Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-doa/10

e-Doa edisi 10 (9-12-2009)

Cara Allah Menjawab Doa

______________________________e-Doa___________________________________
                     (Sekolah Doa Elektronik)
______________________________________________________________________
DAFTAR ISI

EDITORIAL
RENUNGAN NATAL: Natal Bukan Sekadar Perayaan Semata
ARTIKEL DOA: Bagaimana Allah Menjawab Doa-Doa Kita
TOKOH DOA: Salomo: Memohon Hikmat

______________________________________________________________________
EDITORIAL

  Shalom,

  Setiap manusia pasti memunyai pergumulan hidup. Dan ketika 
  diperhadapkan dengan masalah, manusia akan berupaya mencari jalan 
  keluarnya. Namun, terkadang jalan keluar yang kelihatannya baik 
  ternyata tidak membawa satu perubahan apa pun. Hal tersebut dapat 
  membuat kita putus asa dan kehilangan arah tujuan hidup. Merupakan 
  hal yang berbahaya ketika seorang manusia tidak lagi memiliki 
  harapan dan tujuan hidup.

  Namun bagi orang percaya, dalam keadaan yang tersulit sekalipun, 
  kita tidak akan sendirian karena ada satu Pribadi yang tidak pernah 
  meninggalkan kita. Dalam kelemahan dan keterbatasan, kita dapat 
  selalu datang kepada-Nya dan bergantung penuh kepada-Nya melalui 
  doa. Tuhan pun selalu punya waktu dan cara yang indah menurut 
  kehendak-Nya untuk menjawab doa-doa kita. Oleh sebab itu, janganlah 
  jemu-jemu untuk berdoa dan menantikan janji-Nya digenapi di dalam 
  hidup kita. Biarlah sajian-sajian e-Doa pada akhir tahun 2009 ini 
  membawa kita lebih berserah penuh kepada Tuhan yang selalu punya 
  berbagai cara untuk menyatakan kehendak-Nya dalam hidup kita.

  Segenap Redaksi e-Doa mengucapkan:

  Selamat Natal 2009 dan selamat menyambut tahun 2010. Kiranya hidup
  kita terus menjadi mezbah doa bagi kemuliaan Tuhan. Amin.
  
  Redaksi Tamu e-Doa,
  Desi Rianto
  http://www.sabda.org/publikasi/e-Doa/
  http://doa.sabda.org/
  http://fb.sabda.org/doa

______________________________________________________________________
RENUNGAN NATAL

                   NATAL BUKAN SEKADAR PERAYAAN

  Pada masa Natal ini, kita diajak untuk merenungkan beberapa
  pertanyaan. Natal tahun ini (2009) merupakan Natal yang keberapa
  dalam kehidupan Anda? Kalau Anda sudah menjawabnya, maka pertanyaan
  berikutnya, apa arti Natal dalam kehidupan Anda? Apakah Natal itu
  hanya sebagai sebuah sejarah Kristen yang harus dirayakan dengan
  perayaan yang megah, pohon Natal yang tinggi bertabur gemerlapan
  lampu yang indah, serta lagu-lagu Natal yang merdu?

  Memang, tidak ada salahnya merayakan Natal dengan kemegahan. Namun
  akan salah artinya jika Natal hanya sejauh itu saja. Natal
  seharusnya menjadi pengalaman yang indah bagi seseorang dalam
  kehadiran/kelahiran/kedatangan Tuhan Yesus Kristus ke dunia. Firman
  Tuhan menjelaskan ada banyak tokoh yang ada di sekitar peristiwa
  kelahiran Tuhan Yesus (kisah Natal), namun hanya ada beberapa tokoh
  yang menyaksikan Natal itu sendiri, yaitu:

  1. Gembala-Gembala

     Suatu komunitas yang tidak diperhitungkan oleh banyak orang pada
     zaman itu. Yang hanya mendengar berita kelahiran itu begitu
     singkat, namun mereka dengan segala kerinduan segera pergi untuk
     membuktikan berita yang baru saja mereka dengar. Mereka datang
     kepada Tuhan dengan segala keberadaan mereka sebagai orang-orang
     yang sederhana. Mereka datang ke kandang yang hina hanya dengan
     satu tujuan atau motivasi, yaitu berjumpa dengan Tuhan Yesus. Dan
     akhirnya mereka berjumpa dengan Maria dan Yusuf serta bayi Yesus,
     sang Putra Natal Yang Kudus, mereka mengalami Natal (Lukas 2:16).
     Perjumpaan mereka dengan Yesus membawa perubahan hidup yang luar
     biasa dalam kehidupan mereka. Firman Tuhan berkata, "Maka
     kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah
     ...." (Lukas 2:20)

  2. Orang-Orang Majus dari Timur

     Komunitas kaum terpelajar. Ahli perbintangan dari Timur (Babel)
     yang harus meninggalkan segala sesuatu dan bertanya-tanya karena
     rindu bertemu dengan Bayi Natal dengan tujuan untuk menyembah
     Dia -- Tuhan Yesus (Matius 2:2). Mereka bertemu dengan Tuhan
     Yesus lalu sujud menyembah Dia -- mereka mengalami Natal. Firman
     Tuhan berkata, "Mereka membuka tempat harta bendanya dan
     mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan, dan
     mur." (Matius 2:11)

  3. Imam-Imam Kepala dan Ahli Taurat

     Mereka adalah kaum rohaniawan yang selalu berada di Bait Allah
     (Sinagoge) dan mengetahui banyak tentang Kitab Suci. Bahkan
     mengetahui nubuatan mesianis serta kelahiran Yesus dengan baik
     dan tepat. Mereka tahu tentang kedatangan Mesias, tapi mereka
     tidak menyambut Mesias, apalagi berjumpa dengan-Nya. Matius 2:4
     berkata, "Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat
     bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana
     Mesias akan dilahirkan.", 4. Herodes

     Seorang penguasa yang terkejut, merasa teracam atas hadirnya
     Yesus Kristus di dunia. Seorang yang sangat licik dan penuh
     kepalsuan. Ia berpura-pura atau seakan-akan ingin menyembah
     Yesus, tetapi pada dasarnya ingin membunuh-Nya. Seorang yang
     memiliki penyembahan palsu yang pada dasarnya ingin menyakiti
     Tuhan. Matius 2:3, 7-8 berkata, "Ketika Raja Herodes mendengar 
     hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. Lalu dengan
     diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan
     teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu tampak.
     Kemudian ia menyuruh mereka ke Bethlehem, katanya, `pergilah dan
     selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera
     sesudah kamu menemukan Dia, kabarkan kepadaku supaya aku pun
     datang menyembah Dia.`"

  Ada dua kelompok yang berbeda yang kita lihat di kisah di atas, 
  yaitu kelompok pertama, para gembala dan orang Majus; kelompok ini 
  adalah orang-orang yang datang, mencari dan mendapatkan Tuhan, serta 
  merespons kasih Tuhan dalam kehidupannya, melalui hidup yang 
  memuliakan Allah dan menyembah serta mempersembahkan sesuatu kepada 
  Tuhan. Sedangkan kelompok yang kedua adalah para Imam dan Ahli 
  Taurat serta Herodes; kelompok ini adalah bagaikan orang Kristen 
  tradisional (kristen nenek moyang), aktif dalam setiap kegiatan 
  rohani, mengetahui keseluruhan isi Alkitab, namun tidak pernah 
  mengalami Natal (Yesus lahir di hati -- menerima kasih Allah) dalam 
  hidupnya. Hidup penuh dengan kemunafikan dan kepalsuan.

  Saat ini, Anda termasuk kelompok yang mana? Natal bukan sekadar 
  perayaan sejarah kristiani, tetapi Natal adalah pengalaman ilahi, 
  perjumpaan dengan Allah dalam Kristus Yesus, Sang Juru Selamat.

  Diambil dan disunting seperlunya dari:
  Nama majalah: Yasuma, Edisi IX, Tahun 2000
  Judul artikel asli: Natal Bukan Sekadar Perayaan Semata
  Penulis: Ev. Rafles Mandiangan, S.Th
  Penerbit: Yayasan Sumber Sejahtera, Jakarta 2000
  Halaman: 3

______________________________________________________________________
ARTIKEL DOA

                BAGAIMANA ALLAH MENJAWAB DOA-DOA KITA

  Apakah doa Anda pernah dijawab? Demikian pertanyaan yang saya ajukan 
  dalam suatu artikel di surat kabar. Saya sendiri tak berharap 
  memperoleh banyak jawaban. Namun ternyata saya memerlukan waktu 
  hampir 1 minggu untuk membaca semua jawaban itu. Saat membaca 
  surat-surat yang saya terima itu, saya terkesan akan kenyataan bahwa 
  Tuhan tak mengenal pilih kasih terhadap manusia.

  Beberapa jawaban datang dari pengusaha-pengusaha ternama yang
  ditulis di atas surat berkop mewah. Sebagian lagi ditulis di atas
  kertas surat yang amat sederhana dan ditulis dengan pensil. Beberapa
  dari surat itu kelihatannya ditulis oleh orang-orang terpelajar,
  sedangkan yang lain datang dari orang-orang yang dengan susah payah
  mengutarakan isi hatinya.

  Beberapa surat mengungkapkan bahwa penulisnya adalah orang yang
  hidupnya dekat dengan Tuhan, sedangkan penulis yang lain
  menceritakan betapa besar dosa mereka dan betapa malunya mereka akan
  hidupnya. Tapi dalam doa, kita semua berdiri sama tinggi dan duduk
  sama rendah, setiap orang memunyai hak untuk berhubungan dengan
  Tuhan. Yang terpelajar maupun tak terpelajar, yang kaya dan yang
  miskin, yang saleh maupun orang berdosa, semuanya datang memohon
  pertolongan kepada Tuhan, dan bilamana mereka berdoa serta memohon
  sesuatu kepada Tuhan, maka Ia akan menjawab. Seperti kata Tuhan
  Yesus, "Karena setiap orang yang meminta, menerima, ...."

  Saya juga terkesan dengan ketulusan mereka yang menulis kepada saya. 
  Dalam meremehkan doa, beberapa orang menganggap bahwa apa yang 
  dikatakan jawaban doa itu sebenarnya hanya merupakan kebetulan saja, 
  bahwa berdoa atau tidak sebenarnya sama saja. Akan tetapi, banyak 
  sekali orang yang percaya bahwa doalah yang membuat perbedaan itu. 
  Dan sungguh berat untuk berdebat dengan seseorang yang telah berdoa 
  dan telah mendapatkan jawaban atas doanya itu.

  Dalam beberapa hal, jawaban datang berupa pemberitahuan Tuhan kepada 
  orang yang berdoa itu tentang segala sesuatu yang harus dilakukan. 
  Seorang penulis mengatakan, "Sebenarnya aku ingin berbuat sesuatu 
  untuk sekolah Chinzei Gakui di Nagasaki, Jepang. Banyak di antara 
  guru-guru dan murid yang telah mati akibat meledaknya bom atom. Tapi 
  aku tak memiliki uang. Aku telah berdoa kepada Allah agar ia 
  menunjukkan kepadaku apa yang harus aku lakukan. Beberapa hari 
  kemudian, aku membaca sebuah artikel di Wesley Christian Advocate. 
  Dalam artikel itu dikatakan bahwa sekolah itu memerlukan majalah 
  National Geographic. Ayahku berlangganan majalah itu dan aku
  memiliki banyak terbitan lama. Aku sangat senang dapat memberikan 
  majalah-majalah tua itu kepada sekolah itu. Inilah jawaban doaku. 
  Kepala sekolahnya, yaitu Pendeta Taneo Chiba, kelihatan sangat 
  berterima kasih atas pengiriman majalah tersebut."

  Seorang wanita berumur 82 tahun menceritakan bahwa setelah menjalani 
  pembedahan, ia diberitahu bahwa ia tidak akan dapat berjalan lagi. 
  Dia menulis, "Esok harinya aku berkata kepada perawat bahwa aku 
  ingin berdiri dan jika aku jatuh, saya yakin Tuhan akan memegangku. 
  Juru rawat itu berkata bahwa aku tidak boleh berbuat demikian, tapi 
  aku berkata kepadanya agar jangan menghalangiku, lalu aku berjalan 
  dan aku tetap berjalan selama 5 tahun ini. Puji Tuhan sumber segala 
  berkat." Hal ini mengingatkanku akan Tuhan Yesus yang berkata 
  kepada orang lumpuh, "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah" 
  (Yohanes 5:8). Sebenarnya banyak orang dapat berjalan dengan 
  berbagai cara, asalkan mereka memiliki cukup iman dan semangat 
  seperti wanita itu. Ia yakin bahwa doa dapat memberikan apa yang ia 
  butuhkan.

  Dalam menanggapi doa-doa manusia, Tuhan sering bekerja melalui orang 
  lain. Seseorang menulis, "Seorang istri pendeta yang tinggal dekat 
  rumahku sering menolong seorang anak perempuan tetangganya. Orang 
  tua anak itu memang membutuhkan pakaian yang lebih baik. Aku 
  mengatakan kepada istri pendeta itu bahwa aku ingin mempersembahkan 
  sedikit uang untuk dibelikan sesuatu untuk anak itu. Istri pendeta 
  itu hampir menangis karena terharu. Ia berkata bahwa pagi itu, 
  sebelum berangkat ke gereja, ia telah berdoa agar ada orang yang mau 
  menolong membelikan pakaian anak itu. Beberapa wanita lain yang 
  mendengar percakapan itu juga ingin memberi dan kini anak perempuan 
  itu telah mendapatkan apa yang dibutuhkannya." Apakah kita mengira 
  bahwa Tuhan telah menggerakkan hati wanita-wanita itu sehingga 
  mereka memunyai keinginan untuk memberi pakaian kepada anak itu? 
  Wanita yang telah memberi dan istri pendeta yang telah mendoakannya 
  percaya bahwa hal itu adalah berkat doa. Ya, saya pun percaya.

  Selama bertahun-tahun, saya membaca banyak tentang telepati mental,
  pemindahan pikiran, dan lainnya. Di antara jawaban-jawaban doa,
  banyak yang bisa digolongkan dalam kategori itu. Sebagai contoh,
  pada saat-saat tertentu, saya memprihatinkan anak saya yang bertugas
  dalam Perang Dunia II. Bila perasaan itu datang, saya segera
  berlutut dan memohon kepada Allah kiranya Ia ingin dekat sekali
  dengan anak saya. Pada suatu malam, saya menulis surat kepadanya dan
  bertanya apakah ia pernah merasa sedih dan kecil hati, dan dia
  menjawab bahwa ia memang merasa begitu, tapi kemudian ia merasa
  hatinya menjadi ringan dan ada perasaan damai dalam hatinya. Lalu
  saya tahu bahwa Allah telah menjawab doa saya.

  Seorang ibu lain menulis sebagai berikut: "Salah seorang putraku 
  jatuh sakit beberapa waktu lamanya, ia tidak memberi kabar sedikit 
  pun tentang keadaannya kepadaku. Aku merasa amat bingung, akhirnya 
  aku tak dapat bertahan lebih lama lagi. Karena aku tak mengetahui 
  nomor teleponnya, aku bertelut di hadapan Tuhan dan mohon agar 
  anakku mau menulis surat kepadaku sehingga aku dapat mengetahui 
  keadaannya yang sebenarnya. Pada saat itulah telepon berdering. 
  Ternyata anakku yang sakit itu meneleponku, Ia berkata "Mama, malam 
  ini saya terus-menerus memikirkan engkau, maka saya meneleponmu." 
  Tuhan mendengar doaku dan menjawab. Apakah anak itu kebetulan saja 
  menelepon ibunya ataukah ada suatu kuasa yang lebih tinggi yang 
  mendorongnya?

  Apakah Tuhan memimpin kita secara langsung dalam mengambil keputusan
  tertentu? Seseorang menulis, "Aku sedang menghadapi sebuah
  persoalan. Ada sesuatu yang tak ingin aku lakukan. Namun aku ingin
  melakukan kehendak Tuhan. Aku lalu pergi ke ruang duduk dan bertelut
  untuk mohon kepada Tuhan agar aku diberitahu dengan jelas apakah aku
  harus melakukannya atau tidak. Kelihatannya aku tak mendapat
  jawaban, maka aku berdiri dan meninggalkan ruangan. Pada saat aku
  memegang knop pintu, jelas sekali aku mendengar suara yang berkata,
  "Lakukanlah, lakukanlah!" Pada saat itu bebanku telah diangkat dan
  melakukan perkara itu terasa mudah sekali karena aku tahu Tuhan
  menghendaki aku berbuat demikian."

  Tentang jawaban-jawaban doa ini, seseorang yang lain menulis, "Kita
  ingat bagaimana cerita di dalam Alkitab tentang Nabi Elia dan Samuel
  yang masih kecil, bagaimana Tuhan berbicara kepada anak itu dan
  mengatakan apa yang harus ia lakukan. Nah, aku percaya bahwa jika
  Tuhan telah berbicara kepada Samuel yang kecil itu, pasti Ia juga
  akan berbicara kepadaku. Kami pergi ke Miami untuk tinggal di sana.
  Seseorang menawarkan untuk memiliki sebuah flat bersama-sama.
  Kelihatannya ini memang suatu kesempatan baik. Ibu, suami, serta
  saudaraku berpendapat bahwa ini merupakan pembelian yang akan
  menguntungkan dan mereka mendesakku supaya menyetujuinya. Aku
  mengambil keputusan untuk berdoa, menanti suara Tuhan. Lalu kudengar
  suara Tuhan yang meminta aku tidak membeli flat itu. Kemudian,
  mereka yang telah membeli dan menanam uangnya di flat itu ternyata
  kehilangan segalanya. Bagi beberapa orang, cerita ini mungkin tak
  masuk akal. Namun aku sendiri mengenal banyak orang yang berhasil
  dalam bidang bisnis, mereka tak pernah memutuskan sesuatu sebelum
  mereka berdoa dan mencari bimbingan Tuhan."

  Banyak di antara surat-surat yang aku terima berisi tentang jawaban
  doa yang berhubungan dengan penyakit dan kesembuhan. Saya sungguh
  percaya akan penyembuhan ilahi. Tiada 1 hari pun berlalu tanpa saya
  mendoakan orang-orang yang sedang menderita sakit. Surat-surat yang
  saya terima dan berisi tentang jawaban doa, bisa memenuhi satu buku
  dan ini memperkuat iman saya sendiri.

  Ada juga yang menulis, "Aku baru saja pulang dari rumah sakit
  setelah mengalami serangan jantung yang parah 1 minggu yang lalu.
  Setelah aku cukup sembuh dan boleh menerima kunjungan orang lain,
  cucu perempuanku yang berumur 9 tahun datang mengunjungi aku bersama
  orang tuanya. Waktu mereka pamit pulang, cucuku kembali mendekati
  aku dan berkata, `Kek, tahukah engkau mengapa engkau sembuh
  kembali?` Aku menjawabnya, `Tidak, mengapa?` Lalu cucuku menjawab,
  `Karena aku telah berdoa dengan sungguh-sungguh agar engkau sembuh
  kembali.` Percayakah Anda bahwa doa anak umur 9 tahun dapat
  memengaruhi sesuatu? Aku percaya bahwa Allah telah mendengar doa
  cucuku itu dan telah menjawabnya."

  Yang lain lagi menulis tentang kekhawatirannya akan pembedahan yang 
  harus ia jalani. "Aku mohon kepada Allah agar Ia memimpin para ahli 
  bedah dan para pembantunya dan agar Tuhan mendampingi aku selama 
  pembedahan itu. Aku berdoa kiranya Tuhan mengambil alih seluruh 
  diriku dan, terlepas dari apa pun hasilnya, kiranya aku dapat merasa 
  puas karena aku tahu bahwa Ia lebih mengetahui apa yang paling baik 
  untukku. Aku telah menyerahkan seluruh persoalan, termasuk diriku, 
  kepada-Nya dan berkata, `Tuhan, di sinilah aku. Jika Engkau 
  menginginkan aku hidup maka aku akan hidup, jika Engkau menghendaki 
  aku mati, aku akan mati.` Maka pada saat itu juga kekhawatiranku 
  lenyap dan seluruh beban telah diambil dari padaku. Lalu segera aku 
  merasakan kehadiran-Nya. Aku tahu Ia ada di sampingku, Ia telah 
  menjawab doaku."

  Memang ada kemungkinan bahwa perasaan damai dan ketenangan di dalam
  hati dan pikiran seseorang dapat sangat memengaruhi hasil
  pembedahan itu. Di dalam hal ini, Allah telah bekerja melalui para
  dokter, tapi dokter itu juga memerlukan kerja sama dari si pasien.
  Dan hal ini mungkin terjadi karena Tuhan telah menjawab doa itu.

  Memang sungguh menakjubkan mempelajari jawaban-jawaban doa, terutama 
  dalam contoh berikut ini: "Anakku meninggal dunia karena mengalami 
  kecelakaan mobil dan meninggalkan seorang istri yang masih muda. 
  Hatinya hancur sehingga mentalnya hampir mengalami keruntuhan total. 
  Kami semua menghibur dan menolongnya sedapat-dapatnya, tapi 
  tampaknya tidak berhasil. Aku kemudian mulai berdoa kiranya Tuhan 
  mencarikan orang lain untuk menggantikan tempat anakku di dalam 
  hatinya. Tuhan telah menjawab doaku. Tuhan memang mengirim seorang 
  perjaka di dalam hidupnya, dan tak lama kemudian, kesedihannya 
  berubah menjadi sukacita. Mereka telah menikah dan kini sudah 
  dikaruniai seorang putra. Mereka sangat bahagia sehingga orang tua 
  menantuku maupun aku sendiri juga bahagia. Aku tahu bahwa Allah 
  telah mendengar doaku dan memungkinkan kedua anak muda itu untuk 
  saling bertemu. Aku telah mendengar bahwa pernikahan ditentukan di 
  surga. Bagaimanapun juga, kelihatannya memang demikian."

  Yang lain menulis, "Aku ingin menceritakan kepada Anda tentang 
  jawaban Tuhan terhadap doaku selama 4 tahun ini. Aku memunyai anak 
  laki-laki yang masih kecil. Ketika ia berumur 1 tahun, kami 
  menginginkan anak lagi, agar anakku yang pertama memunyai kawan 
  bermain. Tidak lama setelah ulang tahun anakku yang pertama, kami 
  mendapat berita bahagia bahwa kami akan mendapat seorang anak lagi. 
  Anda dapat membayangkan betapa kami kecewa karena kandungan istriku 
  ternyata gugur. Ini merupakan kekecewaan yang pertama, kemudian kami 
  kehilangan 2 bayi lagi dalam 3 tahun berikutnya. Sepanjang masa itu, 
  aku tetap berdoa kiranya Tuhan memberikan seorang anak lagi kepada 
  kami. Setiap malam kami berdoa dengan segenap hati. Namun 
  lama-kelamaan, aku mulai bertanya kepada diri sendiri apakah aku ini 
  orang yang egois. Kami telah memiliki seorang anak, sedang banyak 
  orang lain tidak memunyai sama sekali. Lalu mulai berdoa, "Bukan 
  kehendakku, tapi kehendak-Mu yang jadi." Dan saat itu keputusasaanku 
  lenyap. Aku meminta agar Tuhan membimbing aku sesuai dengan 
  rencana-Nya. Mungkin kesediaanku untuk menerima sesuatu yang tidak 
  kuinginkan membuat doaku dijawab. Akhirnya, 2 minggu setelah hari 
  ulang tahun keempat anakku, kami dianugerahi seorang anak laki-laki 
  yang manis. Aku betul-betul percaya bahwa Allah telah menjawab 
  doaku, dan setiap malam aku bersyukur kepada-Nya atas semua berkat 
  itu.

  Kadang Allah memang berkata, "Tunggu." Mungkin Ia harus menunggu 
  sampai kita siap untuk menerima anugerah dan berkat-Nya. Pengertian 
  saya tentang doa tak lebih banyak daripada pengertian saya tentang 
  listrik. Tapi saya mengerti bahwa manusia membangun pembangkit 
  tenaga listrik untuk membuat tenaga listrik dan kita menggunakan 
  tenaga itu untuk memenuhi bermacam-macam keperluan kita. Tuhan telah 
  menciptakan tenaga listrik ini dan saya percaya bahwa Allah yang 
  telah membuat tenaga untuk menerangi rumah-rumah kita, tidak lupa 
  menciptakan tenaga untuk menerangi hidup kita. Allah yang membuat 
  tenaga untuk menjalankan mesin-mesin, tidak lupa untuk menolong 
  anak-anak-Nya di sepanjang jalan hidupnya.

  Doa ialah alat yang kita gunakan untuk mendapatkan kekuatan Allah.
  Tuhan, ajarilah kami berdoa!

  Diambil dan disunting seperlunya dari:
  Judul buku: Segala Sesuatu Mungkin Melalui Doa
  Penulis: Charles L. Allen
  Penrbit: Yayasan Gloria, Yogyakarta 1988
  Halaman: 55 -- 60

______________________________________________________________________
TOKOH DOA

                      SALOMO: MEMOHON HIKMAT

  Setelah Daud mangkat, Salomo naik takhta dengan proses yang tidak
  mulus. Adonia, anak Daud yang tertua, sangat berambisi mewarisi
  takhta pemerintahan ayahnya (1 Raja-raja 1:5). Adonia mengumpulkan
  dukungan dan bahkan sempat mengadakan pesta penobatan di En-Rogel.
  Tetapi akhirnya Salomo yang naik, dengan dukungan penuh dari
  Panglima Benaya, Imam Zadok, dan Nabi Natan.

  Salomo menjadi Raja Israel yang sangat terkenal, terutama karena
  hikmatnya yang luar biasa. Tercatat bahwa orang dari segala bangsa
  mendengarkan hikmat Salomo, dan ia menerima upeti dari semua
  raja-raja di bumi, yang telah mendengar tentang hikmatnya itu
  (1 Raja-raja 4:34). Ia lebih bijaksana dibanding tokoh-tokoh bijak
  dari Mesir, Arab, Kanaan, dan Edom (1 Raja-Raja 4:31).

  Kerajaan Israel menjadi sangat kuat selama era kepemimpinan Salomo. 
  Pertahanan militer Salomo adalah berupa benteng-benteng yang 
  dibangun melingkari kota-kota strategis di dekat 
  perbatasan-perbatasan Israel. Di kota-kota tersebut selalu 
  disiagakan kompi-kompi pasukan kereta perang (1 Raja-raja 9:15-19). 
  Lagipula Salomo memunyai kuda di 40.000 kandang untuk 
  kereta-keretanya dan 12.000 orang berkuda (1 Raja-raja 4:26).

  Salomo adalah seorang pedagang yang gesit. Ia tahu benar betapa 
  pentingnya posisi Israel sebagai jembatan yang menghubungkan Mesir 
  dengan Asia. Salomo memanfaatkan letak geografis yang strategis itu 
  untuk menguasai jalan kafilah utama dari utara ke selatan. 
  Perjanjian dengan Raja Tirus memungkinkan Israel memonopoli jalur 
  pelayaran laut. Di bawah strategi perdagangannya, tingkat 
  perekonomian Israel menjadi sangat tinggi.

  Kekayaan Salomo tidak terbilang besarnya, sampai-sampai seluruh
  perkakas minuman dan semua perabot di istana terbuat dari emas murni
  (1 Raja-raja 10:21). Takhta Salomo dibuat dari gading yang disalut
  dengan emas tua (1 Raja-raja 10:18). Tercatat bahwa raja Salomo
  melebihi semua raja di bumi dalam hal kekayaan dan hikmat
  (1 Raja-raja 10:23).

  Kerajaan Israel berkembang luas: Salomo berkuasa atas segala
  kerajaan mulai dari Sungai Efrat sampai negeri orang Filistin dan
  sampai ke tapal batas Mesir (1 Raja-raja 4:21a). Di bawah
  kepemimpinan Salomo, negeri dan rakyatnya hidup makmur dan damai
  (1 Raja-raja 4:24).

  Kehidupan Doanya

  Tuhan memberkati kepemimpinan Salomo karena ia tekun berdoa. Ia 
  mengutamakan pembangunan rumah Tuhan (Bait Suci) sebelum membangun 
  istananya sendiri (1 Raja-raja 5-6). Bait Suci merupakan sentral 
  kegiatan ibadah dan doa bagi umat Israel, tempat suci di mana Allah 
  hadir menyatakan diri-Nya.

  Untuk konteks saat ini, tubuh kitalah bait suci itu, rumah Tuhan
  (1 Korintus 6:19). Roh Tuhan tinggal dan memenuhi kita dan kita pun
  bisa menjalin hubungan roh dengan Allah. Kepenuhan akan Roh Tuhan
  dan kehidupan doa merupakan perkara utama yang harus kita bangun.

  Salomo senantiasa berkomunikasi dengan Tuhan. Ada kalanya ia
  berbicara, ada waktunya Tuhan berfirman kepadanya. Ketika mendirikan
  Bait Suci, Tuhan bersabda kepada Salomo (1 Raja-raja 6:11).
  Sering kali kita hanya sibuk membangun, membuat proyek, mengerjakan
  pelayanan, tetapi lupa berdoa untuk mendengarkan suara-Nya. Pemimpin
  sejati memang harus bekerja keras, tetapi jangan melupakan doa
  supaya tidak kehilangan kontrol dari Tuhan.

  Salomo adalah seorang raja yang tidak mengenal istilah boros ketika
  memberi persembahan untuk Tuhan. Dalam penahbisan Bait Suci
  misalnya, Salomo mempersembahkan 22.000 ekor lembu sapi dan 120.000
  ekor kambing domba (1 Raja-raja 8:63).

  Jangan terlalu berhemat dan kikir di dalam doa. Karena sibuk dan
  takut tersita waktunya, kadang seorang pemimpin tak mau berlama-lama
  dalam hadirat Tuhan. Berdoa cukup 5 menit saja, sebab baginya "time
  is money" (waktu adalah uang). Jangan pula kikir dalam mendoakan
  orang lain. Kalau perlu doakan semua jemaat Anda, dan seluruh
  karyawan Anda. Yesus sendiri berdoa semalam-malaman sebelum memilih
  murid-Nya (Lukas 6:12).

  Salomo adalah motivator dan fasilitator gerakan doa. Ia menggerakkan 
  para tua-tua, semua kepala suku, dan para pemimpin puak Israel untuk 
  berdoa (2 Tawarikh 5:2). Salomo memobilisasi para imam dan pemuji 
  dalam ibadah akbar penahbisan Bait Suci (2 Tawarikh 5:11-12). 
  Gerakan doa sekota maupun nasional sekarang ini juga membutuhkan 
  keterlibatan proaktif dari para pemimpin Kristen.

  Kehidupan doa Salomo memunyai dimensi pengalaman supernatural yang
  dahsyat. Bayangkan, setelah Salomo mengakhiri doanya, api pun turun
  dari langit memakan habis korban bakaran dan korban-korban
  sembelihan itu, dan kemuliaan Tuhan memenuhi rumah itu (2 Tawarikh
  7:1)!

  Permohonan yang Baik

  Salomo memulai karier kepemimpinannya dengan doa. Hal itu
  menunjukkan bahwa ia mengandalkan Tuhan di dalam hidupnya. Ia sadar
  bahwa dirinya masih sangat muda dan belum berpengalaman (1 Raja-raja
  3:7). 
  Ia juga menyadari bahwa dirinya menjadi raja karena warisan
  takhta (ascribed status) dari ayahnya, bukan karena penunjukan
  profetis oleh seorang nabi Tuhan seperti pada pemilihan Saul dan
  Daud dulu.

  Kini banyak pemimpin muda yang sombong. Mereka bergerak dengan
  samangat muda dan idealisme yang tinggi, namun tanpa pengalaman.
  Ketika tidak mengandalkan Tuhan melalui doa, jatuhlah mereka. Salomo
  memberi kita teladan kerendahan hati.

  Setelah mempersembahkan korban, Tuhan menampakkan diri dalam
  mimpinya pada suatu malam (1 Raja-raja 3:5a). Ini merupakan bentuk
  "personal encounter" atau perjumpaan pribadinya dengan Tuhan.
  Seorang pemimpin perlu mengalami Tuhan secara pribadi, meskipun
  tidak harus sensasional. Tuhan menampakkan diri kepada Musa dalam
  wujud api di semak belukar, tetapi kepada Salomo Tuhan menyatakan
  diri melalui mimpi. Jangan membatasi cara Tuhan berbicara, jangan
  pula merasa "kurang rohani" manakala Tuhan tidak menjumpai kita
  secara spektakuler. Jangan seperti Tomas yang belum percaya kalau
  belum menjamah Yesus secara fisik (Yohanes 20:25).

  Tuhan pernah memuji Salomo sebab ia menaikkan suatu permohonan
  (permintaan) yang dianggap baik. Saat itu Tuhan memberi tawaran:
  "Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu" (1 Raja-raja 3:5b).
  Salomo tidak meminta umur panjang, kekayaan, nyawa, atau hal-hal
  material dan duniawi lainnya. Tetapi, Salomo meminta agar Tuhan
  memberinya "hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi
  umat-Nya" (1 Raja-raja 3:9) atau "pengertian untuk memutuskan hukum"
  (1 Raja-raja 3:11).

  Coba seandainya Tuhan datang dan bertanya kepada kita tentang apa
  permintaan kita. Sebagai pendeta, mungkin kita akan berseru, "Tuhan,
  berilah aku gedung ibadah yang besar!" Sebagai pemimpin perusahaan,
  mungkin kita akan berdoa, "Tuhan berilah aku modal yang besar!"
  Belajarlah seperti Salomo, memohon hikmat kebijaksanaan untuk
  menjadi pemimpin yang baik.

  Permintaan Salomo dipandang baik karena berkadar rohani tinggi dan
  mengutamakan panggilan pelayanannya sebagai pemimpin. Ia tidak
  serakah, namun hanya ingin menyenangkan hati Bapa dengan menjadi
  pemimpin yang baik. Karena itu, doanya dijawab plus diberi bonus
  berupa kekayaan, umur panjang, dan kemuliaan (1 Raja-raja 3:13).
  Tuhan memberi jauh lebih banyak dari apa yang kita doakan (Efesus
  3:20)!

  Diambil dan disunting seperlunya dari:
  Judul buku: Mezbah Doa Para Pemimpin
  Penulis: Haryadi Baskoro
  Penerbit: Yayasan ANDI, Yogyakarta 2008
  Halaman: 33 -- 38

______________________________________________________________________
Anda diizinkan mengcopy/memperbanyak semua/sebagian bahan dari e-DOA
(untuk warta gereja/bahan pelayanan lain) dengan syarat: tidak untuk
tujuan komersial dan harus mencantumkan SUMBER ASLI bahan yang diambil
dan nama e-DOA sebagai penerbit elektroniknya.
______________________________________________________________________
Pimpinan Redaksi: Novita Yuniarti
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) 2009 oleh e-DOA --- diterbitkan: YLSA dan I-KAN
Rekening: BCA Pasar Legi Solo No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________
Kontak Redaksi: < doa(at)sabda.org >
Berlangganan: < subscribe-i-kan-buah-doa(at)hub.xc.org >
Berhenti: < unsubscribe-i-kan-buah-doa(at)hub.xc.org >
Pertanyaan/saran/bahan: < owner-i-kan-doa(at)hub.xc.org >
Arsip e-DOA: http://www.sabda.org/publikasi/doa/
Situs YLSA: http://http://www.ylsa.org/
Situs SABDA Katalog: http://katalog.sabda.org/
Halaman Facebook e-DOA: http://fb.sabda.org/doa
______________________________________________________________________

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org