Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/bio-kristi/35

Bio-Kristi edisi 35 (20-4-2009)

Grace Livingston Hill dan Robert Raikes Beechick

                                   
                          Buletin Elektronik
                   BIO-KRISTI (Biografi Kristiani)
________________________Edisi 035, April 2009_________________________

Isi Edisi Ini:
- Pengantar
- Riwayat: Grace Livingston Hill, Novelis yang Senantiasa Menyampaikan
           Pesan dari Tuhan
- Karya: Robert Raikes dan Kegerakan Sekolah Minggu
- Referensi
- Tahukah Anda: Bagaimanakah Kisah Sekolah Minggu di Afrika?
- Sisipan: Situs SABDA Alkitab: Teknologi untuk Belajar Alkitab

+ Pengantar __________________________________________________________

  Salam sejahtera,

  Setiap hari Minggu, mungkin Anda mengantar anak, keponakan, adik,
  atau saudara Anda ke sekolah minggu -- tempat di mana mereka
  diperkenalkan kepada Yesus dan dipersiapkan untuk menjadi
  saksi-saksi Kristus. Namun, meskipun kehidupan Anda dekat dengan
  dunia sekolah minggu, pernahkah Anda berpikir tentang siapakah yang
  merintis pelayanan sekolah minggu ini untuk pertama kalinya? Nah,
  pada edisi Bio-Kristi kali ini, kami ingin mengajak Anda berkenalan
  dengan tokoh perintis sekolah minggu, Robert Raikes. Beliau mulai
  merintis sekolah minggu di Inggris yang menjadi pelopor hadirnya
  sekolah minggu di beberapa tempat di dunia. Selain itu, kami juga
  menyajikan riwayat Grace Livingston Hill, penulis Amerika yang
  senantiasa membagikan cinta kasih dan kebaikan Tuhan melalui
  beberapa karyanya. Melalui novel dan tulisannya yang lain, dia
  berhasil menjadi berkat bagi banyak orang sampai saat ini.

  Dalam kolom Tahukah Anda, kami telah menyiapkan sebuah bahasan
  singkat tentang sekolah minggu di Afrika. Kami harap pelayanan
  mereka di sana bisa menjadi inspirasi bagi Anda, terutama mereka
  yang melayani di sekolah minggu supaya semakin dikuatkan dalam
  setiap pelayanannya. Selamat membaca dan menikmati sajian ini.
  Tuhan memberkati.

  Staf Redaksi Bio-Kristi,
  Yohanna Prita Amelia
  http://www.sabda.org/publikasi/Bio-Kristi/
  http://biokristi.sabda.org/
______________________________________________________________________

             Rahasia kedamaian yang dalam dan kepasrahan
                       hanya ada pada Kristus.

                       E. Schuyler -- Penulis

+ Riwayat ____________________________________________________________
1865 -- 1947 Penulis

                        GRACE LIVINGSTON HILL:
         NOVELIS YANG SENANTIASA MENYAMPAIKAN PESAN DARI TUHAN

  Grace Livingston Hill dikenal sebagai "Ratu Novel Kristen". Sewaktu
  muda, saya membaca semua novel karyanya yang bisa saya peroleh.
  Banyak orang dari kota kecil dan kota besar di seluruh negeri
  mengaguminya.

  Anak tunggal seorang pastor Presbiterian dan istrinya ini lahir
  sehari setelah peristiwa penembakan Lincoln. Grace diperkenalkan
  kepada tulisan oleh orang tuanya yang membacakannya buku cerita. Ia
  hidup melalui dua Perang Dunia dan melihat banyak perubahan terjadi
  di Amerika. Tulisannya mencerminkan apa yang sedang terjadi dan tak
  pernah ketinggalan zaman. Seorang peresensi harian "New York Times"
  menulis bahwa bukunya "lebih dari sekadar kenangan indah bagi ribuan
  orang; buku-buku itu juga menjadi objek pelajaran mengenai kehidupan
  dan pemikiran yang bersih". Dia sama sekali tidak pernah menyimpang
  dari hal itu. Editornya mengingatkan pembaca buku-bukunya bahwa
  "buku-buku karyanya selalu mengandung kearifan yang lemah-lembut dan
  kehidupan yang damai".

  Ketika suaminya meninggal secara tiba-tiba, Grace memutuskan untuk
  berkarier sebagai penulis. Novel pertamanya, "A Chautuqua Idyl"
  (1887), menjadi awal dari karier panjangnya. Ia mampu menghasilkan
  rata-rata dua novel dalam setahun. Ketika ia menjadi seorang janda
  dan merasakan semua beban tanggung jawabnya sebagai orang tua
  tunggal, Grace secara alamiah berpaling kepada Alkitab untuk mencari
  pertolongan. Ia menemukan pertolongan itu di Ulangan 33:25 dan
  mengambil ayat itu sebagai motto hidupnya: "Selama umurmu kiranya
  kekuatanmu." Menyebut ayat itu setiap hari, membantunya untuk
  percaya bahwa Tuhan akan memberikan kekuatan yang ia perlukan.

  Grace menyaksikan abad sembilan belas akan berakhir, dan orang-orang
  penasaran tentang apa yang akan terjadi di Amerika 100 tahun ke
  depan. Ia sendiri terlalu sibuk memerhatikan perayaan pergantian
  abad, dari abad ke-18 menuju abad ke-19. Ia sedang terburu-buru
  menyelesaikan sebuah buku dan memenuhi tenggat waktu penerbitnya.

  Pada awal abad baru itu, keuntungan dari tulisannya memampukannya
  membangun rumah impiannya -- jenis rumah yang sama seperti yang ia
  tulis dalam novel-novelnya. Dibangun dari batu, seperti yang selalu
  ia inginkan, rumah itu bermula dengan tiga tingkat. Rumah tersebut
  berubah tahun demi tahun sesuai dengan penambahan dan perubahan
  model yang Grace lakukan, sampai-sampai rumah itu menjadi jauh lebih
  besar -- memiliki empat belas buah kamar. Tetapi ia memang
  memerlukannya. Ibunya tinggal dengannya, begitu juga bibinya, dan
  setelah putri-putrinya menikah, mereka dan suami mereka dan
  kemudian para cucu juga tinggal bersamanya.

  Meskipun menulis adalah alatnya untuk menafkahi dirinya dan dua
  orang putrinya, Grace merasa bahwa menulis itu adalah panggilan dari
  Tuhan. Karena itu, ia menulis untuk menyampaikan dasar-dasar teguh
  mengenai kehidupan dan komitmen Kristen. Yang ia tulis memang
  sederhana, tetapi dengan keyakinan yang dalam. Sebuah novel yang
  berjudul "The Witness" (1939) menarik perhatian Sunday School Herald
  dan disoroti oleh Sunday School Herald selama beberapa waktu. Buku
  itu menjadi alat yang membuat banyak orang menjadi percaya kepada
  Kristus dan memperbarui komitmen kehidupan Kristen. Ia juga menulis
  kolom religius, "The Christian Endeavor Hour", dan bekerja sama
  dengan Evangeline Booth untuk menulis "The War Romance of Salvation
  Army" (1918).

  Grace tidak menulis buku-buku yang "best-seller" pada masanya, namun
  hal itu tidak mengusiknya. Penerbit sukses dan diakui, J.B.
  Lippincott Publishers di Philadelphia, berjanji akan menerbitkan
  salah satu bukunya, tetapi dengan syarat bahwa ia harus merevisinya.
  Ia terkejut. Tak lama kemudian, Tuan Lippincott menemuinya.
  Lippincott berbicara dengan lembut namun serius tentang apa yang
  buku -- juga penulis -- perlukan agar bisa sukses. Grace mendengar
  hal itu dengan perasaan takut. Maksud Lippincott sangat jelas, dan
  hal itu bertentangan dengan apa yang Grace ingin dengar. Menurut
  penerbit, tidaklah menjadi masalah untuk menulis sebuah novel dengan
  karakter yang bermoral tinggi dan baik menang atas yang jahat pada
  akhir cerita, namun novelnya tidak boleh memiliki "hal-hal yang ada
  sangkut pautnya dengan sekolah minggu". "Hal itu tidak akan membuat
  novel laku," kata penerbit itu tegas. "Buang Injilnya."

  Grace terlihat kecewa. Ia sudah menyetujui memberi Lippincott dua
  buku lainnya, dan ia harus menghargai kontrak itu. Namun, ia ingin
  membantu pembaca menemukan Juru Selamat dan menguatkan iman mereka.
  Ia berkonsentrasi menulis beberapa novel sejarah, namun tak pernah
  mengabaikan pesan kristiani yang harus disampaikannya. Ia bekerja
  keras menulisnya, menggabungkan roman dan petualangan, dan kadang
  misteri. Lippincott terus menerbitkan buku-buku Grace, dan namanya
  dimasukkan dalam daftar buku wajib baca.

  Grace juga diminta memberi kuliah, dan dengan bakat naturalnya dalam
  hal drama, ia memberi kuliah dengan gaya bicara yang informal. Grace
  juga dengan giat ambil bagian dalam mendukung apa yang disebut Old
  Leiper Church dan pelayanannya di antara para imigran Italia. Selama
  era Depresi Besar (Great Depression), banyak orang memerlukan
  bantuan, dan Grace datang kepada mereka dengan bantuan finansial.

  Di sela-sela kesibukannya, Grace mulai menghadiri serangkaian
  kelompok pemahaman Alkitab, dan ia mulai melihat Alkitab dalam
  sebuah cahaya baru. Hal ini membawa Grace kepada hubungan baru yang
  lebih mendalam dengan Tuhan dan sebuah keinginan untuk melayani Dia
  lebih lagi. "Tuhanlah yang memberiku talenta-talentaku," katanya.
  "Aku akan melakukan semua yang aku mampu untuk menunjukkan betapa
  aku bersyukur pada-Nya. Aku akan lebih banyak memakai waktu dan
  usahaku untuk menyebarkan Injil Kristus," katanya kepada putrinya.
  Dan hal itu benar-benar ia lakukan. Buku-bukunya menjadi lebih
  populer daripada sebelumnya. Meskipun dunia semakin sibuk dan gila,
  ia semakin banyak menerima surat dari orang-orang yang berterima
  kasih kepadanya karena telah menulis buku-buku itu. Walaupun
  beberapa bukunya berkenaan dengan masalah-masalah yang sedang
  terjadi -- seperti korupsi dan pemerasan, dan kesenangan palsu
  kehidupan orang-orang kaya -- tulisannya masih menarik bagi para
  pembaca yang mencari tempat singgah nyaman dalam kesusastraan.

  Ia berusia 75 tahun saat Jepang mengebom Pearl Harbor pada tanggal 7
  Desember 1941. Ia pernah mengalami hidup di tengah kengerian perang;
  ia cinta damai dan ingin setiap orang merasakannya. Berita-berita di
  koran-koran dan radio yang menceritakan tentang kengerian dan
  kekejaman sadis yang terjadi di Eropa dan Timur Jauh, membuatnya
  kecewa. Selama perang, buku-bukunya memaparkan persoalan-persoalan
  yang perang timbulkan. Bukunya, "A Girl to Come Home To", adalah
  tentang seorang veteran yang melihat pertempuran berdarah untuk
  pertama kalinya dan kemudian kecewa, sama dengan yang Grace rasakan.
  Novel itu bercerita tentang bagaimana seorang veteran menemukan
  kembali imannya saat pulang ke rumah. Buku itu membuatnya mendapat
  banyak surat, kebanyakan dari veteran yang merasakan hal yang sama
  dengan kisah di buku itu. Mereka berterima kasih atas tulisan
  mengenai persoalan-persoalan itu sehingga orang-orang yang berada di
  rumah, yang tidak mengalami kekejian perang, dapat memahami apa yang
  veteran-veteran itu perjuangkan saat mereka pulang ke kampung
  halamannya, kepada teman-teman dan keluarganya.

  Ketika Amerika Serikat menjatuhkan bom di Jepang pada tanggal 6
  Agustus, dan kemudian pada tanggal 9 Agustus 1945, Grace sangat
  tertekan. "Saya bukan lagi orang Amerika," katanya pada seorang
  temannya. Pada musim gugur 1946, dokter memvonisnya mengidap kanker.
  Operasi untuk mengangkat tumor lebih dari hanya sekadar membuat
  tubuhnya lemah. Pada bulan Januari 1947, buku terakhir Grace, "Where
  Two Ways Meet", diterbitkan. Meski ia sibuk, awal Februari ia
  memenuhi permintaan wawancara terakhir di rumahnya. Sang pewawancara
  mengajukan banyak pertanyaan mengenai kariernya sebagai penulis
  Kristen dan dalam artikel yang menyebutnya sebagai "salah satu
  novelis Amerika terfavorit dan paling produktif". Diperkirakan lebih
  dari 4 juta novel Grace telah dicetak di Amerika saja. Estimasi ini
  tidak termasuk cetakan ulang di kemudian hari dan yang diterbitkan
  di negara lain dan dalam bahasa lain, yang jika dihitung mungkin
  akan melipatgandakan jumlah buku tercetak di Amerika. Novel-novel
  itu masih dijual hingga hari ini dalam versi yang lebih kecil dan
  sampul tipis, serta tersedia di toko-toko buku.

  Saat pewawancara menanyakan mengenai bagaimana ia mampu merangkul
  pembaca dari beberapa generasi, ia menjawab, "Karena saya tidak
  menulis hanya demi menulis. Saya berusaha menyampaikan ... sebuah
  pesan, yang telah Tuhan berikan, dan mengerahkan semua kemampuan
  yang diberikan kepada saya untuk menyampaikannya. Apapun yang sudah
  dapat saya selesaikan, semuanya adalah karya Tuhan. Saya mencoba
  menuruti ajaran Tuhan dalam semua tulisan dan pemikiran saya."

  Grace Livingston Hill tak memiliki cukup umur untuk membaca hasil
  wawancara yang diterbitkan itu. Pada tangagl 23 Februari 1947, ia
  meninggalkan dunia di mana ia tak lagi merasa ada di rumahnya menuju
  ke tempat di mana ia tahu bahwa Juru Selamatnya telah menunggunya.
  (t/Adwin)

  Diterjemahkan dari:
  Judul buku: 100 Christian Women Who Changed the 20th Century
  Judul asli artikel: Grace Livingston Hill (1865-1947)
  Penulis: Helen Kooiman Hosier
  Penerbit: Flemming H. Revell, Michigan 2000
  Halaman: 33 -- 36

+ Karya ______________________________________________________________
1735 -- 1811 Pelayan Anak

              ROBERT RAIKES DAN KEGERAKAN SEKOLAH MINGGU

  Robert Raikes (1735 -- 1811) dikenal sebagai pelopor sekolah minggu.
  Meskipun dia bukan orang pertama yang menggagas berdirinya sekolah
  minggu, tetapi karyanya memelopori sekolah minggu sebagai institusi
  nasional di Inggris.

  Seperti George Whitefield, Raikes adalah warga negara Gloucester.
  Lebih muda dari pengkhotbah terkenal itu, dia lahir tepat pada saat
  pelayanan Whitefield mulai menarik perhatian dan berkembang di
  sebuah kota yang telah mengalami berkat kebangunan rohani. Ayahnya
  adalah seorang warga negara dan pengusaha terkemuka, pemilik
  Gloucester Journal yang kemudian diberikan kepada Robert Raikes pada
  tahun 1757. Karena peka terhadap kebutuhan yang ada di
  sekelilingnya, maka dia mulai menggunakan makalahnya untuk menarik
  perhatian orang banyak. Awal ia mulai menjadi perhatian masyarakat
  banyak adalah saat ia memerhatikan keadaan memprihatinkan beberapa
  tahanan di penjara Gloucester. Tidak ada pemenuhan kebutuhan yang
  layak untuk para tahanan miskin. Mereka yang tidak mendapatkan
  bantuan dari teman-teman atau sanak saudara harus mengemis makanan
  dari teman-teman sepenjara mereka. Untuk membantu masalah ini, dia
  membuat suatu pendekatan melalui makalahnya.

  Anak-Anak Berlarian ke Sana ke Mari

  Robert Raikes menyadari kebutuhan anak-anak yang orang tuanya tidak
  mampu menyekolahkan mereka. Pada tahun 1780, dia prihatin melihat
  anak-anak berlarian ke sana ke mari di kota pada hari Minggu dan
  mulai berpikir untuk mengadakan suatu sekolah. Pada awal tahun 1769,
  Hannah Ball, yang telah bertobat setelah mendengarkan khotbah John
  Wesley, telah mendirikan sebuah sekolah minggu di High Wycombe. Ada
  juga sebuah sekolah minggu yang diselenggarakan oleh Thomas King di
  Dessenter di dekat Dursley. Raikes adalah seorang anggota gereja
  yang setia dan ingin sekolahnya berkaitan erat dengan gerejanya. Dia
  kemudian berkonsultasi dengan Thomas Stock, seorang kurator setempat
  yang telah terlibat di sebuah sekolah di Berkshire. Stock rupanya
  diminta untuk membuat rencana dan Raikes yang menyediakan dananya.
  Pada bulan Juli tahun 1780, sebuah sekolah minggu berhasil didirikan
  di gereja St.Mary de Crypt di Gloucester. Ada dua sesi setiap hari
  Minggu dan empat wanita dibayar untuk mengajar anak-anak membaca dan
  belajar buku katekisasi (Prayer Book Catechism). Raikes terlibat
  aktif dalam kegiatan ini. Dia mengunjungi anak-anak di rumah mereka,
  meninjau perkembangan kemampuan membaca mereka, dan memberikan
  hadiah untuk mereka jika kemampuan baca mereka berkembang baik.

  Karyanya tersebut kemudian dipaparkan dalam sebuah artikel anonim di
  Gloucester Journal dan segera menarik perhatian banyak pihak. Tahun
  1788, karyanya diterima secara nasional ketika artikel itu dicetak
  ulang di Gentleman`s Magazine, sebuah majalah terkenal pada saat
  itu. Negara yang telah mendapat pengaruh besar dari Kebangunan
  Rohani Injili (Evangelical Revival) tersebut telah siap menerima hal
  seperti itu. Dalam 7 tahun, diperkirakan hampir seperempat juta
  anak-anak telah diajar di sekolah-sekolah minggu. Jumlah itu hampir
  sebesar 3 persen dari total jumlah populasi. Anak-anak yang
  diharapkan mengikuti kegiatan ini adalah mereka yang orang tuanya
  tidak mampu menyekolahkan mereka atau anak-anak yang sudah bekerja
  dan yang harus bekerja sepanjang minggu.

  Sebuah Wadah untuk Anak-Anak Kristen

  Jelas bahwa ada ladang yang luas yang harus dijangkau. Selain itu,
  jelas pula bahwa kebutuhan yang ada sangatlah besar, sehingga hal
  ini tidak mungkin dapat dipenuhi kecuali ada guru-guru sukarelawan
  yang dipersiapkan untuk memberikan waktu mereka. Tantangan pertama
  Raikes dalam memberikan pengajaran Kristen dasar adalah mengajar
  anak-anak untuk membaca. Tahun 1784, John Wesley mencatat dalam
  jurnalnya: "Saya menemui sekolah-sekolah ini berkembang di mana pun
  saya pergi. Mungkin Tuhan memiliki rencana yang tidak terpikirkan
  oleh manusia. Siapa tahu beberapa dari sekolah itu menjadi wadah
  untuk anak-anak Kristen?" Dia sangat tertarik terhadap usaha-usaha
  Raikes sehingga dia mencetak kembali laporan asli Raikes di Arminian
  Magazine agar apa yang dilakukan Raikes semakin dikenal luas.
  Minatnya jelas membantu membangkitkan minat para pengikutnya.

  Gereja Baptis London sangat membantu penyebaran sekolah minggu.
  William Fox merupakan seorang tukang gorden di Cheapside dan anggota
  Particular Baptist Church (Gereja Baptis Istimewa) di Prescot Street
  di bawah penggembalaan Abraham Booth. Pada tahun 1785, bersama
  dengan teman-temannya, dia mendirikan "Komunitas Pengembang dan
  Pendukung Sekolah Minggu" (Society for the Establishment and Support
  of Sunday Schools). Selama beberapa tahun, dia telah memikirkan
  cara-cara untuk dapat memberikan pendidikan gratis bagi orang-orang
  miskin, namun menyadari bahwa hal itu terlalu besar untuk
  dikerjakan. Dia kemudian mendengar usaha Raikes di Gloucester dan
  mengirim surat kepadanya, untuk belajar dari pengalamannya. Sekolah
  minggu tampaknya menjadi cara untuk maju dan dengan bantuan
  teman-teman seiman di kota London, dia menyampaikan
  rencana-rencananya. Dia mampu menyatukan pengurus gereja dan
  orang-orang bukan gereja dalam masyarakat yang akhirnya menjadi
  Persatuan Sekolah Minggu (Sunday School Union). William Fox
  mendorong setiap gereja untuk mendirikan sekolah minggu dan dalam
  waktu yang singkat ratusan sekolah minggu berdiri.

  Peristiwa itu terjadi beberapa tahun sebelum gerejanya sendiri
  merespons proposalnya. Hal ini mungkin disebabkan beberapa tahun
  sebelumnya Gereja Prescot Street telah mendiskusikan diadakannya
  kelas katekisasi yang dianggap sebagai cara yang terbaik untuk
  memenuhi kebutuhan yang ada. Akhirnya, pada tahun 1798, Gereja
  Prescot Street mendirikan sekolah minggu di Goodman’s Fields.
  Catatan awal sekolah ini memberikan sebuah gambaran bagaimana gereja
  Particular Baptist bekerja. Anak-anak yang menghadiri sekolah minggu
  diharapkan menghadiri kebaktian di Prescot Street Meeting. Sekolah
  minggu itu menyediakan seratus buku ejaan, Watts’s Songs for
  Children (kumpulan lagu anak-anak karya Watt) dan katekisasinya,
  serta tinta dan papan tulis. Selain itu, dana dikumpulkan untuk
  menyediakan pakaian bagi anak-anak miskin. Kemudian, kelas menulis
  untuk anak laki-laki mulai diadakan pada hari Senin malam. Beberapa
  sekolah tidak yakin apakah pelajaran menulis pada hari sabat itu
  pantas untuk dilakukan. Mungkin karena itulah Gereja, Prescot Street
  akhirnya mengadakan kelas hari Senin.

  Pembaruan Semangat

  Sementara karya Raikes di Gloucester terus menarik perhatian. Ratu
  Charlotte, istri Raja George III, mewawancarainya dan mendorong
  orang lain untuk mengikuti teladan yang Raikes berikan. Raikes terus
  memperluas minatnya dan terlibat dalam pendirian Gloucester
  Infirmary (Rumah Sakit Gloucester) dan penjara yang baru dan lebih
  baik. Dia merupakan teladan semangat reformasi sosial yang muncul
  setelah Kebangunan Injili Besar Abad ke-18 (Great Eighteenth Century
  Evangelical Awakening). Pendirian sekolah minggu merupakan bagian
  kecil dari perubahan sosial besar yang mengubah wajah masyarakat
  lebih dari seperempat abad kemudian. (t/Ratri)

  Diterjemahkan dari:
  Nama situs: Grace magazine.org
  Judul asli artikel: Robert Raikes and the Sunday School Movement
  Penulis: Robert W. Oliver
  Alamat URL: http://www.gracemagazine.org.uk/articles/historical/raikes.htm

+ Referensi __________________________________________________________

  Ingin mengetahui artikel lain yang mengupas sosok Robert Raikes?
  Silakan mengunjungi alamat di bawah ini.

  Robert Raikes Memulai Sekolah Minggu (1780)
  ==> http://misi.sabda.org/robert_raikes_memulai_sekolah_minggu

+ Tahukah Anda? ______________________________________________________

              BAGAIMANAKAH KISAH SEKOLAH MINGGU DI AFRIKA?

  Tahukah Anda, di Afrika, murid-murid datang ke sekolah minggu dengan
  bertelanjang kaki? Persembahan mereka lebih mirip sebutir jagung
  kering daripada koin. Mereka tahu jika hari itu adalah hari Minggu
  ketika mereka mendengar suara pukulan "lonceng gereja" yang terbuat
  dari pelek ban tua yang digantung di sebuah pohon. Anak-anak
  berjongkok di sebuah bangku gereja panjang di bawah atap jerami atau
  duduk di sebuah tikar jerami dan bahkan di atas tanah.

  Ayam-ayam, kambing-kambing, dan babi-babi berjalan kian kemari
  keluar masuk gereja. Anak-anak selalu menari ketika lagu sekolah
  minggu dinyanyikan. Drum dan "giring-giring" adalah satu-satunya
  alat musik yang dimainkan. Tidak ada satu pun anak yang memiliki
  buku, buku mewarnai, atau malam bekas. Guru mengajar dengan menulis
  di atas pasir menggunakan tongkat atau sebuah papan kasar yang dicat
  hitam. Mendramakan sebuah cerita adalah cara mengajar yang populer
  dan efektif. Beberapa anak bahkan berpura-pura menjadi babi atau
  keledai, dan membiarkan anak lain berperan sebagai "Yesus" yang
  menunggangginya ke Yerusalem. (t/Yohanna)

  Diterjemahkan dari:
  Nama situs: Ecmafica.com
  Judul asli artikel: Tell Me About An African Sunday School
  Penulis: Tidak dicantumkan
  Alamat URL: http://www.ecmafrica.org/Page.aspx?id=36271

+ Sisipan ____________________________________________________________

                       SITUS SABDA ALKITAB:
                 TEKNOLOGI UNTUK BELAJAR ALKITAB

  Apakah Anda ingin menggali ayat-ayat firman Tuhan dengan teliti dan
  mendalam? Atau, apakah Anda ingin mempersiapkan bahan Pelajaran
  Alkitab secara bertanggung jawab, namun tidak memiliki bahan-bahan
  dan alat-alat biblika yang lengkap?

  Yayasan Lembaga SABDA < http://www.ylsa.org > memberikan kabar
  gembira bagi Anda!

  Telah hadir, SABDA Alkitab, sebuah situs Alkitab multiversi dan
  multibahasa yang berisi bahan-bahan biblika seperti Tafsiran
  Alkitab, Catatan Kaki, Referensi Silang, Kamus Alkitab, dan Sistem
  Studi Peta. Tidak hanya itu, terdapat pula bahan-bahan pendukung
  lain seperti Sistem Studi Kata, Biblical Arts (karya seni yang
  berhubungan dengan Alkitab), Hymns (lagu-lagu himne), Artikel
  Teologi, Ilustrasi Khotbah, Alkitab Audio, dan sebagainya.
  Keseluruhan bahan tersebut telah dirancang sedemikian rupa sehingga
  dapat terintegrasi dalam sebuah sistem komputasi biblika (biblical
  computation system) dan menjadi alat bantu yang luar biasa untuk
  mempelajari dan mendalami Alkitab secara bertanggung jawab.

  Mempelajari Alkitab adalah tanggung jawab setiap orang percaya.
  Jadi, sudah saatnya kita meninggalkan alasan-alasan untuk tidak
  melakukannya. Segeralah kunjungi situs SABDA Alkitab ini di alamat:

  ==> http://alkitab.sabda.org

  Jika dalam kunjungan ke situs SABDA Alkitab Anda menemukan adanya
  kerusakan, masalah, kesulitan, atau ingin memberikan saran, silakan
  melaporkan ke "Laporan Masalah/Saran" yang tersedia di bagian bawah
  setiap halaman situs SABDA Alkitab ini.

  Sampaikan pula kabar gembira ini kepada rekan-rekan Anda!
______________________________________________________________________
Pimpinan redaksi: Kristina Dwi Lestari
Staf redaksi: Yohana Prita Amelia
Kontributor edisi ini: Adwin Agung Kurniawan
Isi dan bahan menjadi tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN
Copyright(c) BIO-KRISTI 2009
YLSA -- http://www.ylsa.org/
Situs Katalog -- http://katalog.sabda.org/
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati
______________________________________________________________________
Anda terdaftar dengan alamat email: $subst(`Recip.EmailAddr`)
Alamat berlangganan: < subscribe-i-kan-bio-kristi(at)hub.xc.org >
Alamat berhenti: < unsubscribe-i-kan-bio-kristi(at)hub.xc.org >
Kontak redaksi: < biokristi(at)sabda.org >
Alamat situs: http://biokristi.sabda.org/
Alamat forum: http://biokristi.sabda.org/forum/
Arsip Bio-Kristi: http://www.sabda.org/publikasi/Bio-Kristi
Blog SABDA: http://blog.sabda.org/

____________________BULETIN ELEKTRONIK BIO-KRISTI_____________________

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org