Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/e-binasiswa/86

e-BinaSiswa edisi 86 (9-10-2017)

Pemuridan Remaja Kristen (2)

Pemuridan Remaja Kristen (2) -- Edisi 86/II/Oktober 2017
 
Pemuridan Remaja Kristen (2)
Edisi 86/II/Oktober 2017
 
e-BinaSiswa

Salam kasih dalam Kristus,

Pemuridan yang efektif bersifat relasional, alkitabiah, aplikatif, produktif dan bertanggung jawab. Pemuridan yang efektif harus dikerjakan oleh semua umat percaya sebagai penerima mandat untuk memuridkan dan menjadikan semua bangsa sebagai murid Kristus. Inilah tugas yang perlu kita kerjakan bersama. Pemuridan tidak sebatas kegiatan, tetapi pemuridan yang efektif menjadi tujuan yang harus dicapai dalam usaha pemuridan itu sendiri. Menjadi murid Kristus adalah panggilan yang jelas dan konsisten. Sebagai murid-murid Kristus, marilah kita terlibat untuk memuridkan orang lain. Terlibat dalam usaha pemuridan abad ke-21 yang tetap menjunjung tinggi prinsip-prinsip alkitabiah dan bertanggung jawab untuk menjalani hidup sebagai seorang murid seumur hidup. Mari kita bersama-sama mengambil bagian untuk dimuridkan dan memuridkan. Membina generasi muda remaja dengan pengajaran yang berdasar pada Alkitab, hingga mereka menjadi murid-murid Kristus di abad ke-21. Terpujilah Tuhan!

Amidya

Pemimpin Redaksi e-BinaSiswa,
Amidya

 

KIAT PEMBINA Lima Prinsip Efektif untuk Pemuridan pada Abad ke-21

Panggilan Yesus yang jelas dan menarik dari "Mari, ikutlah Aku" belum berubah. Tiga kata inilah yang membuka pintu untuk kehidupan transformasional bagi mereka yang dipilih-Nya untuk diberi kesempatan. Tiga kata inilah yang menuntut sebuah tanggapan. Tiga kata inilah yang dibentuk sebagai konsep yang dapat dipilih orang sebagai arahan perjalanannya.

Gambar: Yesus memanggil murid

Panggilan itu konsisten. Panggilan itu jelas. Panggilan itu penuh tantangan. Panggilan itu tidak berubah sehubungan dengan orang atau situasinya. Dampak dari panggilan tergantung pada respons dari orang yang diberi panggilan tersebut.

Ketika Yesus berjalan bersama Petrus dan Andreas, Dia memberikan panggilan untuk mengikut-Nya. Dan, dalam panggilan-Nya, dinyatakan, "Marilah ikut Aku, dan Aku akan menjadikanmu penjala manusia" (Matius 4:19, AYT). Bagi mereka, panggilan Yesus membuat mereka meninggalkan pekerjaan sebelumnya untuk menemukan apa yang ada di depan.

Dalam percakapan panggilan yang lain, Dia menawarkan orang kaya untuk mengikut-Nya. Akan tetapi, Yesus memberikan catatan kepada orang ini dan menambahkan beberapa tantangan dalam panggilan-Nya. Tantangannya adalah menjual semua yang dimilikinya, kemudian mengikut Dia (Markus 10:21, AYT). Hal ini mengurangi antusiasmenya. "Namun, perkataan itu membuatnya susah hati dan ia pergi dengan sedih karena ia memiliki banyak harta" (Markus 10:22, AYT). Orang ini menanggapi panggilan tersebut dengan berpegang pada pengetahuan akan risiko yang tidak diketahui. Tampaknya, kesediaannya untuk mengikuti tergantung pada risiko yang minimal.

Panggilan untuk mengikut Yesus belum berubah. Seperti semenjak abad pertama, demikian juga halnya pada abad ke-21; orang dipaksa untuk merespons kesempatan yang Yesus berikan untuk datang dan mengikut-Nya. Mereka yang menanggapi, seperti yang dilakukan Petrus dan Andreas, yang kemudian berangkat ke jalur pemuridan. Pertanyaannya adalah: Seberapa efektifkah kita melakukan pemuridan saat ini dalam sejarah Allah?

Gambar: Pemuridan

Terdapat lima prinsip utama yang memengaruhi efektivitas pemuridan. Prinsip ini menentukan proses, struktur, dan materi dalam melakukan pemuridan. Pemuridan yang efektif harus menyertakan hal-hal di bawah ini:

  1. Pemuridan yang efektif harus bersifat relasional: Harus memiliki suatu elemen kehidupan dalam hidup. Orang dimuridkan dalam hubungan, bukan dalam pemindahan pengetahuan atau materi.
  2. Pemuridan yang efektif harus bersifat alkitabiah: Firman Allah adalah dasar untuk melakukan pemuridan. Seorang murid adalah pengikut Kristus. Apa cara yang lebih baik untuk memahami siapa yang Anda ikuti selain dari membaca tentang siapa Dia, bagaimana Dia berpikir, dan apa yang Dia lakukan.
  3. Pemuridan yang efektif harus dapat diaplikasikan: Apabila proses pemuridan tidak berdampak pada bagaimana orang hidup dalam dunia ini, hal itu tidak lain hanya tentang ritual agama. Para murid membawa kerajaan Allah dalam kenyataan mereka ditempatkan. Mereka membutuhkan fondasi untuk melakukannya.
  4. Pemuridan yang efektif harus bertanggung jawab: Akuntabilitas/pertanggungjawaban adalah sebagian kecil dari berbagai proses pemuridan. Akuntabilitas ini lebih dari sekadar menyelesaikan tugas. Hal itu berpegang pada keseriusan mereka dalam mengikut Kristus untuk menghidupkan iman tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Pemuridan yang efektif harus bersifat produktif mengembangkan/memperbanyak: Menghasilkan murid lainnya seringnya menjadi potongan yang hilang dalam pemuridan. Pemuridan yang asli/sejati terjadi saat murid lainnya telah bertambah. Perjalanan dan penghasilan murid adalah proses seumur hidup.

Kelima prinsip tersebut harus menjadi penyaringan/saringan dalam pengembangan, penerapan, dan evaluasi pemuridan dalam pelayanan kita. Secara konsisten, tanyakan lima pertanyaan pemuridan berikut:

Apa dampak dari hubungan/relasinya?

  • Bagaimana Alkitab digunakan?
  • Bagaimana Anda mengaplikasikan apa yang sudah dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari?
  • Bagaimana orang dapat dipegang pertanggungjawabannya?
  • Bagaimana cara Anda untuk mulai menghasilkan kembali?

Pemuridan merupakan panggilan untuk semua pengikut Kristus. Panggilan untuk "Pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid" berlanjut menjadi maksud dari mandat Yesus bagi gereja-Nya. Apa yang akan kita lakukan untuk memenuhi mandat ini dalam kehidupan kita serta komunitas orang percaya? (t/Jessica)

Unduh Audio

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Seedbed
Alamat situs : http://www.seedbed.com/5-principles-for-effective-disciple-making-in-the-21st-century/
Judul asli artikel : 5 Principles for Effective Disciple-making in the 21st Century
Penulis artikel : Phil Stevenson
Tanggal akses : 30 Juni 2017
 

BAHAN AJAR Amanat Agung

Ayat Kunci: Matius 24:14

Nas Alkitab: Matius 28:19-20

Tujuan:

  1. Mengetahui perkembangan jumlah penduduk dunia dalam perspektif perbandingan jumlah orang Kristen dengan non-Kristen.
  2. Memahami misi Tuhan bagi dunia ini.
  3. Memikirkan langkah-langkah tentang bagaimana melaksanakan misi Tuhan bagi dunia ini.
Gambar: Amanat Agung

WAWASAN PENGETAHUAN PEMIMPIN

Pendahuluan

Saat kita memperhatikan sekelompok orang sedang membangun suatu gedung, langkah pertama yang dilakukan adalah membuat fondasinya. Fondasi menentukan berapa besar dan berapa tinggi gedung yang akan dibangun. Membuat fondasi bukan pekerjaan mudah karena dibutuhkan pemikiran dan perhitungan yang pasti dengan perkiraan-perkiraan yang tepat. Selain itu, waktu yang dibutuhkan pun tidak sebentar. Maka tidak heran jika orang sering bertanya-tanya, "Kapan mulai membangun gedungnya, sedangkan fondasinya saja tidak selesai-selesai?" Atau, pertanyaan senada, "Apa susahnya sih, membuat fondasi, sampai membutuhkan waktu yang sedemikian lama?" Untuk pertanyaan-pertanyaan seperti ini, seorang yang mengerti tentang bangunan akan berkata, "Semakin kuat/kokoh suatu fondasi dibangun, semakin besarlah bangunan yang dapat ditunjangnya." Membuat fondasi yang kuat/kokoh tentu tidak bisa asal jadi karena pasti diperlukan tes-tes tertentu untuk menguji kekuatan fondasi tersebut.

Gambaran ini tidak jauh berbeda dengan proyek besar Allah untuk dunia ini, yaitu untuk membangun Kerajaan Allah di bumi dan di surga. Bentuk konkret dari proyek besar Allah ini secara detail dapat kita lihat dalam isi Amanat Agung-Nya. Apakah Allah telah meletakkan fondasi yang kuat untuk "bangunan" ini? Ya, pengurbanan diri-Nya sampai mati di kayu salib dan darah para rasul serta kaum martir telah melandasinya. Karena itu, setiap orang percaya termasuk remaja wajib melanjutkannya. Bagaimana cara yang tepat untuk melanjutkan pekerjaan Allah yang besar ini?

Cara Menjadikan Murid

Jika kita memperhatikan dan menyimak dengan teliti Matius 28:19-20 dalam bahasa aslinya (Yunani), kita akan menemukan hanya sebuah kata kerja yang berbentuk imperatif/kata perintah (dalam bahasa Indonesia tidak begitu jelas), yaitu "jadikanlah murid" (make disciples), sedangkan tiga kata kerja lain yang tampaknya memiliki bentuk yang sama seperti "pergilah", "baptislah", dan "ajarlah" tidak ditulis dalam bentuk imperatif, tetapi dalam bentuk partitif yang berfungsi sebagai pelengkap (suplemen) dari kata kerja utama "jadikanlah murid". Jadi, dapat diartikan bahwa kata tersebut menunjuk pada tujuan utama Yesus Kristus, yaitu untuk menjadikan seluruh bangsa sebagai murid-Nya. Ketiga kata kerja berikutnya lebih merupakan cara yang tidak bisa tidak harus digunakan oleh seseorang yang berhasrat untuk mengambil bagian dalam memenuhi Amanat Agung Yesus ini.

1. Pergilah

Kata ini ditempatkan mendahului kata kerja utama (jadikanlah murid). Hal ini menunjukkan bahwa untuk menjadikan murid tidak mungkin ditempuh dengan berdiam diri saja tanpa melakukan sesuatu. Diperlukan tindakan berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Lebih khusus lagi, tindakan "pergi" ini tidak hanya menunjuk pada tempat secara fisik, tetapi lebih dari itu juga menyangkut hidup. Seseorang yang bersedia untuk mengemban Amanat Agung Yesus harus bersedia "pergi" dari hidup lama ke hidup baru; dari keinginan untuk lebih mementingkan diri sendiri pada keinginan untuk lebih mendahulukan kepentingan orang lain. Dan, masih banyak lagi tindakan "pergi" bila dijabarkan satu per satu. Pendeknya, ada sesuatu yang harus ditinggalkan dan harus ada sesuatu yang ingin dicapai dalam tindakan "pergi". Dan, "pergi" adalah tindakan awal yang harus dilakukan dalam rangka menjadikan murid.

2. Baptislah

Baptisan merupakan tanda khusus yang dimiliki seseorang yang telah menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Kata "baptisan" ini berasal dari kata Yunani baptizo, yang oleh orang-orang abad pertama sering digunakan untuk tindakan mencelupkan pakaian berwarna terang ke dalam zat pewarna. Misalnya, kain putih dicelupkan ke dalam zat pewarna yang berwarna merah, maka identitasnya berubah dari warna aslinya menjadi warna merah. Tindakan mencelupkan (baptizo) ini mengakibatkan perubahan identitasnya. Ketika seseorang secara sadar percaya kepada Injil Kebenaran Allah, maka ia akan dibaptiskan dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Ini akan mengakibatkan perubahan identitas di dalam dirinya: dari manusia lama menjadi manusia baru, dari manusia berdosa menjadi manusia yang dibenarkan Allah, demikian seterusnya. Sebagai pengemban Amanat Agung Allah, kita seharusnya melakukan tugas "menjadikan murid" sampai pada tahap ini. Untuk itu, kita perlu mengadakan pendekatan secara pribadi. Dan, pendekatan itu harus dilakukan sampai orang yang baru mendengar tentang Injil itu tiba pada tahap menerima dan membutuhkan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya.

3. Ajarlah

Membuat seseorang sadar bahwa ia membutuhkan keselamatan dan mengenal siapa Juru Selamatnya, belum tentu dapat membuat orang tersebut mampu bertahan dalam iman percayanya kepada Tuhan jika tidak diimbangi atau ditindaklanjuti dengan pengajaran-pengajaran yang dapat memupuk kehidupan rohaninya dan menghasilkan ketaatan. Pengenalan yang dangkal terhadap Tuhan, keraguan, dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab hanya akan membuat orang tersebut tidak dapat berdiri dengan teguh pada kebenaran yang kudus. Karena itu, perlu ada pengajar-pengajar yang terus meneguhkan dan mengokohkan iman percayanya kepada Tuhan sehingga ia dapat terus bertumbuh dan tidak mudah digoyahkan oleh apa pun juga. Dengan demikian, ia juga dapat menjadi laskar yang benar-benar gagah untuk memenuhi Amanat Agung, yang nantinya akan diteruskan kepada orang lain lagi. Karena itu, penting sekali pengajaran diberikan secara terus-menerus, khususnya hal-hal yang berkaitan dengan ajaran dan perintah Tuhan sendiri.

Cara-cara ini tidak mudah, tetapi sebagai remaja Kristen yang telah diberi kepercayaan untuk mengemban Amanat Agung mau menyadari dan mau menanggungnya secara bersama-sama dengan semangat dan tekad yang besar, maka tugas ini akan menjadi tugas yang ringan dan menyenangkan.

Target Amanat Agung: Semua Bangsa

Semua bangsa? Wah, suatu jumlah yang sangat besar. Namun, ini bukan target yang mengada-ada karena target ini masuk dalam bagian Amanat Agung. Jika demikian, Allah sebagai Perencana Agung itu telah mengadakan survei besar-besaran dengan asumsi bahwa target ini pasti terpenuhi jika orang-orang kepunyaan-Nya mau dan mampu bekerja dengan baik, setia, dan bertanggung jawab. Allah tidak pernah salah! Dia pasti memberikan kemampuan dan kuasa kepada kita untuk menjalankan perintah itu (Kisah Para Rasul 1:8).

Gambar: Murid menghasilkan murid

Kita harus bersyukur kalau target Amanat Agung adalah seluruh bangsa. Pada zaman Perjanjian Lama, hanya bangsa Israel yang disebut umat pilihan Allah sedangkan bangsa-bangsa lain disebut bangsa kafir. Oleh karena itu, hanya bangsa Israellah yang berhak menyebut diri sebagai umat pilihan atau umat kesayangan Allah. Ternyata karena kasih Allah yang begitu besar kepada dunia ini, maka Anak-Nya yang Tunggal itu Dia berikan untuk menjadi Perantara antara kita dengan Bapa di surga. Yesus Kristuslah yang memungkinkan semua bangsa berhak menyatakan diri sebagai murid Kristus. Akan tetapi, bagaimana mereka bisa tahu jika tidak ada yang mengabarkan? Bagaimana mereka bisa mendengar jika tidak ada yang memberitakan? Ini adalah tugas kita, setiap orang yang pernah mendengar dan mengerti untuk menyampaikannya kepada orang lain. Tidak perlu harus pergi ke seluruh dunia dahulu baru bisa dikatakan sebagai orang yang telah bersungguh-sungguh mengemban Amanat Agung walaupun tidak tertutup kemungkinan untuk hal itu. Allah telah meletakkan orang-orang kepercayaan-Nya di setiap belahan dunia. Yang terpenting adalah pandanglah sekitarmu, kemudian lihat dan rasakan apakah semangat penginjilan itu masih ada.

Janji Penyertaan Tuhan

Yesus pernah berkata, "Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala ..." (Matius 10:16a). Kelihatannya di sini Allah bertindak sangat kejam dengan mengirim kita ke tempat yang sangat berbahaya. Akan tetapi, sesungguhnya ini adalah kalimat pengutusan yang sangat realistis jika dilihat dari situasi dan kondisi dunia saat ini. Dunia membenci Tuhan Yesus. Karena hal itu, secara otomatis dunia juga membenci kita -- para pengikut-Nya. Kecaman, kesulitan, ancaman, dan bahaya bisa menghadang di depan kita kapan pun dan di mana saja. Akan tetapi, betapa pun banyaknya kesulitan dan besarnya pengorbanan yang harus kita beri, kita tetap harus melakukannya dengan keyakinan akan janji penyertaan Tuhan.

Melihat kenyataan ini, Allah tidak tinggal diam karena janji penyertaan-Nya tidak bertanggal akhir, yang berarti Ia menyertai kita senantiasa sampai pada kesudahan zaman. Selain itu, ucapan ini juga berarti bahwa pekerjaan penginjilan harus terus dilakukan sampai dunia ini berakhir, yaitu sampai Tuhan Yesus datang untuk kedua kalinya. Hai remaja ... masih ragukah, takutkah, atau tidak bersemangatkah? Pelajarilah bagian ini baik-baik, mintalah agar Tuhan memberikan kepastian, keberanian, dan semangat itu kepada kamu -- para remaja yang dikasihi Tuhan -- untuk mengemban Amanat Agung-Nya.

Baca selengkapnya

Sumber asli:
Judul buku : Misi dan Pelayanan: Seri PA Kelompok Kecil Remaja
Judul artikel : Amanat Agung
Penulis : Tan Giok Li, Ed. D. (Editor)
Penerbit : Visi Pressindo: Jakarta, 2002
Halaman : 7 -- 13

Diambil dari:
Nama situs : PEPAK
Alamat situs : http://pepak.sabda.org/amanat_agung_0
Tanggal akses : 5 Oktober 2017
 
Anda terdaftar dengan alamat: $subst('Recip.EmailAddr').
Anda menerima publikasi ini karena Anda berlangganan publikasi e-BinaSiswa.
binasiswa@sabda.org
e-BinaSiswa
@sabdabinasiswa
Redaksi: Amidya, Ariel, dan Davida
Berlangganan | Berhenti | Arsip
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
©, 2017 -- Yayasan Lembaga SABDA
 

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org