yang telah kami persiapkan.
Tuhan Yesus memberkati.

Redaksi Tamu e-Doa,
Yosua Setyo Yudo
< http://doa.sabda.org >

                     ARTIKEL DOA: DOA MEDITATIF 1

Yesus Kristus hidup dan hadir untuk mengajar umat-Nya secara langsung.
Suara-Nya tidak sulit untuk didengar, perkataan-Nya tidak sulit untuk
dipahami, namun kita harus belajar untuk mendengar suara-Nya dan
menaati perkataan-Nya. Kemampuan untuk mendengar dan menaati-Nya
adalah hati dan roh dari meditasi Kristen. Artikel ini mencoba
memahami dasar alkitabiah, tujuan, dan langkah-langkah menuju doa
meditatif.

Dasar Alkitabiah Doa Meditatif

Dasar Alkitabiah untuk meditasi ditemukan dalam kenyataan yang luar
biasa mengenai Allah yang berbicara, mengajar, dan bertindak, yang
menjadi inti kesaksian Kitab Suci. Allah menciptakan alam semesta
dengan perintah-Nya. Di Taman Eden, Adam dan Hawa berbicara dengan
Allah, dan Allah berbicara dengan mereka -- mereka berada dalam sebuah
hubungan yang erat. Kemudian, terjadilah kejatuhan manusia dan
terjadilah perpecahan dalam hubungan erat tersebut, sebab Adam dan
Hawa bersembunyi dari Allah. Namun demikian, Allah terus mengulurkan
tangan-Nya kepada anak-anak-Nya yang memberontak. Dalam kisah
kehidupan pribadi-pribadi seperti Kain, Habel, Nuh, dan Abraham, kita
melihat Allah berbicara dan bertindak, Allah yang mengajar dan
membimbing.

Musa telah belajar mendengar suara Allah dan menaati perkataan-Nya,
meskipun dengan banyak kebimbangan dan penyimpangan yang dilakukannya.
Bahkan, Kitab Suci bersaksi bahwa Allah berbicara kepada Musa
"berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya." (Keluaran
33:11) 
Ada suatu kesan akan hubungan yang erat, suatu keakraban. Namun
demikian, sebagai sebuah bangsa, orang-orang Israel tidak siap dengan
keintiman seperti itu. Baru saja mereka belajar sedikit tentang Allah,
mereka menyadari bahwa berada di hadirat-Nya merupakan hal yang sangat
berisiko. Mereka berkata kepada Musa, "Engkaulah berbicara dengan
kami, maka kami akan mendengarkan; tetapi janganlah Allah berbicara
dengan kami, nanti kami mati." (Keluaran 20:19) Dengan cara seperti
ini, mereka dapat memiliki tanggung jawab rohani tanpa memiliki risiko
yang menyertai tanggung jawab itu. Inilah awal kemunculan para nabi
dan hakim-hakim, dan Musa adalah yang pertama. Namun demikian, hal ini
adalah sebuah kemunduran dari kedekatan Israel dengan Allah secara
langsung, kedekatan secara langsung yang ditunjukkan oleh tiang awan
di siang hari dan tiang api di malam hari.

Di bawah kepemimpinan Samuel, orang Israel berseru meminta raja. Hal
ini sangat mengganggu Samuel, namun Allah berbicara kepadanya agar
tidak putus asa, "Sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah
yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka." (1
Samuel 8:7) Di bawah kepemimpinan Musa, mereka menolak kedekatan
dengan Allah tanpa pengantara; di bawah kepemimpinan Samuel mereka
menolak pemerintahan Allah secara langsung. "Berikan kami seorang
nabi, berikan kami seorang raja, berikan kami seorang pengantara,
sehingga kami tidak harus masuk ke dalam hadirat Allah sendiri." Kita
tidak harus menyelidiki agama secara mendalam untuk melihat bahwa
agama dipenuhi dengan dogma mengenai mediator. "Berikan kami seorang
gembala, berikan kami seorang pendeta, berikan kami seseorang yang
akan melakukannya untuk kami, sehingga kami bisa menghindari keintiman
dengan Allah secara pribadi, namun tetap memperoleh keuntungannya."

Dalam kedatangan Yesus yang pertama, Ia mengajarkan realitas kerajaan
Allah dan menunjukkan kehidupan yang sebenarnya dalam kerajaan itu.
Yesus menunjukkan kepada kita kerinduan Allah akan berkumpulnya semua
orang yang saling mengasihi di dalam sebuah komunitas yang inklusif
dengan diri-Nya sendiri, sebagai penyokong utama dan penghuninya yang
paling mulia. Dia mendirikan sebuah persekutuan yang hidup, yang akan
mengenal Dia sebagai Penebus dan Raja, mendengarkan Dia dalam segala
hal, dan menaati Dia setiap waktu. Dalam hubungan-Nya yang intim
dengan Bapa, Yesus memberi teladan kepada kita mengenai realitas hidup
yang senantiasa mendengarkan dan taat itu. "Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya
sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang
dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak." (Yohanes 5:19) "Aku
tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi
sesuai dengan apa yang Aku dengar." (Yohanes 5:30) "Apa yang Aku
katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa,
yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya." (Yohanes
14:10) 
Ketika Yesus mengatakan kepada para murid-Nya untuk tinggal di
dalam Dia, mereka mengerti apa yang Ia maksudkan karena Dia tinggal
dalam Bapa. Dia menyatakan bahwa Dia adalah Gembala yang baik dan
domba-domba-Nya mengenal suara-Nya. (Yohanes 10:14) Dia mengatakan
bahwa Sang Penghibur akan datang, Roh Kebenaran, yang akan membimbing
kita kepada kebenaran. (Yohanes 16:13)

Dalam Kisah Para Rasul, Lukas menyiratkan dengan jelas bahwa setelah
kebangkitan dan pengangkatan-Nya, Yesus terus "berkarya dan mengajar",
bahkan ketika orang tidak dapat melihat-Nya dengan mata telanjang
(Kisah Para Rasul 1:1). Petrus dan Stefanus menyatakan Yesus sebagai
penggenapan nubuatan dalam Ulangan 18:15, yang berisi tentang seorang
nabi seperti Musa, yang berbicara kepada orang Israel dan yang
perkataannya harus didengar dan ditaati (Kisah Para Rasul 3:22, 7:37).
Dalam Kitab Kisah Para Rasul, kita melihat Kristus yang bangkit dan
memerintah melalui Roh Kudus, yang mengajar dan membimbing
anak-anak-Nya: memimpin Filipus pada kebudayaan-kebudayaan baru yang
belum terjangkau (Kisah Para Rasul 8), menyingkapkan kemesiasan-Nya
pada Paulus (Kisah Para Rasul 9), menegur Petrus karena kecenderungan
rasisme yang dimilikinya (Kisah Para Rasul 10), dan memandu gereja
keluar dari kungkungan lingkup kebudayaannya (Kisah para Rasul 15).

Singkatnya, semua hal di atas membentuk fondasi yang alkitabiah bagi
meditasi, dan kabar baiknya adalah Yesus tidak berhenti bekerja dan
berbicara. Dia bangkit dan bekerja dalam dunia kita. Dia tidak berdiam
diri maupun membisu. Dia hidup di antara kita sebagai Imam untuk
mengampuni kita, sebagai Nabi untuk mengajar kita, sebagai Raja untuk
memerintah kita, dan sebagai Gembala untuk membimbing kita.

Semua orang kudus di sepanjang zaman telah menyaksikan kenyataan ini.
Namun, betapa menyedihkannya orang Kristen pada masa kini, yang sangat
tidak peduli akan melimpahnya literatur tentang meditasi Kristen yang
ditulis oleh para orang percaya yang setia selama berabad-abad! Tak
hanya itu, kesaksian orang-orang kudus tersebut mengenai hidup yang
penuh sukacita karena persekutuan abadi dengan Allah, secara
mengejutkan memiliki banyak persamaan. Dari Katolik sampai Protestan,
dari Ortodoks Timur sampai Gereja Barat yang bebas, kita didorong
untuk "tinggal dalam hadirat-Nya, dalam persekutuan yang tak
terputus". Seorang mistikus Rusia, Theopan Sang Pertapa, berkata,
"Berdoa adalah turun dengan pikiran menuju hati, berdiri di hadapan
wajah Allah yang Mahahadir dan Mahamelihat di dalam Anda." Pendeta
Anglikan, Jeremy Taylor menyatakan, "Meditasi adalah lidah dari jiwa
dan bahasa dari roh kita." Seorang martir penganut Lutheran, Dietrich
Bonhoeffer, ketika ditanya mengapa ia bermeditasi, menjawab, "Karena
saya adalah seorang Kristen." Kesaksian Kitab Suci dan kesaksian para
ahli devosi yang setia ada begitu kaya, begitu hidup dengan kehadiran
Allah, sehingga bodohlah kita jika mengabaikan sebuah undangan agung
untuk mengalami hal yang disebut sebagai, dalam kata-kata Madame
Guyon, "kedalaman Yesus Kristus".

Tujuan Doa Meditatif

Dalam doa meditatif, kita sedang bertumbuh menuju apa yang Thomas à
Kempis sebut sebagai "sebuah persahabatan yang karib dengan Yesus".
Kita tenggelam dalam terang dan kehidupan Kristus, dan menjadi nyaman
dengan keadaan tersebut. Keberadaan Allah yang selalu hadir (kita
menyebutnya "omnipresence", Mahahadir) berpindah dari sebuah dogma
teologis ke dalam sebuah realitas. "Dia berjalan dengan saya dan Dia
berbicara dengan saya", tidak lagi menjadi jargon kesalehan, tetapi
justru menjadi sebuah gambaran langsung dari hidup sehari-hari.

Saya tidak sedang membicarakan tentang hubungan yang cengeng, palsu,
dan kosong. Semua sentimentalitas hambar seperti itu hanya
menyingkapkan betapa sedikitnya pengetahuan kita, betapa jauhnya kita
dari Allah yang tinggi dan ditinggikan, yang disingkapkan pada kita
dalam Kitab Suci. Yohanes mengatakan pada kita dalam Kitab Wahyu bahwa
ketika dia melihat Kristus yang bertakhta, dia tersungkur di depan
kaki-Nya seperti orang mati, seharusnya kita juga seperti itu (Wahyu
1:17). 
Saya sedang membicarakan sebuah kenyataan yang mirip dengan apa
yang dirasakan para murid di ruangan yang dipakai pada perjamuan
terakhir, ketika mereka mengalami baik persekutuan yang erat sekaligus
rasa hormat yang penuh takjub.

Dalam doa meditatif, kita menciptakan ruangan emosi dan rohani yang
memperkenankan Kristus untuk membangun sebuah tempat kudus di dalam
hati kita. Ayat mengagumkan yang berbunyi "Lihat, Aku berdiri di muka
pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan
membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan
bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku." (Wahyu
3:20), 
sebenarnya ditulis untuk orang percaya, bukan untuk orang yang
tidak percaya. Kita yang telah menyerahkan hidup kita kepada Kristus,
harus tahu betapa rindunya Dia untuk makan bersama-sama dengan kita,
bersekutu dengan kita. Dia merindukan sebuah Perjamuan Kudus abadi di
tempat kudus dalam hati kita. Doa meditatif membuka pintunya, dan
walaupun kita melakukan kegiatan meditasi mengenai hal tertentu pada
waktu tertentu pula, tujuannya adalah untuk membawa realitas yang
hidup ini ke dalam seluruh segi kehidupan kita. Meditasi adalah tempat
kudus-Nya yang dapat kita bawa ke dalam kepribadian dan seluruh
tindakan kita.

Persekutuan secara rohani semacam ini dapat menimbulkan dua hal.
Pertama, persekutuan ini mengubah kepribadian rohani kita. Kita tidak
dapat "menyalakan api abadi dalam tempat kudus-Nya di dalam hati
kita", sambil tetap hidup dalam cara yang sama karena Api Ilahi akan
membakar habis segala sesuatu yang tidak murni. Pengajar kita yang
Mahahadir akan selalu membimbing kita menuju "kebenaran, damai
sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus" (Roma 14:17). Segala sesuatu
yang tidak sesuai dengan jalan-Nya harus kita buang, agar kerinduan
dan keinginan kita menjadi semakin selaras dengan jalan-Nya, dan
segala sesuatu dalam diri kita semakin hari semakin mengarah kepada
Roh Kudus.

Kedua, meditasi membawa diri kita ke dalam dunia sehari-hari dengan
sudut pandang dan keseimbangan yang lebih luas. Sembari kita belajar
mendengarkan suara Allah, kita mendapat pegangan praktikal baru untuk
menghadapi masalah hidup sehari-hari. Menurut pengamatan William Penn,
"Kesalehan yang sejati tidak membuat orang keluar dari dunia, namun
memampukan mereka untuk hidup dengan lebih baik di dalamnya dan
mendorong mereka untuk berusaha memperbaikinya." Melalui meditasi,
kita memiliki mata yang baru untuk melihat dan telinga yang baru untuk
mendengar. Kita mengembangkan kemampuan untuk memandang sesuatu dengan
lebih jeli, sehingga kita mampu membedakan apa yang penting dan apa
yang sepele. Dengan meditasi, kita juga menemukan ketenangan,
peneguhan, dan sebuah orientasi hidup yang kokoh. Kita dapat hidup
lebih dari tuntutan sehari-hari dengan terus sujud di dalam
penyembahan dan pujian.

Menguduskan Imajinasi

Kita dapat turun dengan mudah menggunakan pikiran menuju hati melalui
imajinasi. Mungkin ada beberapa individu yang mampu bermeditasi dalam
kekosongan yang tak berbentuk, namun kebanyakan dari kita perlu lebih
bergantung pada indra kita. Kita seharusnya tidak meremehkan cara yang
lebih sederhana dan lebih rendah hati untuk masuk ke dalam hadirat
Allah ini. Yesus sendiri mengajarkannya, terus-menerus menyerukan
tentang imajinasi, dan banyak orang yang ahli dalam meditasi ini
mendorong kita untuk melakukannya. St. Teresa dari Avila berkata,
"Karena saya tidak dapat membuat perenungan dengan pengertian saya,
maka saya melakukannya dengan membayangkan bahwa Kristus ada di dalam
saya. Saya melakukan banyak hal sederhana seperti ini. Saya percaya,
jiwa saya mendapatkan banyak hal dengan cara ini karena saya mulai
berdoa tanpa mengetahui apakah doa itu." Kebanyakan dari kita dapat
mengenali kata-kata St. Teresa tersebut karena kita juga telah mencoba
sebuah cara yang hanya mengandalkan otak dan merasa bahwa hal itu
terlalu abstrak, terlalu lepas. Terlebih lagi, imajinasi menolong
untuk menetapkan pikiran dan memusatkan perhatian kita. Francis de
Sales mencatat, "... dengan berimajinasi, kita membatasi pikiran dalam
misteri apa yang kita meditasikan, sehingga tidak menyimpang ke
sana-ke mari, seperti halnya kita mengunci seekor burung dalam
kandang atau mengikat seekor elang dengan tali sehingga dia diam di
tangan."

Beberapa orang keberatan dengan penggunaan imajinasi, dengan dasar
pemikiran bahwa imajinasi merupakan sesuatu yang tidak bisa dipercaya
dan bahkan dapat digunakan oleh Si Jahat. Ada alasan yang baik untuk
pertimbangan tersebut karena imajinasi, seperti semua pancaindra kita,
telah turut serta saat kejatuhan manusia ke dalam dosa. Namun, ketika
kita percaya bahwa Allah dapat menyentuh pikiran kita (yang sudah
tercemar), menguduskannya, dan menggunakannya untuk tujuan yang baik,
Dia bisa menguduskan imajinasi kita dan menggunakannya untuk
tujuan-tujuan yang baik. Tentu saja, imajinasi bisa disimpangkan oleh
setan, demikian juga dengan pancaindra kita. Allah menciptakan kita
dengan sebuah imajinasi.

Untuk percaya bahwa Allah dapat menguduskan dan menggunakan imajinasi
adalah semudah menerima dengan serius gagasan Kristen akan inkarnasi.
Allah begitu mendukung, begitu mewujudkan Diri-Nya dalam daging di
dunia kita, sehingga Dia menggunakan imajinasi yang kita kenal dan
pahami untuk mengajar kita tentang dunia yang tidak terlihat, yang
sangat sedikit kita ketahui dan yang sulit kita pahami.

Semakin jauh kita masuk ke dalam jalan Allah -- memikirkan
pemikiran-Nya seperti Dia, menyenangkan Dia dalam kehadiran-Nya yang
agung -- kita semakin mengalami Allah dan semakin menggunakan
imajinasi kita untuk tujuan-tujuan-Nya yang baik. Jika kita
sungguh-sungguh bersukacita di dalam Dia, kita rindu menyenangkan-Nya
dan Dia akan memberikan keinginan hati kita (Mazmur 37:4). (tRento)

Diterjemahkan dari:
Judul traktat: Meditative Prayer
Penulis: Richard J Foster
Penerbit: InterVarsity Press, Illinois 1973
Halaman: 3 -- 12

              STOP PRESS: INTERNATIONAL DAY OF PRAYER FOR
                    THE PERSECUTED CHURCH (IDOP)

Pada bulan kegiatan IDOP, gereja-gereja dan umat Kristen di seluruh
dunia berdoa bersama bagi gereja Tuhan yang teraniaya. Tahun ini,
kegiatan IDOP akan dilaksanakan secara serempak pada bulan November
2012.

Kami mengajak Anda, para gembala sidang, pengajar, pemimpin, kaum
muda, pendoa syafaat, dan semua orang percaya untuk dapat bergabung
dalam acara doa bersama ini. Informasi lebih lanjut tentang acara
IDOP, bisa di lihat di < www.persecutedchurch.org >

Kontak: < doa(at)sabda.org >
Redaksi: Novita Yuniarti
Tim Editor: Davida Welni Dana, Berlian Sri Marmadi, dan
         Santi Titik Lestari
(c) 2012 -- Yayasan Lembaga SABDA
< http://www.ylsa.org >
Rekening: BCA Pasar Legi Solo;
No. 0790266579
a.n. Yulia Oeniyati
< http://blog.sabda.org/ >
< http://fb.sabda.org/doa >
Berlangganan: < subscribe-i-kan-buah-doa(at)hub.xc.org >
Berhenti: < unsubscribe-i-kan-buah-doa(at)hub.xc.org >

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org