Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/berita_pesta/90

Berita PESTA edisi 90 (24-12-2014)

Desember/2014

Berita PESTA -- Edisi 90, Desember 2014

DAFTAR ISI
BERITA PESTA + POKOK DOA:
1. Pembukaan Kelas Natal 2014
2. Kalender Akademis PESTA 2015
3. Pendaftaran Kelas DIK dan DPA Januari/Februari 2015
ARTIKEL: TERLALU GEMBIRA UNTUK MERENUNG

Shalom,

Tiba saatnya kita memperingati Natal, yaitu hari kelahiran Mesias, 
Tuhan kita Yesus Kristus. Untuk itu, perkenankan kami, segenap staf 
PESTA, mengucapkan "Selamat Hari Natal" kepada seluruh pelanggan 
Berita PESTA. Limpahan kasih, sukacita, dan damai dari Allah kiranya 
tercurah bagi kita semua.

Sekaligus pada kesempatan ini, kita semua bersyukur kepada Allah yang 
telah membimbing dan menyertai kita melewati sepanjang tahun 2014. 
Biarlah kebaikan Tuhan sepanjang tahun ini menjadi bekal bagi kita 
untuk beriman bahwa Ia juga akan terus menyertai kita pada tahun-tahun 
mendatang.

Sebagai sajian terakhir untuk tahun ini, Berita PESTA mengajak kita 
semua untuk merenungkan sebuah artikel yang berjudul "Terlalu Gembira 
untuk Merenung". Kami berharap artikel ini dapat menjadi refleksi kita 
akan makna Natal dalam hidup kita. Selamat menyimak, Tuhan Yesus 
memberkati.

Pemimpin Redaksi Berita PESTA,
Amidya
< amidya(at)in-christ.net >
< http://pesta.org >


                             BERITA PESTA

1. Pembukaan Kelas Natal 2014

Natal dapat dirayakan dengan berbagai cara. Salah satu cara yang PESTA 
lakukan adalah dengan berkumpul dan berdiskusi dalam kelas Natal untuk 
semakin belajar tentang makna Natal. Kami bersyukur untuk kelas Natal 
November/Desember 2014 yang sedang berlangsung. Kami berharap, 22 
peserta dapat mengikuti setiap diskusi dengan baik. Biarlah berkat 
Tuhan membuat mereka semakin mantap merayakan Natal.

Pokok doa: Mari kita berdoa agar Tuhan memakai kelas Natal untuk 
menolong setiap peserta memahami makna Natal yang sejati dalam hidup 
mereka. Kiranya berkat Natal ini dapat mereka bagikan kepada lebih 
banyak orang lagi.

2. Kalender Akademis PESTA 2015

Puji Tuhan! Tim PESTA telah memasang kalender akademis PESTA tahun 
2015. Berikut ini adalah daftar kelas yang akan dibuka pada tahun 
2015.

a. Januari/Februari
     - Kelas Dasar-Dasar Iman Kristen (DIK)
     - Kelas Dasar Pengajaran Alkitab (DPA)
b. Maret/April
     - Kelas Paskah
     - Kelas Penulis Kristen yang Bertanggung Jawab (PKB)
c. Mei/Juni
     - Kelas Dasar-Dasar Iman Kristen (DIK)
     - Kelas Guru Sekolah Minggu (GSM)
d. Juli/Agustus
     - Kelas Apologetika untuk Awam I (AUA I)
     - Kelas Pembentukan Rohani Kristen (PRK)
e. September/Oktober
     - Kelas Dasar-Dasar Iman Kristen (DIK)
     - Kelas Pengantar Perjanjian Baru (PPB)
f. November/Desember
     - Kelas Orang Tua Kristen (OTK)
     - Kelas Natal

Pokok doa: Berdoalah kepada Tuhan Yesus agar kelas-kelas diskusi yang 
akan dibuka dapat menjadi berkat bagi setiap peserta yang 
mengikutinya. Doakan juga agar ada lebih banyak peserta yang mengikuti 
kelas-kelas ini tahun depan.

3. Pendaftaran Kelas DIK dan DPA Januari/Februari 2015

Awal tahun 2015, PESTA kembali membuka kelas diskusi Dasar-Dasar Iman 
Kristen (DIK) untuk para peserta baru; dan kelas Dasar Pengajaran 
Alkitab (DPA) untuk para peserta lanjutan. Menurut rencana, dua kelas 
diskusi perdana ini akan dilaksanakan pada pertengahan Januari 2015. 
Bagi para pembaca Berita PESTA yang ingin mengikuti kelas-kelas 
diskusi ini, harap mendaftarkan diri ke: < kusuma(at)in-christ.net > 
dengan mencantumkan kelas diskusi yang akan diikuti.

Pokok doa: Doakan agar Tuhan mengirim lebih banyak peserta untuk kelas 
DIK dan DPA supaya mereka dapat semakin mengerti prinsip-prinsip 
kebenaran firman Tuhan bagi hidup mereka.


              ARTIKEL: TERLALU GEMBIRA UNTUK MERENUNG

"Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah 
dikatakan kepada mereka tentang Anak itu ...." (Lukas 2:17-19)

Natal adalah kesempatan untuk pesta, itulah yang terjadi sekarang. 
Rasanya, Natal jadi kurang gereget kalau tidak disertai dengan 
gemerlap lampu dan pelbagai dekorasi Natal, berlimpahnya makanan, dan 
indahnya pakaian.

Natal juga merupakan kesempatan untuk memperagakan seluruh 
keterampilan warga gereja. Pelbagai pertunjukan bertemakan Natal 
dipersiapkan sampai berbulan-bulan. Akhirnya, terselenggaralah ibadah 
dan perayaan Natal yang sangat meriah, panjang, penuh atraksi, dan 
tentunya ... meletihkan.

Dengan semua itu, Natal diharapkan menjadi kesempatan bagi orang 
Kristen untuk mengekspresikan segenap sukacita dan kegembiraan mereka 
atas kelahiran Sang Juru Selamat!

Saya belum menikah, apalagi punya anak. Jadi, saya belum bisa 
menghayati sepenuhnya kegembiraan menantikan dan menyaksikan kelahiran 
seorang anak. Namun, saya yakin, bahwa ketika Tuhan Yesus lahir, Bunda 
Maria pasti sangat bergembira. Begitu juga Yusuf.

Surga pun bergembira. Para malaikat memuji Allah (Lukas 2:13).

Para gembala, yang termasuk masyarakat kelas bawah dalam tatanan 
sosial Yahudi, tentu turut bergembira ketika menerima kabar baik untuk 
mereka: "Hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Kristus, 
Tuhan, di kota Daud (ayat 11). Karena itu, tanpa menunda-nunda, mereka 
bersegera ke kota Daud untuk mencari Sang Bayi yang "dibungkus dengan 
lampin dan terbaring di dalam palungan".

Saya bayangkan, sesampai di kota kecil Betlehem, para gembala itu 
menyapa orang-orang yang mereka temui di sana. Mereka bertanya, "Di 
mana kami bisa menjumpai seorang bayi yang baru lahir dan dibaringkan 
di palungan?" Tentunya, semangat mereka menimbulkan minat dalam hati 
beberapa penduduk Betlehem untuk ikut mencari Sang Bayi misterius.

Akhirnya, rombongan itu menemukan apa yang mereka cari. Mereka 
"menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di 
dalam palungan" (ayat 16). Bayangkan "seru"-nya mereka bercerita 
tentang perjumpaan mereka dengan malaikat pembawa kabar baik di padang 
Efrata! Juga, tentang kabar baik itu sendiri!

Di sisi lain, saya melihat ekspresi yang lain dari para penduduk 
Betlehem yang mengikuti para gembala. Kitab Suci mencatat, "Dan semua 
orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-
gembala itu kepada mereka" (ayat 18). Ekspresi mereka adalah heran. 
Lukas tidak menjelaskan lebih lanjut apa yang mereka perbuat. Cuma 
heran. Titik.

Mari kita kembali kepada ekspresi para gembala. Setelah menjumpai Bayi 
Yesus dan bercerita tentang apa yang mereka alami dan dengar, 
kembalilah mereka kepada aktivitas mereka dengan sukacita, sambil 
memuji dan memuliakan Allah (ayat 20). Mengapa? "Karena segala sesuatu 
yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang 
telah dikatakan kepada mereka" (ayat 20). Setelah itu, tokoh-tokoh ini 
menghilang begitu saja.

Gambaran mengenai ekspresi kegembiraan para gembala hanyalah satu sisi 
dari gambaran kegembiraan Natal. Kegembiraan karena apa? Karena apa 
yang dapat didengar dan dilihat. Kalau mau ditambahkan, ... yang dapat 
diraba!

Apakah kegembiraan Natal hanya berhenti pada peristiwa Natal itu 
sendiri, tanpa kelanjutan?

Sekarang, mari kita perhatikan ekspresi Maria. Seperti telah saya 
sampaikan tadi, Maria pasti bergembira atas kelahiran Putranya. Namun, 
mendengar apa yang dikatakan para gembala tentang Sang Bayi, ia 
menunjukkan ekspresi kegembiraan yang berbeda: "Tetapi Maria menyimpan 
segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya" (ayat 19).

Malam itu, Maria melahirkan Putranya di tempat yang sangat tidak 
layak, di kandang binatang. Ia harus membaringkan Putranya di 
"ranjang" yang sangat kotor, palungan. Lalu, ia dan suaminya mendapat 
kunjungan dari orang-orang kalangan bawah, para gembala, yang 
mengatakan hal-hal yang luar biasa tentang Bayi mereka. Pastilah 
muncul banyak tanda tanya besar di hati Maria. Mungkin, sempat ia 
berkata dalam hati, "Kalau Bayi ini Sang Juru Selamat, mengapa Ia 
harus lahir seperti ini?" Sungguh, Maria tidak mampu mencerna makna 
dari semua kejadian itu. Ia hanya bisa menyimpannya dalam hati, lalu 
merenungkannya. Dalam hal ini, Maria menunjukkan kerendahan hati 
seorang hamba. Dia manut saja pada kehendak Tuhannya.

Apa saja yang direnungkan sang bunda? Saya yakin, ia mencoba merangkai 
potongan-potongan kejadian dalam perjalanan hidupnya, peristiwa demi 
peristiwa, serta mencoba memahami makna di balik semua itu dan 
tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya oleh Tuhan.

Saat ini, kala memperingati Natal, apakah kita hanya akan heran, 
seperti orang-orang yang mengikuti para gembala? Atau, kita hanya akan 
berusaha bergembira karena segala yang dapat dilihat, didengar, dan 
diraba pada kesempatan Natal, seperti para gembala? Atau, seperti 
Maria, menerima dan menyimpan segala anugerah Tuhan itu dalam hati 
kita dan terus-menerus merenungkannya di sepanjang hidup kita? Mencoba 
merangkai semua hal yang telah kita alami supaya kita lebih memahami 
maksud Allah bagi kita dan tanggung jawab yang dipercayakan-Nya kepada 
kita? Semoga!

Diambil dari:
Judul buku: Harta Karun Natal: Kumpulan Paparan Inspiratif Alkitabiah tentang Natal
Penulis: Satya Hedipuspita
Penerbit: Literatur Perkantas Jawa Barat, Bandung 2005
Halaman: 126 -- 130


Kontak: beritapesta(at)sabda.org
Redaksi: Amidya, Yulia, dan Mei
Berlangganan: subscribe-i-kan-berita-pesta(at)hub.xc.org
Berhenti: unsubscribe-i-kan-berita-pesta(at)hub.xc.org
Arsip: http://sabda.org/publikasi/berita_pesta/arsip
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
(c) 2014 -- Yayasan Lembaga SABDA < http://ylsa.org >
        

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org