Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/berita_pesta/82

Berita PESTA edisi 82 (23-4-2014)

April/2014

Berita PESTA -- Edisi 82, April 2014

DAFTAR ISI
BERITA PESTA + POKOK DOA:
1. Pembukaan Kelas PIR dan DIK
2. Download Modul Pembinaan Iman Remaja (Modul Baru)
3. Divisi PESTA: Evaluasi Kuartal I dan Rencana Kuartal II
4. Tafsiran Matthew Henry
ARTIKEL: PEMBUKTIAN KEBENARAN HISTORIS PERISTIWA KEBANGKITAN YESUS KRISTUS

Shalom,

Selamat Paskah! Syukur kepada Allah, melalui momentum Paskah, kita 
dapat memperbarui hidup dan komitmen iman kita kepada Kristus. 
Kebangkitan Kristus memampukan kita untuk terus bersemangat mewartakan 
kemenangan dan kemuliaan-Nya. Dalam edisi Paskah ini, kami menyajikan 
tulisan yang terkait dengan fakta historis kebangkitan Yesus Kristus. 
Harapan kami, sajian ini dapat menolong Anda untuk semakin teguh 
menapaki perjalanan iman bersama Yesus Kristus.

Selamat menikmati sukacita karena Kristus sudah bangkit!

Pemimpin Redaksi Berita PESTA,
Ryan
< ryan(at)in-christ.net >
< http://pesta.org >


                              BERITA PESTA

1. Pembukaan Kelas PIR dan DIK

PESTA kembali membuka pendaftaran untuk dua kelas diskusi, yaitu Kelas 
baru Pembinaan Iman Remaja (PIR) dan Kelas Dasar-Dasar Iman Kristen 
(DIK).

Saat ini, banyak gereja belum cukup membekali para pembina remaja 
mereka. Hal ini mendorong PESTA untuk membuka kelas PIR untuk 
memperlengkapi peserta dengan pengertian yang jelas tentang pembinaan 
iman remaja sesuai dengan kebenaran Alkitab. Puji Tuhan, sampai saat 
berita ini ditulis, ada banyak peserta yang telah mendaftar. Pendaftar 
kelas Dasar-Dasar Iman Kristen (DIK) juga cukup banyak, tetapi masih 
bergumul dalam menyelesaikan tugas tertulisnya. Harapan kami, pada 
hari penutupan, semua pendaftar kelas DIK dapat segera menyelesaikan 
tugasnya.

Pokok doa: Doakan agar tugas tertulis di kelas PIR dan DIK dapat 
segera dikerjakan dan diselesaikan tepat waktu oleh para pendaftar. 
Doakan juga proses belajar mengajar di kedua kelas ini agar Tuhan 
senantiasa menyertai dan memberkati mereka.

2. Download Modul Pembinaan Iman Remaja (Modul Baru)

Modul Pembinaan Iman Remaja (PIR) sudah bisa diunduh di situs 
PESTA.org. Modul ini sangat tepat untuk menolong pembina remaja yang 
akan terjun ke dunia pelayanan remaja. Selain berisi dasar-dasar 
pelayanan remaja dan pengenalan (karakteristik, masalah, dan 
kebutuhan) remaja, modul ini juga menyajikan kurikulum pelayanan 
remaja dan bagaimana membuat gereja lebih tanggap terhadap pelayanan 
remaja masa kini. Modul ini juga penting dibaca oleh para pembina 
remaja senior supaya menambah wawasan untuk mengembangkan pelayanan 
pembinaan remaja di gereja masing-masing.

Silakan download modul PIR < http://pesta.org/pir_sil >.

Pokok doa: Terima kasih Tuhan Yesus untuk penyertaan-Mu sehingga modul 
PIR dapat selesai dan dipakai oleh para pelayan remaja. Kiranya Engkau 
pakai modul ini untuk menolong para pembina remaja melayani sesuai 
dengan jalan dan kehendak-Mu.

3. Divisi PESTA: Evaluasi Kuartal I dan Rencana Kuartal II

Puji Tuhan! Divisi PESTA telah melewati kuartal I tahun 2014 dengan 
baik, sesuai dengan rencana. Walaupun ada hal-hal yang perlu 
diperbaiki, tetapi secara keseluruhan kami mengucap syukur bahwa Tuhan 
memberi kekuatan dan berkat yang berlimpah. Untuk selanjutnya, tim 
PESTA telah menyusun program kerja kuartal II untuk bulan April sampai 
Juni 2014. Semoga rencana kuartal II ini bisa lebih baik lagi 
dibandingkan pelayanan kuartal I.

Pokok doa: Doakan kerja sama dan kesehatian tim PESTA dalam 
melaksanakan program kerja kuartal II tahun 2014. Kiranya Tuhan Yesus 
memberikan hikmat kepada tim PESTA supaya semua rencana kerja dapat 
dilaksanakan dengan sebaik mungkin.

4. Tafsiran Matthew Henry

Tafsiran Matthew Henry (Matthew Henry Commentary) versi bahasa 
Indonesia semakin melengkapi modul tafsiran/catatan berbahasa 
Indonesia di situs Alkitab SABDA < http://alkitab.sabda.org/ >.

Tafsiran/Catatan Matthew Henry secara lengkap dan mendalam membahas 
penafsiran untuk kitab-kitab Injil (Matius, Markus, Lukas, dan 
Yohanes). Mari perkaya pemahaman kita akan firman Tuhan dengan 
tafsiran/catatan Matthew Henry versi bahasa Indonesia! Segera kunjungi 
situs Alkitab SABDA < http://alkitab.sabda.org/ > dan mari semakin 
dalam mempelajari Alkitab!

Pokok doa: Doakan agar Tuhan memakai tafsiran/catatan Matthew Henry 
untuk memperlengkapi dan mendorong setiap orang percaya untuk terus 
belajar dan menggali kebenaran firman Tuhan.


 ARTIKEL: PEMBUKTIAN KEBENARAN HISTORIS PERISTIWA KEBANGKITAN YESUS 
                             KRISTUS

Apakah kebangkitan merupakan suatu peristiwa historis? Apakah ada 
bukti-bukti meyakinkan bahwa peristiwa tersebut sungguh-sungguh 
terjadi dalam sejarah? Kupasan di bawah ini dimaksudkan sebagai suatu 
apologetika sederhana dan populer untuk membuktikan secara internal 
bahwa kebangkitan Yesus adalah sangat mungkin dan sangat logis untuk 
diterima sebagai suatu fakta historis. Dengan kata lain, terlepas dari 
kesaksian-kesaksian eksternal, kesaksian-kesaksian dari dalam 
Perjanjian Baru sendiri cukup memberi kita keyakinan untuk percaya 
bahwa peristiwa kebangkitan Yesus Kristus adalah suatu fakta historis.

Pendahuluan

Kebenaran kepercayaan Kristen senantiasa bersifat historis, dalam 
arti, kebenaran itu berikat dengan sejarah (bnd. 1 Korintus 15:3-8, 
14, 17, 20). Kekristenan bukan terdiri dari ajaran-ajaran yang ideal, 
yang dapat dipisahkan dari pribadi yang mengajarkan. Paulus 
mengatakan, bila Yesus Kristus tidak betul-betul bangkit secara 
historis, semua kepercayaan, kehidupan, dan pelayanan Kristen adalah 
sia-sia! Dalam kekristenan, agama bukan hanya suatu gejala sosiologis 
(misalnya, mengajarkan kebaikan dan cara untuk hidup baik), tetapi 
yang terpenting adalah substansi religius, yakni hubungan yang baik 
dan intim dengan Allah Pencipta, Allah yang benar, yang telah datang 
ke dalam sejarah dalam diri Yesus Kristus.

Namun, pada zaman modern ini, banyak filsuf dan teolog liberal serta 
orang-orang non-Kristen mengkritik dengan mengatakan bahwa catatan 
Injil adalah mitos, fiksi, dan tidak sungguh-sungguh terjadi. Mereka 
mengatakan Yesus yang digambarkan dalam Injil bukanlah sosok Yesus 
yang sesungguhnya. Dengan kata lain, Yesus dalam Injil sudah 
direkayasa oleh penulis-penulis Injil. Hal yang direkayasa, menurut 
mereka, misalnya, kisah-kisah mukjizat yang dilakukan oleh Yesus, 
khususnya kisah kebangkitan Yesus. Versi lain dari kritik adalah 
dengan mengatakan bahwa mukjizat-mukjizat itu, seperti kisah 
kebangkitan Yesus, tidak sungguh-sungguh terjadi. Apa yang ditulis 
dalam Injil bukanlah fakta historis, tetapi catatan kepercayaan kuno 
dalam bahasa mitologis, yang tidak dapat diartikan secara harfiah. 
Dengan kata lain, karena mereka tidak percaya adanya mukjizat-
mukjizat, mereka juga tidak percaya adanya mukjizat kebangkitan Yesus. 
Mereka percaya Yesus adalah guru (atau nabi) biasa yang mengajar dan 
berbuat baik, dan kemudian dibunuh. Tetapi, menurut mereka, Yesus 
tidak melakukan keajaiban-keajaiban tersebut, dan lebih-lebih, Yesus 
tidak bangkit dari kematian.

Bukti-Bukti Internal Kebangkitan Yesus

Bagaimana kita mencoba menjawab kritik-kritik seperti ini? Apakah 
mukjizat kebangkitan Yesus sungguh-sungguh terjadi seperti yang 
tertulis dalam Injil? Mari kita periksa beberapa alasan yang memberi 
keyakinan bahwa mukjizat kebangkitan Yesus benar-benar terjadi dan 
tidak mungkin merupakan suatu cerita fiktif yang direkayasa oleh 
murid-murid atau hanya suatu catatan dalam bahasa mitos yang tidak 
benar-benar terjadi.

1. Diceritakan dalam Injil, saksi pertama peristiwa kebangkitan adalah 
kaum wanita (Matius 28:1-10; Lukas 24:1-12). Kalau cerita kebangkitan 
sengaja direkayasa, tidak mungkin penulis Injil akan menulis bahwa 
saksi pertama peristiwa tersebut adalah wanita karena dalam masyarakat 
Yahudi, wanita tidak dianggap sebagai saksi yang dapat dipercaya.

2. Cerita-cerita kebangkitan yang ditulis dalam Injil sangat 
bervariasi dan spontan. Bila para murid ingin mengarang suatu cerita 
bohong agar dipercayai, tentu mereka akan membuat versi cerita yang 
lebih rapi dan harmonis.

3. Paulus mengatakan dalam 1 Korintus 15:1-8 bahwa ada ratusan saksi 
mata dari Yesus yang bangkit dan sebagian besar mereka masih hidup 
pada saat dia menulis surat 1 Korintus (sekitar tahun 51). Artinya, 
perkataan Paulus tersebut dapat diperiksa langsung kepada saksi-saksi 
mata! Bila kisah kebangkitan adalah fiktif, adalah sangat bodoh bagi 
Paulus untuk mengatakan ada ratusan saksi mata dari kejadian tersebut!

4. Berita dan pemberitaan tentang kebangkitan Yesus terjadi segera 
setelah Yesus mati, bangkit, dan kembali ke surga (dan dilakukan 
pertama-tama di Yerusalem di pusat kejadian tersebut). Kalau 
kebangkitan adalah kisah bohong atau tidak sungguh-sungguh terjadi, 
tidak mungkin rasul-rasul dapat melakukan hal tersebut. Mereka tidak 
mungkin dapat membuat orang yang ada di tengah pusaran peristiwa 
kematian Yesus untuk percaya bahwa Yesus bangkit. Tentu akan ada 
penentangan yang sangat meyakinkan, yaitu cukup dengan menunjukkan 
kuburan yang berisi mayat Yesus. Berita bahwa mayat Yesus dicuri orang 
justru menjadi berita yang cepat hilang dari peredaran di antara 
orang-orang waktu itu. Tidak heran dikatakan dalam Alkitab bahwa 
setiap hari ada saja orang yang menjadi percaya kepada pemberitaan 
mengenai kematian dan kebangkitan Yesus Kristus (Kisah Para Rasul 
2:46).

5. Perubahan yang terjadi pada diri murid-murid dan terbentuknya 
gereja adalah kenyataan terbaik yang meyakinkan bahwa kebangkitan 
sungguh-sungguh terjadi secara historis. Bayangkan, Petrus dan kawan-
kawan (yang bukan orang gila dan super hero) tiba-tiba menjadi rela 
mati untuk menyebarkan kabar tentang Yesus yang bangkit. Mereka ada 
dalam lingkungan Yahudi yang sangat ortodoks, tetapi mereka tiba-tiba 
menjadi berani menyembah dan memberitakan Yesus sebagai Mesias, Anak 
Allah, dan bahkan Allah itu sendiri! Kalau bukan gila, mereka pasti 
mencari mati! Mereka jelas tidak gila. Apakah mereka cari mati? Untuk 
apa mereka mencari mati demi suatu kabar bohong atau demi suatu bahasa 
mitologis? Jika mereka tahu betul bahwa Yesus tidak sungguh-sungguh 
bangkit, tidak mungkin mereka rela mengorbankan nyawa demi pemberitaan 
bahwa Yesus bangkit. Ada pengkritik-pengkritik mengatakan bahwa 
catatan kebangkitan Yesus adalah catatan mitologis untuk menggambarkan 
perubahan drastis yang terjadi dalam diri murid-murid. Namun, 
argumentasi ini sangat lemah. Ada kesulitan luar biasa untuk menjawab 
pertanyaan ini: Mengapa dan dari mana terjadi perubahan drastis dalam 
diri murid-murid setelah kematian Yesus? Penjelasan adanya perubahan 
drastis tersebut hanya mungkin bila kebangkitan Yesus betul-betul 
terjadi dan betul-betul meyakinkan mereka!

6. Hal yang paling mencolok berkenaan dengan perubahan para murid ini 
adalah perubahan yang terjadi pada diri Paulus, yang sebelumnya 
bernama Saulus. Saulus adalah orang Yahudi tulen dengan fanatisme 
agama Yahudi yang sangat keras. Barangkali, tidak seorang pun yang 
bakal berpikir dia dapat diinjili dan bertobat! Akan tetapi, dia 
bertobat! Satu-satunya sebab adalah karena dia bertemu dan menyaksikan 
dengan mata kepala sendiri bahwa Yesus betul-betul telah bangkit! 
Keyakinan pada kesungguhan kebangkitan Yesus telah merevolusi 
pandangannya sebagai seorang penganut agama Yahudi yang fanatik. 
Misalnya, dia dapat menerima Yesus sebagai Mesias, dan bahkan sebagai 
Allah. Dan karena itu, sedikit pun tidak ada kesulitan bagi dia untuk 
melangkah pada doktrin berikut: bahwa Allah adalah Tritunggal! Seorang 
seperti Paulus tidak mungkin dapat berubah oleh suatu berita rekayasa 
atau oleh suatu bahasa mitologi.

Kesimpulan

Semua argumentasi di atas mengharuskan kita menerima bahwa mukjizat 
kebangkitan Yesus adalah sungguh-sungguh terjadi secara historis 
sebagaimana dicatat dalam kitab-kitab Injil. Bila masih ada orang yang 
tidak percaya dan mengatakan bahwa kebangkitan Yesus adalah cerita 
fiksi, maka dengan pertimbangan-pertimbangan di atas, bukan hanya 
cerita Yesus yang fiksi tetapi seluruh kesaksian dalam Injil, 
pengalaman pada diri murid-murid, khususnya Paulus, adalah cerita 
bohong. Ada 2 kemungkinan mengenai hal ini:

1. Murid-murid pertama Yesus begitu pintar mengatur semua orang 
(ratusan dan kemudian ribuan) dan semua kesaksian untuk bertindak 
sedemikian rupa meyakinkan seolah-olah Yesus bangkit! Murid-murid 
tidak mungkin memiliki kuasa sedemikian besar untuk mengatur orang-
orang lain agar bertindak serupa (bahkan seorang diktator pun sulit 
melakukan hal yang demikian).

2. Penulis-penulis Injil begitu pintar mengarang kisah-kisah fiksi dan 
palsu (atau kisah-kisah mitologis), padahal dalam kenyataannya, 
situasi dan kesaksian-kesaksian pada waktu itu tidaklah demikian. 
Misalnya, karena Yesus tidak bangkit, semua murid menjadi putus asa, 
pulang kampung, menjadi nelayan dan pemungut cukai, dan tidak ada 
Pentakosta, tidak ada pekabaran Injil, tidak ada orang-orang lain yang 
kemudian menjadi murid-murid Yesus. Akan tetapi, Matius, Markus, 
Lukas, dan Yohanes begitu bersemangat menulis dan menipu pembaca bahwa 
Yesus bangkit dan semua murid-murid menjadi pengabar Injil yang 
berani!

Atau, murid-murid mengalami suatu perubahan drastis seolah-seolah 
Yesus sudah bangkit, dan mereka mulai menyembah Yesus, bercerita 
tentang kebangkitan Yesus, memberitakan Dia sudah bangkit, dll.. Kalau 
memang hal itu yang dilakukan Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes 
(untuk menipu) atau oleh murid-murid lain (dengan bahasa mitologis), 
satu hal pasti jelas, ada kisah tentang Yesus yang bangkit, tetapi 
tidak ada yang bakal percaya, dan tidak akan ada gereja Yesus di muka 
bumi! Fakta adanya gereja di muka bumi sejak abad pertama meyakinkan 
kita bahwa memang murid-murid telah diubah menjadi pemberita-pemberita 
Injil dan pendiri-pendiri gereja seperti yang dikisahkan dalam Kisah 
Para Rasul. Lagi pula, kita harus mengingat bahwa kitab-kitab Injil 
dan surat-surat Paulus ditulis pada abad pertama di wilayah-wilayah 
yang berdekatan dengan pusat peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus! 
Kalau tulisan mereka bohong, tidak mungkin tulisan tersebut mendapat 
sambutan dan diterima sebagai Injil kebenaran.

Diambil dan disunting dari:
Nama situs: Gereja Pemberita Injil
Alamat URL: http://www.gepembri.com/cgi-bin/show.cgi?file=art/110403.id
Penulis artikel: Pdt. DR. Andreas Himawan
Tanggal akses: 2 April 2014


Kontak: beritapesta(at)sabda.org
Redaksi: Ryan dan Amidya
Berlangganan: subscribe-i-kan-berita-pesta(at)hub.xc.org
Berhenti: unsubscribe-i-kan-berita-pesta(at)hub.xc.org
Arsip: http://sabda.org/publikasi/berita_pesta/arsip
BCA Ps. Legi Solo, No. 0790266579, a.n. Yulia Oeniyati
(c) 2014 -- Yayasan Lembaga SABDA < http://ylsa.org >

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org