Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/e-binasiswa/34

e-BinaSiswa edisi 34 (7-4-2014)

Remaja dan Persahabatan (2)

e-BinaSiswa -- Remaja dan Persahabatan (2)
Edisi 34/April 2014

DAFTAR ISI:
KESAKSIAN: PASKAH TERINDAH
BAHAN MENGAJAR: MENJADI SAHABAT SEJATI

Shalom,

Menjadi sahabat sejati untuk adik-adik yang kita layani memang bukan 
perkara yang mudah dan membutuhkan banyak pengorbanan, namun hal ini 
tidak akan menjadi terlalu sulit seperti yang dibayangkan karena Yesus 
sendiri telah menyatakan kasih-Nya yang sempurna dalam hidup kita dan 
telah menyebut kita sebagai sahabat-Nya (Yohanes 15:15). Persahabatan 
tentu menjadi sesuatu yang sangat indah. Bahan mengajar pada sajian e-
BinaSiswa kali ini kiranya juga dapat membimbing adik-adik kita 
mengalami jalinan persahabatan yang indah.

Selain itu, untuk menyambut peringatan Paskah, kami juga mengajak 
Pelanggan menyimak sebuah kesaksian menarik di hari Paskah. Segenap 
Redaksi e-BinaSiswa mengucapkan Selamat Paskah 2014. Biarlah kita 
terus menjadi kaya dalam Kristus dan tidak pernah merasa kekurangan 
dalam menyatakan kasih kepada adik-adik yang kita layani. Selamat 
melayani. Tuhan Yesus memberkati!

Pemimpin Redaksi e-BinaSiswa,
Adiana
< ade(at)in-christ.net >
< http://remaja.sabda.org >


                      KESAKSIAN: PASKAH TERINDAH

Aku tidak akan pernah melupakan PASKAH tahun 1946. Saat itu, aku masih 
berusia 14 tahun, adikku Ocy berusia 12 tahun dan kakakku Darlene 16 
tahun. Kami tinggal bersama Mama. Meskipun hidup kami pas-pasan, kami 
berempat tahu apa yang kami lakukan. Papaku meninggal 5 tahun 
sebelumnya, meninggalkan Mama seorang diri dengan 7 anak yang masih 
sekolah. Pada tahun 1946 itu, kakak-kakakku perempuan telah menikah 
dan kakak-kakakku laki-laki sudah meninggalkan rumah.

Sebulan sebelum PASKAH, pendeta di gereja kami mengumumkan bahwa akan 
ada persembahan khusus PASKAH yang akan diberikan kepada sebuah 
keluarga miskin. Dia meminta jemaatnya, tentu termasuk kami berempat, 
untuk menghemat uang dan menyisihkannya untuk persembahan. Sesampainya 
di rumah, kami berempat mendiskusikan tentang apa yang bisa kami 
perbuat. Kami memutuskan untuk membeli 25 kg kentang untuk persediaan 
makanan selama 1 bulan. Ini berarti menghemat uang belanja kami, dan 
dapat kami sisihkan untuk persembahan PASKAH itu.

Lalu, kami berpikir, apabila kami menggunakan lampu sehemat mungkin 
dan tidak mendengarkan radio, kami juga dapat menghemat bayaran 
listrik untuk bulan itu. Darlene akan bekerja membersihkan rumah dan 
halaman orang lain sebanyak mungkin bulan itu, lalu Ocy dan aku 
menjadi pengasuh anak (baby sitter) bagi sebanyak mungkin keluarga 
yang kami dapat temui. Untuk setiap 15 sen uang, kami dapat membeli 
beberapa gulung benang katun yang cukup untuk membuat 3 buah gantungan 
pot, lalu dijual seharga $ 1 per biji. Dari penjualan gantungan pot 
itu, kami menghasilkan uang sebanyak $ 20.

Bulan itu merupakan bulan terbaik yang kami alami. Setiap hari, kami 
menghitung berapa jumlah uang yang dapat kami sisihkan. Setiap malam, 
dalam kegelapan, kami membicarakan tentang keluarga miskin yang akan 
menikmati persembahan uang dari gereja. Ada sekitar 80 jemaat yang 
beribadah di gereja kami, jadi kami membayangkan berapa pun jumlah 
uang yang kami persembahkan, total persembahan dari seluruh jemaat 
pastilah 20 kali lebih besar dari jumlah uang yang dapat kami 
persembahkan. Selain itu, setiap Minggu Pendeta selalu mengingatkan 
jemaatnya tentang persembahan PASKAH tersebut.

Sehari sebelum PASKAH, Ocy dan aku pergi ke toko bahan makanan untuk 
menukarkan seluruh uang koin kami dan manajer toko itu memberi kami 
uang kertas sejumlah 3 lembar dan selembar $ 10. Kami berlarian 
sepanjang jalan menuju rumah untuk menunjukkan lembaran-lembaran uang 
kertas itu kepada Mama dan Darlene. Kami belum pernah memiliki uang 
sebanyak itu sebelumnya. Malam itu, kami berempat sangat bersukacita 
sehingga sulit bagi kami untuk memejamkan mata. Kami bahkan tidak 
peduli bahwa kami tidak punya baju baru untuk PASKAH; yang penting 
kami akan mempersembahkan uang jerih payah kami sebanyak $ 70 sebagai 
persembahan PASKAH. Kami sungguh tidak sabar menunggu untuk segera 
sampai di gereja!

Hujan mewarnai hari Minggu PASKAH pagi itu. Kami tidak memiliki 
payung, padahal jarak gereja dengan rumah kami lebih dari 1 mil. 
Namun, hal itu tidak menjadi masalah bagi kami berempat. Ketika sampai 
di gereja, sekujur tubuh kami basah kuyup. Darlene memanfaatkan 
potongan kardus bekas untuk menutupi sepatu usangnya yang mulai 
menganga. Tetapi karena hujan, kardus itu hancur dan kakinya menjadi 
basah. Meskipun begitu, kami berempat duduk di gereja dengan perasaan 
sangat bangga.

Kami duduk di barisan kedua dari depan. Aku mendengar beberapa remaja 
membicarakan tentang anak-anak keluarga Smith yang memakai baju-baju 
lama. Walaupun aku memandang remaja-remaja itu berpakaian baju-baju 
baru, aku tetap merasa kaya. Ketika waktu persembahan tiba, Mama 
memasukkan, dan masing-masing kami memasukkan. Saat berjalan pulang 
seusai ibadah, kami terus bernyanyi. Saat makan siang, Mama memberi 
kejutan. Dia telah membeli selusin telur dan kami boleh menikmati 
telur-telur PASKAH kami dengan kentang goreng!

Menjelang sore, kami lihat pak Pendeta berkunjung ke rumah kami. Mama 
membukakan pintu dan berbicara dengannya sebentar. Lalu, Mama masuk 
kembali ke rumah dengan sebuah amplop di tangannya. Kami bertanya 
apakah isi amplop itu, tetapi Mama tidak memberi jawaban. Mama membuka 
amplop itu dan di dalamnya terdapat sejumlah uang. Mama memasukkan 
kembali uang itu ke dalam amplop. Tak sepatah kata pun diucapkannya, 
kami hanya tepekur memandangi lantai. Perasaan kami yang semula 
seperti seorang miliuner, kini terhempas menjadi seperti orang yang 
sangat miskin.

Selama ini, kami telah hidup sebagai anak-anak yang bahagia dan kami 
sering merasa kasihan dengan anak-anak yang tidak memiliki orang tua 
seperti kami, atau yang tidak mempunyai rumah yang penuh dengan 
saudara laki-laki dan perempuan serta sering dikunjungi anak-anak 
lain. Walaupun kami tidak memiliki cukup sendok dan garpu untuk 
masing-masing kami, namun justru menjadi sesuatu yang menyenangkan 
untuk berharap siapa yang akan mendapat garpu atau sendok yang lengkap 
malam itu. Dua pisau makan yang kami punyai harus kami pakai secara 
bergiliran.

Aku tahu bahwa keluargaku tidak memiliki banyak barang seperti yang 
dimiliki keluarga lain, tetapi aku tidak pernah berpikir bahwa kami 
adalah keluarga miskin. Namun, PASKAH tahun itu sungguh menyadarkan 
kami bahwa ternyata kami termasuk keluarga yang paling miskin di 
gereja kami.

Aku sangat tidak suka dikatakan miskin. Akan tetapi, ketika aku 
melihat baju dan sepatu yang kupakai, hal itu membuatku merasa tidak 
lagi ingin pergi ke gereja. Setiap jemaat pasti sudah tahu bahwa kami 
adalah keluarga miskin! Aku juga berpikir tentang sekolah. Saat itu, 
aku SMA kelas 1 dan meraih ranking 1 di antara 100 murid yang ada. 
Namun, apakah teman-teman di sekolah juga mengetahui bahwa aku 
termasuk orang miskin? Ingin rasanya aku memutuskan untuk keluar dari 
sekolah karena toh aku telah menyelesaikan SMP dan telah memenuhi 
batas wajib belajar yang ditentukan aturan hukum yang berlaku saat 
itu.

Kami duduk dan diam sepanjang sisa hari Minggu itu. Ketika hari 
menjadi gelap, kami semua langsung pergi tidur. Sepanjang minggu itu, 
kami bertiga pergi ke sekolah dan langsung pulang ke rumah. Tidak ada 
selera untuk bercanda dan berbicara sama sekali. Ketika hari Sabtu 
tiba, Mama menanyakan apa yang ingin kami lakukan dengan uang 
persembahan itu. Apa yang kira-kira akan dilakukan orang miskin bila 
mendapatkan uang? Kami tidak tahu karena selama ini, kami tidak pernah 
merasa bahwa kami orang miskin.

Kami bertiga sebenarnya tidak ingin pergi ke gereja pada hari Minggu 
itu, tetapi Mama mengatakan bahwa kami harus tetap beribadah. Meskipun 
matahari bersinar cerah, kami sama sekali tidak berbicara sepanjang 
perjalanan ke gereja. Mama mulai menyanyikan sebuah pujian, tetapi tak 
satu pun dari kami yang turut menyanyi dan Mama hanya menyanyikannya 
satu bait saja. Ada seorang misionaris yang datang berkhotbah di 
gereja kami Minggu itu. Dia menceritakan tentang bagaimana gereja-
gereja di Afrika dibangun dengan menggunakan batu bata yang 
dikeringkan dengan tenaga matahari, dan gereja-gereja itu masih 
membutuhkan uang untuk membuat atap gereja. Misionaris ini mengatakan 
bahwa dibutuhkan sejumlah uang untuk membuat atap gereja mereka. 
Pendeta gereja kami mengimbau, "Dapatkah kita memberi persembahan 
untuk menolong orang-orang di Afrika untuk membangun atap gereja 
mereka di sana?"

Kami saling berpandangan dan untuk pertama kalinya sepanjang minggu 
itu, kami tersenyum. Mama dengan cepat mengambil amplop uang dari 
dompetnya. Dia memberikannya pada Darlene, lalu Darlene memberikannya 
kepadaku, dan langsung kuberikan ke Ocy, dan Ocy meletakkannya di 
kantong persembahan. Ketika persembahan itu dihitung, majelis 
mengumumkan bahwa jumlah seluruh persembahan yang terkumpul sudah 
cukup untuk membuat atap gereja-gereja di Afrika tersebut. Misionaris 
itu pun merasa senang. Dia tidak menyangka akan mendapat persembahan 
yang begitu besar dari gereja yang kecil ini. Misionaris itu berkata, 
"Pasti ada orang-orang kaya di gereja ini."

Perkataan itu menyentuh kami! Kamilah yang mempersembahkan paling 
banyak dari total persembahan tadi! Bukankah misionaris itu yang 
mengatakan bahwa kami kaya? Sejak saat itu, aku tidak pernah merasa 
miskin lagi. Aku selalu ingat betapa kayanya aku karena memiliki Yesus 
dalam hidupku.

Sumber asli: http://sabda.org/publikasi/misi/2001/14/

Diambil dan disunting dari:
Nama situs: Situs Paskah Indonesia
Alamat URL: http://paskah.sabda.org/paskah_terindah
Penulis: David G.
Tanggal akses: 10 Februari 2014


              BAHAN MENGAJAR: MENJADI SAHABAT SEJATI

I. BACAAN
1 Samuel 20:1-42
Amsal 17:17; Yohanes 15:9-17

II. GAGASAN UTAMA Persahabatan yang sejati membutuhkan kasih dan sikap 
rela berkorban dari kedua belah pihak. Menjadi sahabat sejati bukan 
hanya pada saat bersenang-senang saja, melainkan juga pada saat 
sahabatnya susah dan menderita.

III. TUJUAN

- Remaja dapat menceritakan ulang nilai-nilai persahabatan sejati dari 
  kisah antara Yonathan dan Daud.
- Remaja dapat membagikan pengalamannya menjadi seorang sahabat.

IV. PENJELASAN PERIKOP

1. Kisah Yonathan dan Daud adalah salah satu kisah yang menceritakan 
persahabatan yang mengharukan. Nilai-nilai persahabatan yang 
terkandung amat baik untuk diteladani.

2. Karena kebencian Saul kepada Daud, bahkan sampai-sampai berniat 
membunuhnya, hubungan persahabatan antara Daud dan Yonathan 
mendapatkan ujian. Bagi Yonathan, jelas sekali kalau posisinya amat 
tidak menguntungkan. Di satu sisi, ia adalah anak Saul, namun di sisi 
yang lain Daud adalah sahabatnya. Apalagi Yonathan mencintai Saul dan 
Daud sekaligus!

3. Sebagai sahabat yang baik, Yonathan mengangkat sumpah, demi 
kasihnya kepada Daud, bahwa ia akan menyelidiki perasaan ayahnya 
terhadap sahabatnya itu, setelah Daud melaporkan kalau ia akan dibunuh 
oleh Saul, ayahnya. Ini bukan berarti Yonathan berpihak kepada Daud 
atau durhaka terhadap ayahnya. Yonathan ingin bersikap adil dan 
mendasarkannya pada kebenaran. Menjadi sahabat yang baik bukan berarti 
mendukung sahabatnya secara membabi buta, tetapi tetap dengan prinsip 
kebenaran dan keadilan.

4. Kemudian, Daud dan Yonathan berjanji. Ini berarti bahwa 
persahabatan yang sejati membutuhkan peran yang sama besarnya dari 
kedua belah pihak. Apa jadinya kalau persahabatan itu hanya bertepuk 
sebelah tangan saja? Yonathan menginginkan persahabatan yang abadi, 
bahkan sampai kepada keturunan-keturunannya, sekalipun ia telah mati. 
Satu hal yang indah lagi, Yonathan mengasihi Daud seperti ia mengasihi 
dirinya sendiri. Memperlakukan seorang sahabat seperti dirinya 
sendiri? Ya, itulah yang dilakukan oleh Yonathan kepada Daud (ayat 
17).

5. Sahabat yang baik selalu siap menawarkan pertolongan kepada 
sahabatnya yang menderita. Demikian juga, Yonathan bersedia memberikan 
pertolongan kepada sahabatnya, yaitu dengan memberikan petunjuk-
petunjuk kepada Daud supaya sahabatnya itu mendapatkan keselamatan 
jiwanya. Dalam cerita, tampak dengan jelas, Yonathan melakukan itu 
dengan amat cerdik. Apakah pengorbanan yang dilakukan itu tanpa 
risiko? Jelas setiap pengorbanan selalu diikuti dengan risiko. Risiko 
yang harus dihadapi Yonathan adalah kemarahan ayahnya yang bisa 
berakibat fatal bagi dirinya.

V. DISKUSI

1. Apakah kalian mempunyai seorang sahabat? Lebih banyak senang atau 
   susah memiliki seorang sahabat dalam hidup kita? (Kalau memungkinkan, 
   bagilah remaja dalam kelompok supaya remaja dapat mendiskusikan 
   pengalaman-pengalaman mereka mempunyai sahabat.)

2. Ajaklah remaja untuk membaca bagian Alkitab yang menjadi bahan saat 
   ini, berikanlah tugas kepada remaja untuk mencari nilai-nilai atau 
   prinsip-prinsip persahabatan dari persahabatan Yonathan dan Daud.

Prinsip-prinsip itu antara lain:

- Persahabatan sejati tidak mencari keuntungan-keuntungan pribadi.
- Persahabatan sejati adalah abadi, tidak dapat dibatasi oleh apa pun.
- Persahabatan sejati membutuhkan cinta, kasih, dan pengorbanan.
- Persahabatan sejati tidak bertepuk sebelah tangan.
- Persahabatan sejati berarti memperlakukan sahabatnya seperti ia 
  memperlakukan dirinya sendiri.
- Persahabatan sejati selalu siap memberikan pertolongan kepada 
  sahabatnya.
- Persahabatan sejati tidak takut pada risiko yang harus dihadapi.

3. Diskusikan kembali dalam kelompok:
   
   a. Manakah di antara prinsip-prinsip itu yang sudah sering kita 
      lakukan? Pilihlah mana yang paling sulit dilakukan dan mana yang 
      mudah dilakukan. Mengapa?
   b. Carilah prinsip-prinsip persahabatan yang lain.
   c. Mengapa sering kali terjadi perpisahan dengan orang yang pernah 
      menjadi sahabat kita?
   d. Bagaimana agar prinsip-prinsip tersebut dapat tertanam dalam 
      kehidupan kita sehingga persahabatan kita menjadi langgeng?

4. Hasil diskusi kelompok dapat dipresentasikan pada pleno sehingga 
masing-masing kelompok dapat diperkaya oleh kelompok-kelompok yang 
lain.

VI. KEGIATAN KREATIF

Surat untuk Sahabat: Buatlah sepucuk surat atau puisi kepada seorang 
sahabat yang isinya sesuai dengan tema hari ini. Surat yang dibuat 
sebaiknya benar-benar dikirimkan.

Diambil dan disunting dari:
Judul buku: Derap Remaja - Bahan Pembinaan Remaja GKI Jateng
Judul bab: Menjadi Sahabat Sejati
Penulis: Tim Penyusun Derap Remaja
Penerbit: Departemen Pembinaan - Badan Pekerja Majelis Sinode GKI Jawa Tengah, Jakarta 1997
Halaman: 138 -- 141


Kontak: binasiswa(at)sabda.org
Redaksi: Adiana, Bayu, dan Amidya
Berlangganan: subscribe-i-kan-untuk-siswa(at)hub.xc.org
Berhenti: unsubscribe-i-kan-untuk-siswa(at)hub.xc.org
Arsip: http://sabda.org/publikasi/e-binasiswa/arsip
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
(c) 2014 -- Yayasan Lembaga SABDA < http://ylsa.org >

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org