Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/775

e-BinaAnak edisi 775 (20-6-2018)

Anak dan Doktrin

e-BinaAnak -- Edisi 775/Juni/2018
 
Anak dan Doktrin
e-BinaAnak -- Edisi 775/Juni/2018
 

e-BinaAnak

Salam kasih,

Sebagai orang percaya, tentu kita tidak asing saat mendengar tentang pengajaran akan Allah Tritunggal, keselamatan, gereja, dan masih banyak lagi. Pengajaran-pengajaran tersebut adalah hal-hal yang membentuk pengertian tentang hal-hal yang kita imani, yang nantinya akan ditularkan kepada generasi mendatang, anak layan kita. Namun, apakah anak layan kita juga sudah mengerti dengan benar tentang hal tersebut? Sudahkah selama ini kita memberikan ajaran yang benar kepada mereka?

Pada edisi kali ini, redaksi menyajikan artikel tentang lima ajaran yang tidak alkitabiah, yang kiranya mengajak kita untuk mengoreksi kembali setiap pengajaran yang pernah kita sampaikan kepada anak layan kita. Disediakan pula tip bagi kita yang ingin menjelaskan Tritunggal kepada anak-anak serta bahan mengajar yang kiranya memberikan pemahaman kepada anak layan kita tentang kemahahadiran Allah Roh Kudus.

Tika

Pemimpin Redaksi e-BinaAnak,
Rostika

 

MUTIARA GURU

<a target='_blank' href='http://alkitab.mobi/?Yesaya+55:8'>Yesaya 55:8</a>

 

ARTIKEL Lima Ajaran Tidak Alkitabiah yang Diajarkan Orang Kristen kepada Anak-Anak

Saya mem-posting dalam Facebook saya daftar yang bagus tentang doktrin yang merusak anak-anak, yang ditulis oleh Jim Palmer beberapa bulan yang lalu. Postingan itu mendapat lebih dari 40 tanda suka (like), tetapi beberapa orang bingung tentang posisi saya sendiri pada hal-hal yang disajikan.

Gambar: Keluarga

Jumlah orang tua dan orang-orang muda yang bukan orang tua yang menganggap daftar itu sebagai kebenaran dan nilai yang pantas untuk anak-anak mengejutkan saya. Karena sangat menyayangi anak-anak, membuat saya menjadi orang jahat bagi orang-orang ini.

Matius 7:16 mengatakan “buah Anggur tidak dipetik dari semak duri, atau buah ara dari rumput duri”.

Yesus mengatakan hal itu. Hei teman-teman, Dia mungkin sedang menyatakan sesuatu. Saya bisa saja melenceng terlalu jauh dengan metafora tersebut, tetapi katakanlah rumput duri dikategorikan sebagai hal yang buruk, dan buah seperti anggur dan ara dikategorikan hal yang baik.

Jika Anda mengajari anak-anak hal-hal yang penuh kebencian, mereka tidak akan berubah menjadi orang yang penuh kasih. Bahkan, mereka mungkin hanya akan melestarikan siklus kekerasan emosional dan spiritual dari orang tua ke anak. Sangat jelas, jika pohon yang buruk menghasilkan buah yang buruk.

Sekilas, daftar ini terlihat seperti argumen-argumen lemah yang hiperbolik. Saya telah bertemu dengan sangat banyak orang yang bertumbuh dewasa dengan pemikiran dalam istilah-istilah ini setelah menghabiskan waktu di dalam gereja dan keluarga-keluarga Kristen, jadi saya menentang istilah-istilah yang persis sama ini diajarkan dan bahwa itu seharusnya tidak diajarkan lagi.

Inilah daftarnya, dan mengapa saya pikir kelima doktrin ini merusak anak-anak:

1. Memberitahukan anak-anak bahwa mereka dilahirkan ke dunia ini dengan keburukan dari dalam dirinya, tidak berharga, dan menjijikkan di hadapan Tuhan.

Saya dituduh meragukan dosa asal untuk tiga doktrin pertama yang ada dalam daftar ini. Masalahnya, bukan orang tua yang memberi tahu anak-anak mereka bahwa mereka telah berdosa dan membutuhkan Yesus. Saya telah bertemu banyak orang yang harus mengatasi masalah diri yang serius dan bunuh diri karena mereka diajar di sekolah rumah (home school), sekolah-sekolah Kristen, dan gereja mereka, “Kamu tidak berharga. Allah memandangmu dengan jijik”.

Itu aneh, karena saya selalu berpikir saya pastilah memiliki suatu nilai di hadapan Allah karena Allah berpikir saya layak diselamatkan. Ada perumpamaan yang tidak terhitung jumlahnya saat Yesus berbicara tentang kerajaan surga sebagai sesuatu yang dianggap tidak berharga oleh semua orang -- anak yang hilang, domba yang hilang -– justru yang dicari, dikasihi, dan disambut.

Seorang teman mengajak saya untuk menyaksikan pemutaran film tertutup dari dokumenter Blood Brother, dan di dalamnya dikisahkan anak-anak penderita AIDS di sebuah asrama di India yang diperintahkan untuk membenci diri mereka sendiri. Saya menuliskan kalimat “Darah Anda adalah racun”. Para pekerja di asrama membantu untuk menjaga anak-anak tetap sehat, tetapi juga berusaha semampu mereka untuk memulihkan mereka dari rasa benci terhadap diri sendiri yang telah dikembangkan anak-anak ini. Tujuannya adalah untuk memberi tahu anak-anak bahwa dengan sakit yang mereka derita, tidak berarti bahwa mereka tidak berharga atau pada dasarnya buruk. Mereka layak mendapatkan semua obat serta cinta dan perawatan yang dibutuhkan untuk membuat mereka tahu betapa pentingnya mereka.

2. Memberi tahu anak-anak bahwa keberdosaan mereka begitu buruk sehingga tidak ada pilihan kecuali untuk menganiaya, menyiksa, dan membunuh Putra-Nya.

Penyaliban adalah cara yang sangat brutal untuk mati, untuk dikatakan secara halus. Mel Gibson, produser The Passion of the Christ, harus mengurangi kekerasan di dalam filmnya untuk mendapatkan rating R (tidak boleh ditonton di bawah usia 17 tahun tanpa bimbingan orang tua atau mentor dewasa - Red.). Saya ingat mempelajari lebih banyak rincian tentang pencambukan dan proses mati lemas ketika saya bertambah dewasa, tetapi saya tidak akan pernah mengharapkan orang tua untuk mengajarkan rincian itu kepada seorang anak kecil. Perjanjian Baru sendiri tidak terlalu jelas menggambarkan tentang hal itu -- saya menghafal di AWANA “Kristus mati bagi dosa-dosa kita menurut Kitab Suci ... dan bahwa Dia dikuburkan, dan bahwa Dia bangkit kembali pada hari ketiga sesuai dengan dengan Kitab Suci”.

Gagasan bahwa Tuhan tidak memiliki pilihan dalam persoalan ini adalah ekstrem, bahkan dalam sub-kepercayaan yang paling nihilistik dalam agama Kristen. Pembelajaran teologi saya sendiri telah meyakinkan saya bahwa kematian Kristus adalah pilihan-Nya sendiri. Sudah direncanakan, dijalani meski dengan menghadapi ketakutan dan pencobaan sebagai manusia. Akan tetapi, saya ingat beberapa khotbah yang menyinggung gagasan bahwa kematian Kristus adalah karena kesalahan kita -- kesalahan saya.

Gambar: Anak Bawa Salib

Ada satu momen yang paling saya ingat pada masa kecil saat di sekolah minggu. Saya mungkin berusia lima tahun saat itu, bertanya kepada guru tentang Allah yang tidak melihat saya. Dia menjelaskan bahwa Allah membenci dosa saya, jadi saya harus dihukum untuk itu, jadi setiap kali Allah melihat saya, Dia melihat penyaliban Yesus. Tidak heran banyak orang membawa salib; mereka perlu melindungi diri dari Tuhan yang melihat diri mereka sebenarnya.

Karena itu, mengapa Daud, yang dikatakan telah menjadi “manusia yang berkenan di hati Allah”, melakukan begitu banyak penyelidikan jiwa? Jika dia menulis, “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” bukankah aneh bagi Allah untuk menginginkan anak-anak berpikir bahwa Dia tidak pernah ingin menyelidiki hati dan mengetahuinya secara intim, agar pengudusan dapat terjadi? Anak-anak harus diajar bahwa Allah pertama-tama melihat dan mengasihi mereka, apa pun yang mereka lakukan (Roma 5:8), dan bukanlah salah mereka jika Yesus mati. Yesus mengasihi mereka, jadi Dia ingin mati untuk menggantikan mereka.

3. Memberi tahu anak-anak bahwa tidak ada yang baik dalam diri mereka, dan bahwa mereka tidak boleh memercayai pikiran dan perasaan mereka.

Gagasan ini juga terkait dengan dosa asal, tetapi yang menemukan akarnya dalam suatu ayat spesifik, Yeremia 17:9, yang berkata, “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, siapakah yang dapat mengetahuinya?” Hal yang aneh adalah ayat yang berikutnya menjawab pertanyaan itu: Allah dapat mengetahui hati. Itu sebabnya, John Eldredge menjelaskan dalam bukunya, Waking the Dead,

“Menyatakan dengan hati yang tidak bijak dapat membawa banyak luka dan kehancuran, dan setelah itu kita akan dipermalukan kembali ke dalam Injil Manajemen Dosa, dengan menyimpulkan bahwa hati kita buruk. Itu tidaklah buruk, itu hanya muda dan tidak bijaksana.”

Dia memperkenalkan gagasan “kemuliaan asal, yang ada sebelum dosa dan berada jauh di dalam sifat kita”. Ya, hati kita menipu. Namun, Allah mengetahui hati, dan menyelidiki hati (Roma 5), dan mengetahui apa pikiran dari Roh, dan berdoa bagi kita. Jadi, memercayai naluri dan berpikir untuk diri mereka sendiri adalah sesuatu yang seharusnya dapat dilakukan oleh anak-anak karena Allah menciptakan pikiran, perasaan, dan naluri tersebut.

Siapa pun yang takut mempertanyakan, takut terbukti bersalah. Jika orang tua dan guru yakin bahwa (pemahaman) mereka lebih kuat, mereka seharusnya tidak takut terhadap pertanyaan anak-anak.

Saya telah bertemu dengan beberapa orang yang tumbuh dewasa dan berpikir bahwa Allah tidak lagi berbicara. Jika Dia berbicara, beberapa orang dewasa memberi tahu saya, bahwa Dia tidak akan berbicara kepada anak-anak atau wanita. Hanya pihak berwenang yang bertanggung jawab untuk menentukan apa yang dikatakan oleh Allah. Ini adalah masalah, baik bagi umat Katolik maupun Protestan. Selain itu, orang-orang yang membaca Alkitab dan menyimpulkan bahwa mungkin Allah masih berbicara, diberi tahu bahwa mereka “tidak boleh memercayai perasaan mereka”.

Memberi tahu anak-anak bahwa mereka tidak boleh berpikir menurut diri mereka sendiri membuat mereka patuh. Itu bukan “membebaskan para tawanan”, seperti yang Kristus lakukan. Lebih buruk bagi orang Kristen, itu berarti melakukan penghujatan membatasi Allah. Ada sebuah kisah dalam Perjanjian Lama tentang Samuel, yang mendengar suara Allah. Pembimbingnya tidak menyuruhnya untuk tidak memercayai apa yang dia pikir didengarnya. Dia menyuruhnya untuk mendengarkan. Begitulah cara seorang nabi besar diperkenalkan kepada Allah -- sebagai seorang anak.

4. Menggunakan rasa takut atau malu sebagai sarana untuk mengikat anak-anak pada keyakinan atau praktik tertentu yang terkait dengan Allah.

Menggunakan rasa takut dan malu adalah melawan narasi kristiani. Ketika saya masih kecil, saya menghafal Timotius 1:7, “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” Jadi, mengejutkan saya ketika sepanjang waktu bertemu dan mendengar tentang orang-orang Kristen -- ratusan lebih jumlahnya seiring dengan tahun-tahun berlalu -- yang menggunakan alat-alat yang secara khusus ditentang Allah. Apakah rasa takut lebih efektif dalam mendapatkan pengikut? Adukan kepada Allah tentang, yang disebut sebagai pemimpin spiritual. Karena itu bukanlah pesan kekristenan, dan ketika Anda menggunakan rasa takut untuk mengendalikan orang, kedengarannya seperti Anda menempatkan diri Anda di atas Allah yang Anda katakan Anda tunduk kepada-Nya.

Mengenai rasa malu, setahu saya itu digunakan satu kali, dan itu bukan untuk mengikat seseorang pada suatu keyakinan. Itu adalah untuk menasihati orang-orang yang sudah percaya, ketika Paulus menyebut dosa orang-orang Korintus dan berkata, “Hal ini kukatakan untuk memalukan kamu.” Penggunaan kata “malu” sebagian besar berbicara tentang Yesus yang menerimanya supaya anak-anak tumbuh besar untuk menyembah Allah tidak menjadi malu lagi.

5. Mengajar anak-anak bahwa penolakan, kebencian, atau perendahan pada manusia lain merupakan ungkapan pengabdian kepada Allah.

Hal yang paling memilukan tentang hal yang satu ini adalah betapa besar ketidakpahaman mereka. Orang tua dapat dengan mudah membaca hal ini dan menyetujuinya, sementara anak-anak mereka hanya meniru apa yang orang tua lakukan lebih daripada apa yang dikatakan. Anak-anak belajar melalui teladan, dan setiap kali orang dewasa mengatakan sesuatu yang negatif tentang orang-orang dari agama, ras, atau orientasi seksual yeng berbeda, mendukungnya dengan alasan pengabdian kepada Allah yang mengajarkan hal ini. Agama Kristen tidak pernah mengajarkan untuk menolak atau merendahkan orang-orang karena dosa-dosa mereka yang terlihat atau keyakinan yang salah. Jika Yesus mengajarkan bahwa perintah pertama adalah kasih, jangan tambahkan apa pun sampai kasih itu dilakukan dengan tepat.

Waspadai ketidakpahaman di sekitar anak-anak karena prasangka politik dan budaya akan diwariskan. Hal-hal yang baik tidak datang dari kebencian, dan setiap ajaran ini merupakan representasi palsu dari kekristenan. (t/N. Risanti)

Download Audio

Diterjemahkan dari:
Nama situs : HuffPost
Alamat situs : https://www.huffingtonpost.com/cynthia-jeub/five-unbiblical-doctrines_b_4624653.html
Judul asli artikel : Five Unbiblical Doctrines
Penulis artikel : Cynthia Jeub
Tanggal akses : 23 Mei 2018
 

TIP Bagaimana Anda Menjelaskan Tritunggal kepada Anak-Anak?

Kemarin, seorang teman wartawan mengirim email untuk mengajukan pertanyaan, yang saya pikir banyak ditanyakan oleh orang tua Kristen. Bagaimana menjelaskan konsep Tritunggal Mahakudus kepada anak-anak?

Gambar: Simbol Tritunggal

Saya pikir, alasan mengapa pertanyaan ini bergema kepada begitu banyak orang tua adalah karena kita, orang dewasa, tidak dapat secara memadai menjelaskan doktrin itu sendiri. Kita dapat mengajarkan anak-anak ineransi/ketidakbersalahan Alkitab hanya dengan berkata, “Alkitab itu Benar.” Kita dapat menjelaskan sesuatu tentang penebusan dengan berkata, “Yesus membayar dosa-dosa kita dan Yang hidup untuk selama-lamanya.” Namun, Trinitas adalah masalah lain.

Saya pikir, kebanyakan dari rasa takut dan batu sandungan kita di sini berasal dari kesalahpahaman tentang apa itu Injil Kristen. Ya, agama Kristen masuk akal dan dapat dipahami (Carl Henry menegaskannya).

Akan tetapi, kekristenan bukan hanya tentang akal dan kecerdasan. Injil menunjuk pada jenis kebijaksanaan yang berbeda, yang membungkam mulut manusia (Yesaya 55:8; Yeremia 8:9; 1 Korintus 1:19-20).

Allah adalah Esa, dan Allah adalah tiga pribadi dalam hubungan yang kekal satu sama lain, hubungan yang kita diundang ke dalamnya. Itu tidaklah bersifat kontradiktif. Meski esa, Allah Bapa tidak sama dengan Allah Anak maupun Allah Roh Kudus, dan juga sebaliknya. Namun, siapa yang bisa menyederhanakan ini menjadi semacam rumus atau analogi yang mudah?

Terkadang, kita mencari analogi yang cepat untuk anak-anak karena kita ingin menyingkirkan anak-anak kita dari misteri mereka. Jika Tritunggal adalah penjelasan yang mudah (itu seperti shamrock [tanaman berdaun tiga - Red.]; itu seperti air, es, dan uap), kita dapat “beralih dari hal itu”. Kita takut, jika kita mengatakan bahwa Tritunggal dalam beberapa hal berada di luar pemahaman maka mereka tidak akan memercayai kita untuk menyatakan dengan yakin tentang kebenaran Injil.

Akan tetapi, Yesus memberi tahu kita ada sesuatu tentang cara memercayai yang dilakukan seorang anak yang seharusnya benar bagi kita semua. Kita harus, Yesus memberi tahu kita, menjadi seperti mereka jika kita benar-benar ingin memasuki kerajaan Allah. Pada satu sisi, adalah benar bahwa anak-anak sering kali bersifat terlalu harfiah. Saya ingat ketika masih kecil pernah berpikir bahwa “jiwa” adalah versi kecil dari diri saya yang terletak di salah satu ruang di hati saya (dan mengenakan seragam tentara, entah untuk apa).

Akan tetapi, sering kali anak-anak lebih terbuka terhadap misteri dan paradoks daripada orang dewasa. Anak-anak menjelajahi dunia di sekitar mereka dengan rasa heran yang besar. Mereka tidak memahami semuanya, dan mereka tahu bahwa mereka tidak memahami semuanya.

Itu adalah jenis ketidaktahuan yang diberkati, yang saya percaya Yesus hargai. Ketidaktahuan semacam itulah yang saya percaya dikehendaki oleh Yesus. Untuk percaya, Anda harus memercayai semua yang Allah katakan kepada Anda, tetapi Anda juga harus melihat-Nya -- bukan kepada pemahaman Anda sendiri -- sebagai Tuhan. Bahkan, untuk bisa melihat sedikit saja, kita harus mengetahui bahwa kita “melihat dalam cermin, suatu gambaran yang samar-samar” (1 Kor. 13:12).

Dengan demikian, kita harus dengan berani menyatakan kepada anak-anak kita, “Allah adalah Esa dan Allah adalah tiga (pribadi). Saya tidak dapat sepenuhnya menjelaskan semua hal itu karena sebesar itulah kebesaran dan sifat misterius Allah dan jalan-Nya. Bukankah itu luar biasa?”

Ketika anak Anda berkata, “Itu mengejutkan pikiranku,” janganlah menanggapi dengan raut khawatir, tetapi dengan binar di mata Anda. “Saya tahu!” katakan demikian. “Saya juga berpikir hal yang sama! Bukankah itu melampaui akal, dan hebat!”

Itu tidak mengakhiri pembicaraan, tentu saja. Itu hanya akan mengawalinya. Akan tetapi, kita memiliki beberapa triliun tahun dan seterusnya untuk menjelajahi kedalaman realitas Trinitas. Sebuah awal adalah apa yang kita butuhkan.

Dan, mempelajari tentang keesaan dan ketritunggalan Allah dengan rasa heran dan takjub adalah awal yang baik, saya pikir, untuk mulai memvaksinasi anak-anak kita dari jenis rasionalisme steril, baik Kristen maupun ateis, yang dapat menyebabkan semacam kehidupan biasa yang membosankan, putus asa, dan tragis. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Russell Moore
Alamat situs : https://www.russellmoore.com/2012/09/10/how-do-you-explain-the-trinity-to-children/
Judul asli artikel : How Do You Explain the Trinity to Children?
Penulis : Russel Moore
Tanggal akses : 23 Mei 2018
 

BAHAN MENGAJAR Allah Roh Kudus Ada di Mana-Mana (Objek Pelajaran untuk Anak-Anak)

Pernahkah Anda ditanyai dengan pertanyaan berikut ini?

Bagaimana bisa Roh Kudus menjadi pribadi dalam Tritunggal, tetapi tidak dapat dilihat dan tidak mengambil ruang seperti semua orang?

Ini adalah objek pelajaran sederhana yang menggabungkan ilmu pengetahuan untuk menunjukkan satu aspek dari doktrin Trinitas. Banyak anak yang mulai ingin tahu tentang Roh Kudus ketika mereka bertambah besar. Mereka berpikir tidaklah logis untuk menjadi pribadi dan tidak terlihat saat masih hidup. Berhati-hatilah, jangan sampai salah memberikan jawaban panteistik dan mengatakan bahwa Allah ada dalam segala hal! Itu berbeda dari mengatakan Allah ada di mana-mana (yang disebut kemahahadiran Allah. (Lihat Mazmur 139:7-10).

Bahan-Bahan yang Dibutuhkan

  • Handuk kertas
  • 2 Cangkir besar atau gelas
  • Bak air (meski bak lebih baik, sebuah ember tetap berguna)

Pengaturan

Jadi, bagaimana Anda menjawab pertanyaan di atas? Saya telah menemukan eksperimen sederhana yang akan membantu anak-anak untuk memahami bagaimana sesuatu mungkin saja ada meskipun tidak terlihat dan tidak mengambil ruang. Tanyakan kepada anak-anak apakah mereka dapat memikirkan sesuatu yang mereka gunakan setiap hari yang sama seperti ini? Biarkan mereka memberi jawaban. Beberapa anak didik Anda yang lebih besar mungkin menjawab dengan benar, tetapi banyak yang tidak akan berpikir secara benar. (Jawaban yang benar adalah Oksigen, tetapi jangan mengatakannya dahulu!)

Percobaan

Gambar: Gelas berisi handuk yang dimasukkan di dalam air

Isi bak dengan air. Ambil handuk kertas dan letakkan di dalam cangkir. Tanyakan kepada anak-anak apa yang akan terjadi jika Anda menaruh cangkir di dalam air -- apakah handuk akan basah atau akan tetap kering? Biarkan ada beberapa jawaban. Agaknya, anak-anak akan memberikan jawaban -- basah dan kering.

Pertama, tunjukkan kepada mereka bagaimana handuk kertas tetap kering dengan menempatkan cangkir tegak lurus di dalam air. Udara dalam cangkir akan memaksa air di sekitar cangkir membuat kertas handuk tetap kering. Saat Anda menunjukkan handuk kertas yang tetap kering, jelaskan kepada anak-anak bahwa kita tidak melihat udara dan bahwa segala sesuatu di dalam ruangan dikelilingi oleh udara, tetapi akan terlihat bahwa udara tidak memenuhi ruang apa pun. Namun, udara memenuhi ruang di dalam cangkir sehingga air tidak bisa menyentuhnya.

Teori ilmiahnya adalah bahwa kantong udara di dalam cangkir tidak dapat pergi sehingga mencegah air agar tidak masuk ke dalam cangkir.

Penjelasan

Meskipun kita tidak dapat melihat udara, kita dapat melihat bahwa ia memiliki dampak yang dapat dilihat. Inilah kebenaran untuk Roh Kudus. Mereka yang memiliki Roh Kudus yang tidak terlihat, yang hidup dalam mereka akan memiliki bukti nyata. Pada saat itu, gunakan kesempatan untuk membacakan Galatia 5:22-25. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Ministry-To-Children
Alamat situs : https://ministry-to-children.com/god-the-holy-spirit-is-everywhere-object-lesson-for-children/
Judul asli artikel : God the Holy Spirit Is Everywhere (Object Lesson for Children)
Penulis artikel : Terry Delaney
Tanggal akses : 23 Mei 2018
 
Anda terdaftar dengan alamat: $subst('Recip.EmailAddr').
Anda menerima publikasi ini karena Anda berlangganan publikasi e-BinaAnak.
binaanak@sabda.org
e-BinaAnak
@sabdabinaanak
Redaksi: Rostika, Ariel, dan Davida
Berlangganan | Berhenti | Arsip
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
©, 2018 -- Yayasan Lembaga SABDA
 

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org