Halaman ini adalah versi tampilan cetak (print view) dari:
http://sabda.org/publikasi/40hari/3

Doa 40 Hari 2002 edisi 3 (29-10-2002)

Suku Konjo Pesisir di Sulawesi Selatan


                        Selasa, 29 Oktober 2002

SUKU KONJO PESISIR DI SULAWESI SELATAN
======================================

Suku Konjo Pesisir (atau disebut juga Kondjo, Tiro) mendiami empat
kecamatan di sebelah Tenggara dari wilayah Bulukumba-Kijang, Herkang,
Bonto, Tito dan Bonto Bahari. Suku Konjo hitam, yang juga termasuk
suku ini menempati daerah sebelah barat dari Kajang. Mereka memilih
tetap mempertahankan cara hidup lama, seperti memakai pakaian hitam,
tidak mengijinkan penggunaan peralatan, dan mempraktekkan ilmu sihir
yang adalah bagian dari penyembahan animistik mereka. Orang Konjo
Hitam menganggap diri mereka suku asli yang tidak mempunyai raja dan
tidak mengikuti sistim pelapisan masyarakat seperti yang terdapat di
daerah Konjo lainnya, mereka menganggap daerah mereka sebagai pusat
tradisional bagi semua suku Ponjo Pesisir. Bahasa yang digunakan
adalah bahasa Konjo Pesisir dengan beberapa dialek yaitu Tana Toa,
Konjo Hitam dan Kajang.

Suku Konjo Pesisir bercocok tanam dengan sistem bagi hasil. Rumah-
rumah suku Konjo terdapat di sepanjang jalan-jalan utama, dan di
daerah pedesaan. Komunitas mereka terbagi sesuai dengan garis-garis
politik sampai dengan tingkat RT, yang terdiri dari 10 rumah tangga.
Desa biasanya mengikuti batas-batas kerajaan/keluarga lama.

Sama seperti suku Konjo Pegunungan, suku Konjo Pesisir juga memiliki
ciri-ciri budaya sebagai berikut:
1. Saling membantu dalam pekerjaan dan keuangan, upacara perkawinan,
    menjenguk orang sakit, melayat orang meninggal. Sekalipun di antara
    anggota suku ini ada pertengkaran, mereka bersatu menghadapi
    ancaman dari pihak luar.
2. Materialisme diwujudkan dengan meminta secara terus terang kepada
    orang yang tidak takut bersaing mengumpulkan harta dan pemborosan
    agar orang lain terkesan.
3. Kegemaran kumpul-kumpul dan mengobrol.
4. Cenderung berkelit dalam menjawab pertanyaan.
5. Mempertahankan harga diri, dengan mempertahankan status sosial.

Populasi suku Konjo 125.000 jiwa. Telah ada 5 orang yang percaya
Yesus, belum ada Film Yesus dan pelayanan radio dalam bahasa Konjo.
Alkitab yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Konjo belum lengkap.
Masyarakat Konjo pesisir 100% beragama Islam. Bahkan bagi orang Konjo
Hitam, Islam merupakan agama resmi mereka. Walau demikian praktek
animisme masih dipertahankan. Pemimpin agama Islam hanya memiliki
sedikit pengaruh. Mereka dipilih oleh rakyat untuk memimpin upacara-
upacara keagamaan dan tugas-tugas di masjid. Orang Konjo Hitam
memanggil dukun untuk upacara-upacara dan menolong orang sakit. Amma
Toa (ayah tua) dari orang Konjo Hitam dianggap sebagai pemimpin
keagamaan di daerah itu dan ditakuti karena kekuatan sihirnya.

POKOK DOA:

* Berdoa agar Tuhan menyatakan kemuliaanNya, dalam kehidupan orang
   Konjo. Berdoa agar Gereja Tuhan berkomitmen untuk mendoakan,
   mengutus utusan Injil dan mendanai pelayanan bagi suku Konjo.

* Lakukanlah doa peperangan rohani terhadap semua bentuk penyembahan
   berhala dan kuasa kegelapan yang mengikat dan membutakan mata rohani
   orang Konjo (1Yohanes 4:4). Berdoa agar orang Kristen Konjo berakar
   dalam Firman Tuhan, bertumbuh dan memberi buah yang lebat. Berdoa
   supaya diadakan pemuridan bagi orang Konjo Kristen.

* Berdoa agar Utusan Injil menjadi kreatif dan mudah beradaptasi, baik
   gahasa, budaya, dan lainnya. Berdoa untuk perlindungan dan ketajaman
   rohani dari orang percaya yang tinggal dan melayani suku Konjo.

 

© 1997-2016 Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Isi boleh disimpan untuk tujuan pribadi dan non-komersial. Atas setiap publikasi atau pencetakan wajib menyebutkan alamat situs SABDA.org sebagai sumber dan mengirim pemberitahuan ke webmaster@sabda.org