Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-doa/56

e-Doa edisi 56 (14-6-2012)

Doa Syafaat sebagai Balok Pendobrak 1

_________________________________e-Doa________________________________
                       (Sekolah Doa Elektronik)

BULETIN DOA -- Doa Syafaat sebagai Balok Pendobrak 1
Edisi Juni 2012, Vol.04 No.56

DAFTAR ISI
ARTIKEL DOA: DOA SYAFAAT SEBAGAI BALOK PENDOBRAK 1
STOP PRESS: 40 HARI MENGASIHI BANGSA DALAM DOA

Shalom,

Doa adalah senjata yang ampuh untuk mendukung kita dalam setiap
peperangan rohani yang kita hadapi. Baik dari Alkitab maupun dari
kesaksian-kesaksian yang kita dengar, baca, atau alami, ada banyak
contoh mengagumkan yang menjadi bukti dari kuasa doa. Salah satu
contoh itu adalah pertempuran orang Israel melawan bangsa Amalek, yang
menyatakan kuasa doa Musa dari atas bukit, untuk mendukung pasukan
Israel dalam peperangan itu.

Lalu apa hubungannya dengan kita pada abad modern ini? Apakah doa
masih memiliki kuasanya? Apa fungsi doa dalam peperangan rohani yang
mengawali segala upaya penginjilan? Untuk membahas hal tersebut kami,
menyajikan dua artikel yang akan hadir berturut-turut dalam dua edisi
bulan Juni ini. Kiranya melalui artikel tersebut, kita semakin
diteguhkan dalam kehidupan doa kita. Selamat menyimak. Tuhan Yesus
memberkati.

Redaksi Tamu e-Doa,
Yosua Setyo Yudo
< http://doa.sabda.org >

          ARTIKEL DOA: DOA SYAFAAT SEBAGAI BALOK PENDOBRAK (1)

Di Belakang Layar

Alangkah istimewa hak seorang penginjil, bila ia memiliki banyak orang
yang berdoa untuk mendukung penginjilannya! Merekalah pekerja mesiu
yang menyediakan dinamit untuk pengeboman Injil terhadap neraka. Para
tokoh doa syafaat itu lebih daripada mitra doa. Mereka adalah manusia
jenis Musa. Dalam beberapa hal, kita takkan pernah dapat menjadi
seperti Musa. Ia seorang pangeran, pemberi hukum, pembina bangsa, dan
jenius. Tetapi, ia bahkan lebih besar daripada itu dan dalam hal itu,
kita dapat menjadi seperti dia. Ia seorang pendoa syafaat! Sebagai
seorang pangeran Mesir, Musa dilatih dalam peperangan dan barangkali
bahkan memerintah prajurit-prajurit. Tetapi ketika keberadaan Israel
terancam, Musa berubah menjadi pendoa syafaat. Ia membela umatnya
dengan memohon untuk mereka kepada Allah. Ia tak menaruh keyakinan
kepada kekuatannya sendiri, tetapi pergi mencari wajah-Nya.

Empat puluh tahun sebelumnya, Musa telah mengurus segala sesuatunya
sendiri, selagi mencoba melepaskan Israel. Ia memberikan pukulan
pertama untuk kemerdekaan mereka, tetapi pukulan itu gagal. Musa harus
melarikan diri. Pada akhir kariernya, ia memaksakan diri lagi dengan
suatu cara yang disebut Alkitab sebagai tidak beriman. Ketidakpuasan
orang banyak, mendorongnya untuk melakukan hal yang ekstrem. Ia
berdiri dan dengan angkuh menuntut, "Dengarlah kepadaku, hai
orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari
bukit batu ini?" (Bilangan 20:10) Kemudian Allah menyingkirkannya. Ia
telah melampaui wewenangnya dan meninggalkan rahasianya. Dunia
memunyai teknik untuk memengaruhi massa. Kerumunan besar manusia
berkumpul dalam kebaktian-kebaktian kami. Tetapi saya percaya bahwa
cara-cara yang tak layak dari psikologi massa dan tipu daya kaum
perusuh, sama sekali tak saya pedulikan. Kami memunyai cara lain yaitu
rahasia Musa -- doa syafaat. Siapakah yang dapat menyamai keberhasilan
Musa di dunia zaman dahulu atau pada masa kini? Musa melihat Allah dan
sebagai manusia ia hidup dengan penglihatan itu. Pada masa kini,
beberapa orang mungkin menganggapnya primitif. Tiga ribu tahun telah
berlalu, tetapi siapakah yang telah melampaui pengaruhnya atas umat
manusia? Dampaknya atas sejarah lebih besar daripada siapa pun kecuali
Kristus. Hasil yang sedemikian limpahnya, menggerakkan saya untuk
meninjau kembali dan mengamati pangeran dengan Allah ini.

Ambillah sebuah contoh, misalnya dari Keluaran 17:8-16, "Lalu
datanglah orang Amalek dan berperang melawan orang Israel di Rafidim.
Musa berkata kepada Yosua: `Pilihlah orang-orang bagi kita, lalu
keluarlah berperang melawan orang Amalek, besok aku akan berdiri di
puncak bukit itu dengan memegang tongkat Allah di tanganku`. Lalu
Yosua melakukan seperti yang dikatakan Musa kepadanya dan berperang
melawan orang Amalek; tetapi Musa, Harun, dan Hur telah naik ke puncak
bukit. Dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih
kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah
Amalek. Maka penatlah tangan Musa, sebab itu mereka mengambil sebuah
batu, diletakkanlah di bawahnya, supaya ia duduk di atasnya; Harun dan
Hur menopang kedua tangannya, seorang di sisi yang satu, seorang di
sisi yang lain, sehingga tangannya tidak bergerak sampai matahari
terbenam. Demikianlah Yosua mengalahkan Amalek dan rakyatnya dengan
mata pedang. Kemudian berfirmanlah Tuhan kepada Musa: `Tuliskanlah
semuanya ini dalam sebuah kitab sebagai tanda peringatan, dan
ingatkanlah ke telinga Yosua, bahwa Aku akan menghapuskan sama sekali
ingatan kepada Amalek dari kolong langit`. Lalu Musa mendirikan sebuah
mezbah dan menamainya: `Tuhanlah panji-panjiku!` Ia berkata: `Tangan
di atas panji-panji Tuhan! Tuhan berperang melawan Amalek turun-
temurun`."

Beberapa orang tidak berdoa. Mereka menamakannya suatu misteri dan
meniadakannya. Namun, mereka menggunakan cara lain yang tak dapat
dipahaminya. Mengapa Amalek menang bila tangan Musa menjadi letih
mungkin merupakan hal yang aneh. Doa bukanlah suatu urusan logika,
melainkan urusan penyingkapan. Di sepanjang sejarah, orang-orang telah
mendapati bahwa Allah menjawab doa. Tak ada gunanya untuk berbantah
dengan kenyataan yang ada. Nikmati sajalah! Contoh ini (tentang Musa
mengangkat tangannya di hadapan Allah) diperintah oleh Tuhan untuk
ditulis dalam sebuah kitab, dan dari Alkitab kita dapat memperoleh
petunjuk-petunjuk.

Mencapai Hati Allah

Pertama, doa syafaat dikerjakan di hati Musa. Malah sebenarnya, tak
ada kata-kata Musa yang dicatat dalam peristiwa ini. Doanya bukan
merupakan suatu rangkaian permohonan yang resmi dan benar, atau suatu
rumus doa yang diucapkan kata demi kata. Musa tidak mengucapkan
sepatah kata, tetapi rohnya bergumul dengan Allah dan ia
mengungkapkannya dengan mengangkat kedua tangannya. Harun dan Hur
berbagi dalam kemenangan ini dengan menopang lengannya. Hati Allah
dicapai oleh hati kita, bukan hanya sekadar oleh bunyi dari bibir
kita. Tetapi bagaimanapun juga kita harus mengungkapkan diri kita, dan
Musa sungguh-sungguh menempatkan dirinya dalam permohonannya secara
jasmani. Rasul Paulus menulis, "Oleh karena itu aku ingin, supaya di
mana-mana orang laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci."
(1 Timotius 2:8) Kesungguhan hati Musa barangkali melampaui ucapan
kata-kata belaka. Pada pasal itu juga Paulus menulis, "Pertama-tama
aku nasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur
untuk semua orang." (1 Timotius 2:1)

Sebagai Balok Pendobrak

Kedua, seorang manusia mengangkat tangannya, tetapi dua orang lain
menopangnya. Banyak yang disebutkan tentang "seorang yang berdiri di
celah" tetapi tahun-tahun berlalu dan siapakah yang dapat menunjuk
kepada orang semacam itu? Jika seseorang mengaku dirinya bahwa dialah
orangnya, dia tentunya akan dianggap unik. Orang-orang lain tentunya
harus turut dalam tindakan itu. Sebenarnya, kisah ini menunjukkan
bahwa MEREKA SEHARUSNYA TURUT BERTINDAK. Kita tak dapat membiarkan doa
dilakukan oleh seorang pria atau wanita atau kepada beberapa orang
pejuang doa. Jangan berujar, "Itu hanya sekadar sebuah kebaktian doa."
Biarlah jutaan orang berkumpul untuk menyerbu kubu dosa! Dalam
kebaktian penginjilan CfaN (Christ for all Nations -- Kristus untuk
Segala Bangsa), kami menganut asas ini. Suzette Hattingh ialah seorang
anggota penting yang merupakan kunci dari regu CfaN. Dialah yang patut
untuk mendapat pujian bagi banyak wawasan yang terdapat pada pasal
ini. Pelayanannya yang khusus, bukanlah semata-mata mencatat para
mitra doa, melainkan benar-benar menghimpun ribuan orang, memberi
petunjuk, dan menuntun mereka dalam doa syafaat sejati.

Doa syafaat bukanlah suatu kasus menyanyikan serangkaian kidung rohani
dan berdoa untuk datangnya berkat, melainkan untuk meruntuhkan
benteng-benteng setan. Para pelaku doa syafaat merupakan balok
pendobrak yang perkasa. Kita tak usah merepotkan diri dengan kata-kata
yang indah, melainkan dengan ungkapan hati. Orang-orang boleh
berlutut, duduk, berdiri, berbaring di hadapan Tuhan, atau berjalan
berkeliling, walaupun semuanya dilakukan di bawah pimpinan umum. Tak
perlu ada yang menunggu selagi gembala memohon, "Diharap seseorang
memimpin dalam doa." Sebaliknya, setiap orang berdoa bersama-sama,
tepat seperti di dalam Kisah Para Rasul. Ada kebebasan tetapi tidak
liar; kemerdekaan tetapi tidak ada pemborosan. Setiap pertemuan harus
memunyai peraturan tata tertib dan harus ditaati. Tetapi kita tidak
takut akan orang-orang yang memanggil dan berseru kepada Tuhan, bahkan
dengan air mata.

Titik Sentuh Kuasa Surgawi di Bumi

Ketiga, Amalek merasa suatu permusuhan yang diilhami iblis terhadap
Israel, dan permusuhan itu dihadapi dengan kuasa rohani dari doa.
Amalek agaknya tak memunyai alasan untuk penyerangan itu. Serangan itu
diilhami iblis dan sama sekali tak masuk akal. Hanya suatu kuasa
rohani dapat melawannya. Kita memunyai situasi yang tepat sama pada
hari ini. Para seteru Injil berjalan "menaati penguasa kerajaan
angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang
durhaka" (Efesus 2:2). Inilah roh zaman ini. Kita harus mencoba
mengatasi hal ini secara rohani, agar kuasa itu dihancurkan. Khotbah
atau pembahasan yang baik saja, takkan pernah dapat menyelesaikan
tugas itu. Kejahatan berbaring di tempat yang dalam. Usirlah dia
keluar dari liangnya dengan senjata doa dan permohonan yang selalu
menang! Masuklah ke dalam kemenangan Golgota! "Dengan Roh-Ku", firman
Tuhan. Doa syafaat bagaikan suatu penghantar kilat, titik sentuh kuasa
surgawi di bumi.

Hubungan antara Doa dan Peristiwa

Keempat, peperangan dimenangkan oleh Musa, Harun, dan Hur di puncak
gunung, bersama dengan Yosua dan prajuritnya di bawah. Arus pasang
pertempuran tiada surut dan pasang menurut strategi Yosua, melainkan
menurut doa syafaat orang-orang ini. Dari catatan, tampaknya Musa
terkadang menurunkan lengannya dengan akibat Amalek menang sampai ia
mengangkatnya kembali. Mereka yang berjuang di puncak bukit dan mereka
yang berjuang di lembah itu satu adanya. Hubungan antara doa dan
peristiwa jelas sekali diperagakan.

Di Telapak Tangannya

Kelima, Musa mengangkat tangannya. Saya menerangkan bahwa Musa tidak
mengantara seorang diri. Tetapi ada sesuatu hal lagi, sesuatu yang
berkaitan dengan kelima jari Musa. Suzette Hattingh mengatakan bahwa
pada suatu hari, ia tiba-tiba menyadari bahwa lima jabatan yang
disebut di Efesus 4 adalah bagaikan kelima jari di tangan. Setiap jari
memunyai tugasnya sendiri, tetapi bila dihubungkan dengan telapak
tangan, telapak tangan itu melambangkan Tubuh Kristus. Doa syafaat
ialah suatu fungsi tubuh, suatu tugas untuk semua orang percaya, bukan
semata-mata tugas jari-jari tangan, atau orang-orang khusus yang
diberikan Yesus kepada Gereja. Semua anggota Tubuh Kristus harus
mengantara -- inilah asas yang kami gunakan dalam kebaktian
penginjilan kami.

Cara Pelaksanaannya

Selama enam sampai delapan minggu sebelum berlangsungnya suatu
kebaktian penginjilan, Suzette melibatkan sebanyak-banyaknya anggota
Tubuh Kristus dalam doa syafaat yang sungguh-sungguh. Tak ada juara
tunggal yang berdoa sendiri, melainkan sebaliknya seluruh Gereja
memikul beban di balik serangan gencar itu. Gerbang-gerbang neraka
diserbu dan kami mengetuk pintu surga dengan permohonan. Kami
melakukan hal ini secara langsung untuk keselamatan jiwa-jiwa dan
gerakan Roh Allah. Kuatnya doa syafaat semacam itu, tidaklah mencapai
klimaks dan berakhir ketika kebaktian penginjilan itu dimulai. Doa
syafaat berlangsung terus sampai panggilan jiwa-jiwa untuk menerima
keselamatan. Ratusan, bahkan terkadang ribuan orang berdoa dan
terlibat dalam peperangan rohani selama kebaktian penginjilan
berlangsung. Tepat pada saat penginjil sedang bekerja, berkhotbah, dan
melayani, mereka yang ada di belakang layar sedang berurusan dengan
kekuatan rohani untuk turut merebut kemenangan penginjil itu. Hal itu
tepat seperti Musa berdoa untuk Yosua, selagi Yosua ada dalam
pertempuran sengit. Jika doa syafaat tak diperlukan pada saat itu,
ketika serangan gencar iblis sedang hebat-hebatnya, maka bilakah itu
diperlukan?

Dalam Keluaran 17, dua kelompok yaitu tentara Israel dan para sahabat
Musa, ada di tempat yang terpisah, namun bersama-sama mereka
memperjuangkan peperangan yang sama pada saat yang bersamaan pula.
Dalam kebaktian penginjilan kami, para pendoa syafaat juga mungkin
berada di tempat yang jauh dari kebaktian, berdoa di sebuah lapangan
yang jauh dari tempat utama atau di gedung yang lain. Tetapi para
pejuang doa ini adalah bagian yang aktif dari kebaktian penginjilan
itu sendiri, menopang sang penginjil, dan bergabung dengan tentara
surga untuk memukul mundur kuasa kegelapan. Keberhasilan siasat ini
tentu saja telah terbukti. Dengan dukungan doa syafaat ini, musuh
harus menarik diri, meninggalkan orang-orang yang belum bertobat dalam
keadaan terbuka untuk kuasa firman Allah. Ada suatu panen besar
jiwa-jiwa, suatu pengukuhan Tubuh Kristus, dan penggenapan firman
Allah. Kita semua dengan demikian menjadi mitra dengan Kristus dan
pemegang saham bersama dalam penuaian-Nya. Para pendoa syafaat kami
menahan tentara iblis sampai jiwa-jiwa aman di dalam Kerajaan Allah.
Siasat ini berasal dari Allah dan karena itu diberkati oleh-Nya.
Siasat ini memengaruhi orang Kristen pribadi, gereja-gereja, kota,
negara, dan di atas semuanya, orang yang tak beriman. Doa syafaat
membina suatu jalan raya menuju penginjilan yang memenangkan dunia.

Diambil dari:
Judul asli buku: Evangelism by Fire
Judul buku terjemahan: Penginjilan dengan Api
Judul asli artikel: Doa Perantara sebagai Balok Pendobrak
Penulis: Reinhard Bonke
Penerjemah: A.J. Syauta
Penerbit: Yayasan Pekabaran Injil "IMANUEL", Jakarta
Halaman: 303 -- 311

              STOP PRESS: 40 HARI MENGASIHI BANGSA DALAM DOA

Apakah Anda terbeban untuk menanam lutut Anda bagi bangsa-bangsa yang
belum mengenal Kristus? Kami mengajak Anda meluangkan waktu sejenak
untuk berdoa bagi saudara-saudara kita, khususnya mereka yang akan
melaksanakan ibadah puasa.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun 2012 ini kita akan kembali
bersatu hati berdoa selama bulan puasa. Jika Anda rindu untuk turut
ambil bagian berdoa bagi bangsa, kami akan mengirimkan pokok-pokok doa
dalam versi e-mail untuk menjadi pokok doa kita bersama. Untuk
berlangganan, silakan kirimkan e-mail ke:
< subscribe-i-kan-buah-doa(at)hub.xc.org >

Bagi Anda yang ingin agar teman-teman Anda pun bisa ikut berdoa dengan
memakai bahan pokok doa ini, silakan kirimkan alamat e-mail mereka ke
alamat e-mail redaksi di: < doa(at)sabda.org >

Marilah kita bersama berpuasa dan berdoa untuk Indonesia, agar tangan
Tuhan yang penuh kuasa menolong dan menggugah hati nurani para
pemimpin bangsa ini untuk bertekad dan bersatu mengeluarkan bangsa ini
dari kemelut berbagai masalah yang berkepanjangan. Selamat menjadi
"penggerak doa" di mana pun Anda berada dan biarlah karya Tuhan
terjadi di antara umat-Nya, khususnya bangsa Indonesia. Selamat
berdoa.

Kontak: < doa(at)sabda.org >
Redaksi: Novita Yuniarti
(c) 2012 -- Yayasan Lembaga SABDA
< http://www.ylsa.org >
Rekening: BCA Pasar Legi Solo;
No. 0790266579
a.n. Yulia Oeniyati
< http://blog.sabda.org/ >
< http://fb.sabda.org/doa >
Berlangganan: < subscribe-i-kan-buah-doa(at)hub.xc.org >
Berhenti: < unsubscribe-i-kan-buah-doa(at)hub.xc.org >

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org