Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-doa/11

e-Doa edisi 11 (14-1-2010)

Pertanyaan Seputar Doa 1

______________________________e-Doa___________________________________
                     (Sekolah Doa Elektronik)
______________________________________________________________________
DAFTAR ISI

EDITORIAL
ARTIKEL DOA: Pertanyaan Seputar Doa
KESAKSIAN DOA: Kuasa Doa
STOP PRESS: Baru dari YLSA: Publikasi KADOS (Kalender Doa SABDA)
______________________________________________________________________
EDITORIAL

  Shalom,

  Apakah doa itu? Mengapa kita harus berdoa? Bagaimana seharusnya saya
  berdoa? Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan beberapa pertanyaan
  dari sekian banyak pertanyaan yang sering ditanyakan orang-orang
  percaya. Ketika ada seseorang yang secara langsung menanyakan
  pertanyaan tersebut kepada kita, banyak dari antara kita tidak tahu
  bagaimana cara menjawabnya. Untuk membantu Anda dalam menghadapi
  pertanyaan-pertanyaan yang kelihatannya "mudah" tersebut, maka e-Doa
  edisi 1 dan 2 akan menyajikan artikel yang berhubungan dengan
  pertanyaan-pertanyaan seputar doa. Kunjungi juga situs DOA
  <doa.sabda.org>, untuk mendapatkan bahan-bahan seputar doa. Selamat
  menyimak, Tuhan Yesus memberkati.

  Pimpinan Redaksi e-Doa,
  Novita Yuniarti
  http://doa.sabda.org/
  http://fb.sabda.org/doa
______________________________________________________________________
ARTIKEL DOA

                         PERTANYAAN SEPUTAR DOA

  APAKAH DOA ITU?

  Doa itu percakapan dengan Allah -- berbicara dengan Dia,
  mendengarkan Dia, berada di hadirat-Nya. Percakapan dalam doa
  termasuk menceritakan segala pemikiran, perasaan, keragu-raguan,
  masalah, keluhan, harapan, dan kegembiraan Anda. Doa itu melibatkan
  juga soal pengakuan dosa, penyembahan Allah, penyerahan diri Anda
  untuk mematuhi Dia, pengucapkan terima kasih, pengajuan permohonan
  bagi Anda dan bagi orang-orang lain, dan intinya adalah penyediaan
  diri Anda bagi Allah.

  MENGAPA SAYA HARUS BERDOA?

  Jika Anda mengasihi seseorang, Anda ingin bersama-sama dengan dia;
  Anda ingin menceritakan apa yang ada di dalam pikiran Anda dan
  menikmati kehadiran orang yang Anda kasihi itu. Doa adalah cara kita
  memakai waktu untuk bercengkerama dengan kekasih kita dan menjadi
  akrab dengan Dia. "Kepunyaan kekasihku aku, kepadaku gairahnya
  tertuju." (Kidung Agung 7:10) Sebagaimana Allah itu Kekasih kita,
  terlebih dari itu Ia adalah Tuhan kita. Doa adalah salah satu cara
  untuk melatih kehendak kita untuk melayani Dia, memuja
  kebesaran-Nya, mengakui kelemahan kita, mendapatkan perspektif-Nya,
  dan berusaha mengetahui instruksi-instruksi-Nya yang spesifik. Doa
  dan pemahaman Alkitab bekerja sama untuk membenamkan kita ke dalam
  sikap, tata nilai, keinginan, cara-cara, dan sasaran-sasaran Tuhan
  kita. Jika kita ingin menaati Dia, kita perlu menyediakan waktu
  untuk bersama-sama dengan Dia.

  Akhirnya, Allah adalah Bapa kita (Roma 8:15). Allah tidak
  menciptakan robot-robot untuk melakukan kehendak-Nya dengan
  otomatis. Ia menciptakan manusia yang dapat menjadi anak-anak-Nya,
  baik laki-laki maupun perempuan. Baik kita anak-anak maupun
  orang-orang dewasa secara rohani, kita semuanya memunyai berbagai
  kebutuhan, perasaan, dan tanggung jawab. Bapa kita mengasuh dan
  mengajar kita dengan disiplin, tidak menjadi soal apakah kita
  meminta-Nya atau tidak karena Ia mengetahui kebutuhan-kebutuhan
  kita. Tetapi, sama seperti ayah duniawi manusia, Ia mau supaya
  anak-anak-Nya mengatakan kepada-Nya apa yang mereka inginkan,
  bagaimana perasaan mereka, dan bagaimana mereka menghargai Bapa
  mereka.

  APAKAH PENGUCAPAN SYUKUR, PUJIAN, DAN PENYEMBAHAN ITU?

  Alkitab tidak membuat perbedaan yang tegas antara pengucapan syukur,
  pujian, dan penyembahan, sehingga orang-orang Kristen telah
  mengembangkan aneka ragam pengertian yang banyak menolong. Berikut
  ini beberapa pengertian yang mendalam.

  Penyembahan dimulai dengan pujian. Pujian hanyalah tindakan yang
  menyatakan penghargaan atau mengakui kebaikan seseorang atau
  sesuatu. Kita memuji atlet, wanita cantik, minuman, makanan enak,
  dan sebagainya. Pujian sebagai tindakan yang menyatakan penghargaan
  atau kekaguman dapat diterapkan baik kepada barang maupun kepada
  Allah. Sebaliknya, penyembahan hanya dapat dikenakan kepada hal yang
  ilahi.

  Pujian adalah kegiatan manusia yang mengakui Allah. Penyembahan
  adalah kegiatan Allah di dalam diri kita sebagai respons terhadap
  pujian yang kita berikan. Penyembahan itu diliputi oleh keajaiban
  keakraban; Allah sendiri yang mengambil inisiatif di dalamnya. Dalam
  penyembahan, kita bergerak melampaui apa yang sedang kita lakukan
  sebagai manusia, dan kita tenggelam dalam apa yang sedang dilakukan
  Allah di dalam dan melalui kita. Pujian mempersiapkan kita untuk
  memasuki penyembahan, tidak lebih dari itu.

  Dari banyak kata Ibrani untuk "penyembahan" dalam Perjanjian Lama,
  "shachah" adalah salah satu yang umum. Artinya adalah "membungkukkan
  diri sampai ke bawah". Allah bertambah-tambah; aku berkurang-kurang.
  Aku terkagum-kagum oleh-Nya. Diriku mati, dan bersama dengan itu
  juga kehormatanku, martabatku, dan keangkuhanku (Keluaran 34:5-9,
  Yosua 5:13-15).

  Ada orang Kristen yang memandang seluruh kehidupannya sebagai suatu
  penyembahan atau kebaktian, kita "(melakukan) semuanya itu dalam
  nama Tuhan Yesus" (Kolose 3:17), dengan "mempersembahkan tubuh
  (kita) sebagai persembahan yang hidup... itu adalah ibadah (kita)
  yang sejati" (Roma 12:1). Ada lagi yang lain yang memandang
  pekerjaan dan pelayanan sebagai ibadah yang melimpah keluar dan
  merupakan sesuatu yang dipersembahkan kepada Allah dalam ibadah.
  Pujian dalam kedua pandangan itu, adalah aspek dari ibadah; di
  dalamnya kita merayakan siapa Allah itu dan apa yang telah dilakukan
  Allah.

  MENGAPA SAYA HARUS MEMUJI ALLAH? APAKAH ALLAH ITU EGOTISIK?

  1. Dengan memberi pujian, Anda terlepas dari sifat yang suka
     memusatkan segala sesuatu pada diri Anda sendiri.
     Allah menekankan pujian, pengucapan syukur, dan penyembahan
     bukan karena Ia "egotis" dan memunyai keinginan-keinginan yang
     mementingkan diri sendiri, melainkan karena Allah memerhatikan
     hal yang terbaik bagi kita. Pujian dan pengucapan syukur
     mengangkat kita naik untuk dapat mengatasi sifat kita yang suka
     memusatkan segala sesuatu pada diri kita sendiri kepada sifat
     yang suka memusatkan segala sesuatu kepada Kristus. Hal-hal itu
     akan membuat kita memusatkan hati dan pikiran kita pada Tuhan dan
     menjadikan kita makin menyerupai Kristus. Kita menipu diri kita
     sendiri jika kita melalaikannya, karena hal-hal itu bagaikan obat
     kuat yang menambahkan sukacita dan kekuatan rohani.

     (Egotis dan egotistik berbeda dari egois; egotis merupakan
     istilah filosofi yang berhubungan dekat dengan narsis dan
     narsistik dan berhubungan dengan dirinya sendiri, sementara egois
     berkenaan dengan tindakannya terhadap orang lain. Egotisme lebih
     buruk dan lebih memalukan daripada egoisme. Sifat egotistik
     berarti selalu dan secara berlebihan menyebut-nyebut dan
     menonjolkan diri sendiri dalam segala hal.)

  2. Anda akan bertumbuh dalam iman dan pengalaman akan kuasa Allah.
     Pujian dan penyembahan terhadap Allah menguatkan iman kita
     karena kita memusatkan diri kita pada apa yang kita ketahui
     sebagai kebenaran tentang Dia dan tidak memusatkan diri kita
     pada bagaimana perasaan kita tentang keadaan kita. Itu sebabnya,
     pujian dan penyembahan membuat Allah bebas untuk bertindak dengan
     kuasa. Waktu menghadapi malapetaka, Raja Yosafat memuji Allah
     sampai 6 ayat yang panjang (2 Tawarikh 20:6-11).

       "Ya Tuhan, Allah nenek moyang kami, bukankah Engkau Allah di
       dalam sorga? Bukankah Engkau memerintah atas segenap kerajaan
       bangsa? Kuasa dan keperkasaan ada di dalam tanganMu, sehingga
       tidak ada orang yang dapat bertahan melawan Engkau." (ayat 6)

     Kemudian, dalam ayat 12, Yosafat secara singkat menyatakan
     kesusahannya. Ketika jawaban Tuhan datang, Yosafat dan seluruh
     bangsa memberi respons seperti berikut.

       "Lalu berlututlah Yosafat dengan mukanya ke tanah. Seluruh
       Yehuda dan penduduk Yerusalempun sujud di hadapan TUHAN dan
       menyembah kepada-Nya. Kemudian orang Lewi ... bangkit berdiri
       untuk menyanyikan puji-pujian bagi TUHAN, Allah Israel, dengan
       suara yang sangat nyaring." (2 Tawarikh 20:18-19)

  3. Anda mengalami kehadiran Allah.
     Dalam bukunya "Reflections on the Psalms", C.S. Lewis
     menggambarkan saat-saat ketika ia bergumul dengan masalah mengapa
     pujian itu penting: "Saya tidak melihat bahwa di dalam proses
     disembah itulah Allah mengomunikasikan kehadiran-Nya kepada
     manusia. Memang itu bukanlah cara satu-satunya. Tetapi bagi
     banyak orang dalam banyak kejadian, `keindahan Tuhan`
     diperlihatkan terutama dan hanya sewaktu mereka menyembah Dia.", 4. Allah memang layak untuk dipuji dan disembah.
     Selanjutnya, kita memuji Allah karena Ia memang layak untuk
     dipuji. Kita dalam segala hal berutang kepada-Nya, sehingga kita
     ini bukan manusia jika kita tidak meluap-luap dengan rasa cinta
     dan terima kasih kepadanya.

        Aku akan memuji Engkau, ya TUHAN,
          Sebab Engkau telah menarik aku ke atas (Mazmur 30:2)

        Ya Tuhan dan Allah kami,
          Engkau layak menerima puji-pujian
          dan hormat dan kuasa,
        Sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu;
          dan oleh karena kehendak-Mu
          semuanya itu ada dan diciptakan. (Wahyu 4:11)

  5. Anda akan menikmatinya.
     Akhirnya, pujian dan penyembahan merupakan kenikmatan bagi kita.
     C.S. Lewis menulis: "Saya pikir kita senang memuji apa yang kita
     nikmati karena pujian bukan hanya mengungkapkan tetapi juga
     menyempurnakan kenikmatan itu: hal itu merupakan semacam
     kelengkapan yang sudah ditetapkan. Jika 2 orang sedang bercinta,
     mereka terus-menerus saling mengatakan betapa cantik atau
     gagahnya kekasih mereka. Itu bukan karena mereka ingin saling
     memuji, tetapi karena kesenangan itu baru sempurna bila diucapkan
     atau dinyatakan. Makin berharga objeknya, makin besar
     kesenangannya. Seandainya jiwa manusia, yang merupakan hasil
     ciptaan Allah itu, dapat secara sempurna "menghargai", artinya
     mengasihi objek yang paling berharga dibandingkan dengan segala
     sesuatu, dan bersamaan dengan itu pada setiap saat mengungkapkan
     dengan sempurna kesenangan ini, maka jiwa itu akan berada dalam
     keadaan sukacita yang luar biasa sempurna.

  Gagasan-Gagasan untuk Penerapan

  Bacalah beberapa dari Mazmur pujian dengan suara yang nyaring
  (misalnya pasal-pasal: 8, 19, 29, 30, 33, 47, 66, 100, 103 s/d 108,
  111, 113, 136, 138, 145 s/d 150), atau dari Wahyu (4:8,11, 5:9-10,
  12-13, 7:12, 11:15-18, 15:3-4, 19:1-8). Perhatikanlah bagaimana para
  penulisnya mengungkapkan berbagai perasaan mereka tentang Allah, dan
  perhatikanlah berbagai hal yang menyebabkan mereka memuji Dia.
  Kemudian, ambillah waktu untuk mengatakan kepada Allah apa yang Anda
  hargai tentang Dia. Janganlah melakukan sesuatu untuk
  membangkit-bangkitkan emosi Anda, tetapi biarlah pujian membawa Anda
  sampai pada titik pada saat Anda secara rohani (bahkan mungkin secara
  fisik juga) bertelut dan menyembah Tuhan.

  BAHAYA-BAHAYA APAKAH YANG ADA DALAM PUJIAN DAN BAGAIMANA SAYA DAPAT
  MENGHINDARINYA?

  Pemikiran atau pandangan yang keliru tentang pujian dapat
  menimbulkan berbagai masalah: Orang Kristen yang sebenarnya bukan
  Kristen, yang hanya bertopengkan senyum walaupun di dalamnya
  terdapat berbagai perasaan yang ditekan; orang Kristen yang tidak
  berserah yang melalui pujian, yang berharap dapat membuat Allah
  melakukan apa pun yang mereka inginkan; orang Kristen yang sedang
  bingung, mereka yakin bahwa Allah yang menyebabkan terjadinya
  pencobaan yang sedang mereka alami, padahal sebenarnya mereka
  sendirilah yang membuat hal itu terjadi; orang Kristen pasif yang
  menggunakan pujian untuk memecahkan masalah-masalah hidup mereka dan
  menggantikan akal budi mereka; dan orang Kristen yang pemarah, yang
  menyalahkan Allah karena tidak memberi imbalan untuk pujian-pujian
  mereka dengan kehidupan yang bebas dari kesukaran.

  Jika kita memandang pujian sebagai obat untuk semua penyakit dan
  rahasia utama untuk keberhasilan dalam kehidupan Kristen, maka kita
  cenderung untuk mengabaikan hal-hal penting lainnya -- doa untuk
  diri kita sendiri dan orang-orang lain, makan dari firman Allah
  dengan rajin, dan setiap hari taat kepada Kristus sebagai Tuhan.
  Jika kita terlalu banyak meletakkan penekanan pada aspek emosional
  dari pujian, kita menjadi kecewa bila kita sampai pada salah satu
  dari periode-periode kehidupan kita yang kering secara emosional.
  Atau, kita mematahkan semangat saudara-saudara seiman kita yang
  tulus namun yang jarang mengalami emosi-emosi yang kuat pada waktu
  mereka memuji, dan membuat mereka berpikir bahwa mereka tidak akan
  pernah bisa membina suatu kehidupan yang suka memuji secara wajar.
  Sebaliknya, jika kita takut dan menghindari emosi ketika kita
  memuji, maka kita akan kehilangan banyak kesenangan dan manfaat yang
  sebenarnya dapat kita nikmati.

  Untuk menghindari jebakan yang menjatuhkan, ingatlah akan
  prinsip-prinsip berikut ini.

  1. Hiduplah berdasarkan fakta, bukan berdasarkan perasaan.
     Perasaan mudah diombang-ambingkan oleh bermacam-macam angin,
     seperti apakah kita cukup tidur semalam, atau apa yang dikatakan
     seseorang kepada Anda sejam yang lalu; perasaan bukan sarana yang
     baik untuk mengukur kenyataan. Pusatkan perhatian Anda pada apa
     yang Anda ketahui sebagai hal yang benar tentang Allah, diri
     Anda, dan dunia ini. Ini berarti membangun pujian berdasarkan
     firman Allah, dan hidup menurut kehendak Allah dan anugerah Allah
     dan bukannya hidup menurut berbagai perasaan Anda. Pujian kepada
     Allah sering dapat mengangkat emosi Anda dan pada waktu yang
     bersamaan iman Anda dikuatkan dan Anda dibawa ke dalam hadirat
     Allah, tetapi janganlah memakai pujian sekadar untuk mendapatkan
     perasaan atau emosi yang melambung tinggi.

  2. Janganlah berpura-pura merasa bahwa Allah itu hebat kalau Anda
     sesungguhnya tidak merasa demikian.
     Anda bebas memilih untuk menyembah Allah sebagai langkah kehendak
     Anda, sambil mengakui kepada Allah dan orang-orang lain bahwa
     Anda merasa sedih, khawatir, bimbang, atau marah. Akuilah
     perasaan-perasaan Anda dengan jujur, hanya saja janganlah
     membiarkan perasaan-perasaan itu menguasai Anda.

  3. Janganlah berusaha untuk memakai pujian untuk menyogok Allah
     supaya melakukan apa yang Anda inginkan.
     Ini merupakan pujian yang bersifat menjilat dan yang dilakukan
     secara terencana, bukan pujian yang bersifat menyembah, dan hal
     ini sama saja dengan upacara magis yang bukan Kristen.

  4. Janganlah memakai pujian untuk mencari penyelesaian untuk
     berbagai masalah dalam hidup ini sebagai pengganti dari
     usaha yang seharusnya dilakukan dengan menggunakan akal budi yang
     sudah Tuhan berikan.

  MENGAPA SAYA HARUS MENGAKUI DOSA-DOSA SAYA KEPADA ALLAH? BUKANKAH
  ALLAH SUDAH MENGETAHUI SEMUANYA ITU?

  Mazmur 32:3-5, 51:1-19, dan 1 Yohanes 1:8-9 melukiskan maksud-maksud
  pengakuan seperti berikut ini.

  1. Dosa-dosa yang tersembunyi itu membusuk dan merusak serta
     menceraikan dan menghancurkan.
     Allah mengetahui dosa Anda, tetapi jika Anda belum mengakuinya
     secara terbuka, maka Anda dapat menipu diri Anda dengan
     meyakinkan diri Anda bahwa itu sebetulnya bukan dosa, dan bahwa
     Anda tidak perlu melakukan sesuatu dengan dosa itu, dan bahwa hal
     itu tidak menimbulkan sesuatu kerugian bagi Anda. Pengakuan
     adalah langkah awal menuju pertobatan, berpaling, dan
     menghentikan tindakan atau sikap yang salah itu.

  2. Pengakuan mendatangkan pengampunan.
     Jika Anda tidak merasa bersalah, darah Tuhan Yesus tidak dapat
     melakukan apa-apa bagi Anda. Jika Anda mengakui bahwa Anda
     bersalah, maka barulah Allah dapat menyucikan Anda. Kesalahan
     yang diangkat ke permukaan adalah sahabat Anda, karena hal itu
     akan memungkinkan salib berpengaruh pada situasi itu.

  3. Pengakuan mengantar Anda ke keadaan yang sesungguhnya.
     Allah menghendaki agar hubungan Anda dengan Dia didasarkan pada
     kebenaran dan kenyataan. Kata dalam bahasa Inggris yang artinya
     mengakui, dalam bahasa Latin berarti "mengatakan hal yang sama
     seperti". Setuju dengan Allah tentang apa yang benar itu berarti
     mendasarkan hubungan Anda pada kenyataan. Pengakuan membebaskan
     Anda dari belenggu-belenggu kebohongan, penipuan terhadap diri
     sendiri, dan dari khayalan, karena iblis memang menghendaki Anda
     hidup di dalam khayalan.

  4. Pengakuan memulihkan hubungan Anda dengan Allah.
     Jika Anda hidup dalam kebohongan dan tidak mau mengampuni,
     tidaklah mungkin bagi Allah untuk mendengar dan menjawab doa-doa
     Anda (Yesaya 59:1-2).

  5. Pengakuan membuat kehidupan Anda lebih menyenangkan.
     Tidak mau mengaku berarti Anda kehilangan sukacita, damai,
     penghiburan, dan pada akhirnya juga kesehatan Anda. Keadaan
     demikian akan lebih banyak merugikan diri Anda.

  BAGAIMANA CARANYA SAYA MENGAKUI DOSA SAYA?

  Mazmur 51 merupakan suatu contoh yang luar biasa tentang pengakuan.
  Kadang-kadang, Anda ingin mengakui secara spesifik dosa-dosa yang
  telah Anda perbuat, sedangkan pada waktu-waktu lain Anda hanya perlu
  mengakui kelemahan-kelemahan Anda secara umum di hadirat Tuhan.

  Suatu segi yang penting dalam pengakuan sering kali adalah sekadar
  mengatakan kepada Allah bagaimana perasaan Anda tentang berbagai
  hal. Kitab Mazmur penuh dengan apa yang dapat kita sebut "pengakuan
  negatif", di dalam pengakuan itu pemazmur mengatakan kepada Allah
  bagaimana perasaan hatinya, betapa kecewanya ia terhadap Allah, dan
  seterusnya.

    "Aku kehabisan tenaga dan remuk redam
    aku merintih karena degap-degup jantungku." (Mazmur 38:9)

  Pemazmur melakukan hal ini bukan untuk bergelimang dalam sikap
  mengasihani dirinya sendiri, tetapi untuk mengawali doanya dengan
  kejujuran. Dalam Mazmur 38 dan di bagian lain, Daud menyelingi
  keterusterangan semacam ini dengan keputusan-keputusan untuk
  memercayakan diri kepada Tuhan, walaupun hal tersebut bertentangan
  dengan perasaan-perasaannya dan dengan permohonan-permohonannya
  kepada Allah yang dipercayainya.

    "Tuhan, Engkau mengetahui segala keinginanku,
      dan keluhku pun tidak tersembunyi bagi-Mu;
    jantungku berdebar-debar, kekuatanku hilang
      dan cahaya mataku pun lenyap daripadaku
    Sahabat-sahabatku dan teman-temanku menyisih karena
      penyakitku
      dan sanak saudaraku menjauh....
    Tetapi aku seperti orang tuli, aku tidak mendengar
      seperti orang bisu yang tidak membuka mulutnya....
    Sebab kepada-Mu, ya TUHAN, aku berharap
      Engkau yang akan menjawab, ya Tuhan, Allahku....
    Ya, aku mengaku kesalahanku,
      aku cemas karena dosaku
    Jangan tinggalkan aku, ya Tuhan, Allahku
      janganlah jauh daripadaku!
    Segeralah menolong aku,
      ya Tuhan, keselamatanku!" (Mazmur 38:10-12, 14, 16, 19, 22-23)

  Mengakui perasaan-perasaannya dan sikap-sikapnya yang berdosa
  menolong Daud untuk melepaskan dosa-dosa itu dan mengambil keputusan
  untuk memercayakan diri kepada Allah. Berikut ini ada dua
  peringatan yang perlu diingat dalam pengakuan.

  1. Jangan memupuk perasaan bersalah.
     Sering kali, supaya pasti, kita perlu minta ampun untuk sesuatu
     yang jelas dan pasti. Kalau demikian tidak akan ada kesulitan
     apa-apa. Tetapi, sama seperti Anda, saya sering berada di dalam
     keadaan kurang pasti yang sulit diatasi: entah itu merupakan
     suatu perasaan berdosa yang samar-samar atau merupakan suatu
     pembenaran diri yang diam-diam dan sama samar-samarnya. Apakah
     yang harus kita lakukan bila berada di dalam keadaan yang
     demikian?

     Secara keseluruhan, saya menyimpulkan bahwa orang tidak dapat
     melakukan sesuatu secara langsung terhadap kedua perasaan semacam
     itu. Orang tidak boleh memercayai yang mana pun dari keduanya
     itu. Memang, bagaimana mungkin hal yang samar seperti kabut itu
     dapat dipercaya? Saya kembali pada ucapan Rasul Yohanes: "Jika
     kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar dari pada hati
     kita" (1 Yohanes 3:20). Dan demikian pula, jika hati kita merayu
     kita, Allah itu lebih besar daripada hati kita ....

     Jika saya benar, kesimpulannya ialah bahwa apabila suara hati
     kita tidak memojokkan kita dengan tegas melainkan hanya menuduh
     samar-samar atau membenarkan samar-samar, kita harus berkata
     kepadanya, "Diamlah, jangan banyak mulut" -- dan berjalanlah
     terus.

  2. Jangan menjadikan pengakuan itu sebagai pengganti pertobatan.
     Penyesalan yang dalam bukanlah pertobatan. Yang pertama
     merupakan perasaan dan kata-kata sedangkan yang kedua merupakan
     tindakan.

  APAKAH GUNANYA DOA PERMOHONAN JIKA ALLAH MENGETAHUI APA YANG SAYA
  BUTUHKAN LEBIH DARI SAYA SENDIRI MENGETAHUINYA?

  Permohonan dalam doa itu sebenarnya hanyalah memohon kepada Allah
  apa yang kita inginkan. Karena Allah selalu mengetahui kita secara
  sempurna, termasuk kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan kita,
  maka kita melihat seakan-akan doa permohonan itu tindakan yang
  bodoh. Namun dengan mengungkapkan keinginan-keinginan kita dengan
  sukarela, kita memperlakukan Allah sebagai pribadi, bukannya sebagai
  benda. Demikian juga kita memperlakukan Dia sebagai Bapa, Kekasih,
  Sahabat, dan bukannya sebagai suatu mesin yang Mahatahu di kejauhan
  sana yang menjalankan alam semesta ini.

  Makna permohonan (dan syafaat atau pengantara) bukanlah untuk
  mengubah pikiran Allah, sesuatu yang mendorong-Nya untuk melakukan
  sesuatu yang baik bagi kita yang tidak akan dilakukannya seandainya
  kita tidak menarik-narik lengannya. Allah tidak hidup di dalam
  kerangka waktu kita. Ia tidak dengan mendadak mengatur kembali
  segala sesuatu sehubungan dengan respons-Nya terhadap permohonan
  kita. Ia hidup di dalam kekekalan, Ia dapat melihat seluruh waktu
  dengan sekali pandang. Sejak dunia ini diciptakan, Ia melihat setiap
  doa dan masing-masing doa itu dipertimbangkan-Nya ketika ia
  merencanakan apa yang akan terjadi. Kita tidak berdoa untuk mengubah
  pemikiran Allah, melainkan (oleh karena suatu hubungan kasih yang
  penuh misteri dengan yang Mahakuasa) kita berdoa supaya permohonan
  kita dijadikan bahan pertimbangan.

  Diambil dan disunting seperlunya dari:
  Judul buku: Kompas Kehidupan Kristen
  Judul buku asli: A Compact Guide to the Christian Life
  Judul artikel: Doa
  Penulis: K. C. Hinckley
  Penerjemah: Gerrit J. Tiendas
  Penerbit: Yayasan Kalam Hidup, Bandung 1989
  Halaman: 25 -- 34
______________________________________________________________________
KESAKSIAN DOA

                            KUASA DOA

  Pada pukul 09.00, tanggal 24 Mei 1995, polisi Kuba mengejutkan
  Pendeta Orson Vila di rumahnya dan menangkapnya sebagai tahanan.
  Keesokan harinya, ribuan orang percaya memenuhi jalan di depan
  gedung-gedung pemerintahan di Camaguey, memprotes penangkapan yang
  tidak adil tersebut.

  Kejadian itu merupakan gerakan terakhir pemerintahan Castro yang
  menerapkan hukum baru untuk menutup gereja-gereja rumah di
  mana-mana. Orson, yang menggembalakan sebuah gereja rumah yang
  besar dengan jemaat sebanyak 2.500 orang, juga merupakan pengawas
  dari Wilayah Pusat Gereja Assemblies of God di Kuba.

  Selama 4 tahun sebelumnya, dalam rangka pembukaan kebebasan
  beragama, pemerintahan komunis mengizinkan perkembangan
  gereja-gereja rumah ini. Tetapi saat melihat pertumbuhan orang-orang
  percaya yang tidak dapat dihentikan, mereka mengubah cara pandang
  mereka.

  Gereja di Kuba berada dalam tahap kebangkitan rohani seperti yang
  belum pernah terjadi sebelumnya. Di wilayah Camaguey saja sekarang
  terdapat 85 gereja rumah baru! Para pemimpin pemerintahan murka dan
  menyatakan bahwa gereja-gereja rumah ini "mengancam" pemerintah
  Kuba. Mereka berusaha untuk memaksa para pemimpinnya, seperti Orson
  Vila, untuk menutup semua gereja rumah.

  Tidak ada satu pun gereja-gereja itu yang rela ditutup.

  Walau terdapat dukungan yang luar biasa dari kaum percaya, Orson
  tidak diberikan pengadilan yang adil. Pengacaranya tidak memiliki
  kesempatan untuk menyediakan pembelaan. Pada tanggal 24 Mei 1995, ia
  dijatuhi hukuman 1 tahun 9 bulan penjara.

  Pada 23 tahun yang lalu (1972, -red), Orson melepaskan karier
  medisnya untuk membaktikan dirinya sepenuh waktu guna mengabarkan
  Injil ke seluruh Kuba. Sejak saat itu, ia telah menjadi penginjil,
  pemimpin dari pemuda Kristen, dan penasihat nasional pemuda. Ia
  telah dipenjarakan dan diancam berulang kali.

  Ceritanya sampai kepada orang-orang percaya di seluruh dunia yang
  berdoa baginya, keluarganya, dan gerejanya. Pada tanggal 2 Maret
  1996, ia dibebaskan secara dini dan ditempatkan dalam tahanan rumah.

  Saat ia dibebaskan, Pendeta Orson membagikan cerita di bawah ini
  mengenai waktu-waktunya di penjara.

    "Saya amat berterima kasih untuk kuasa doa. Saya telah menerima
    kekuatan Allah dan tidak pernah sakit -- tidak ada flu, tidak ada
    penyakit kulit, tidak ada penyakit sama sekali. Dan saya memiliki
    banyak kesempatan untuk membagikan Injil kepada rekan-rekan
    tahananku."

  Diambil dan disunting seperlunya dari:
  Judul buku: Jesus Freaks
  Penyusun: Toby McKeehan dan Mark Heimermann
  Penerbit: Cipta Olah Pustaka, 1995
  Halaman: 109 -- 110
______________________________________________________________________
STOP PRESS

        BARU DARI YLSA: PUBLIKASI KADOS (KALENDER DOA SABDA)

  Puji Tuhan, satu lagi milis publikasi baru diterbitkan oleh Yayasan
  Lembaga SABDA (YLSA). Publikasi yang diberi nama KADOS
  (singkatan dari Kalender Doa SABDA) ini lahir dari kerinduan YLSA
  untuk membagikan pokok-pokok doa harian bagi para pendoa syafaat
  yang terbeban berdoa bagi Indonesia dan pelayanan YLSA. Semoga
  melalui kesatuan hati untuk berdoa ini, Tuhan akan melawat umat-Nya
  dan nama-Nya dimuliakan.

  Publikasi KADOS yang akan terbit secara mingguan, bersifat terbuka
  untuk semua denominasi gereja. Dengan menjadi pelanggan KADOS,
  maka secara otomatis Anda juga menjadi pelanggan e-Doa, Open Doors,
  dan 30 Hari Doa. Jadi, bagi pendoa-pendoa Kristen Indonesia yang
  ingin dibekali untuk menjadi pendoa yang setia dan memiliki visi,
  segera daftarkan nama Anda dan jadilah berkat.

  Kontak redaksi:
  ==> <doa(at)sabda.org>

  Untuk berlangganan, kirimkan email kosong ke:
  ==> <subscribe-i-kan-buah-doa(at)hub.xc.org>
______________________________________________________________________
Anda diizinkan menyalin/memperbanyak semua/sebagian bahan dari e-Doa
(untuk warta gereja/bahan pelayanan lain) dengan syarat: tidak untuk
tujuan komersial dan harus mencantumkan SUMBER ASLI bahan yang diambil
dan nama e-Doa sebagai penerbit elektroniknya.
______________________________________________________________________
Pimpinan Redaksi: Novita Yuniarti

Kontak Redaksi: < doa(at)sabda.org >
Berlangganan: < subscribe-i-kan-buah-doa(at)hub.xc.org >
Berhenti: < unsubscribe-i-kan-buah-doa(at)hub.xc.org >
Pertanyaan/saran/bahan: < owner-i-kan-doa(at)hub.xc.org >
Arsip e-Doa: http://www.sabda.org/publikasi/e-Doa/
Situs DOA: http://doa.sabda.org/
Facebook DOA: http://fb.sabda.org/doa/
Kunjungi Blog SABDA di http://blog.sabda.org
______________________________________________________________________
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) e-Doa 2010 / YLSA -- http://http://www.ylsa.org/
Situs SABDA Katalog: http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org