Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading


Selamat datang di Situs PEPAK,

Masih dalam rangka mengajak lebih banyak orang untuk giat melakukan PA, tim PEPAK turut berpartisipasi dengan mengangkat bahan-bahan seputar PA dan pertumbuhan rohani anak. Melakukan pendalaman Alkitab bersama anak akan menolong mereka mengalami pertumbuhan rohani yang sehat. Dengan memanfaatkan teknologi digital yang akrab dengan keseharian generasi muda, mereka dapat dibimbing untuk belajar ber-PA sejak dini, dengan cara yang menyenangkan. Dapatkan informasi seputar gerakan #ayo_PA! dalam situs Ayo PA. Jika pengunjung situs PEPAK ingin mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai gerakan #Ayo_PA, silakan kontak kami melalui email atau Facebook Ayo PA.

Info Terbaru

  • Jika Anda seorang penulis atau seseorang yang ingin mengenal lebih jauh tentang dunia penulisan, kami mengajak Anda untuk bergabung di komunitas e-Penulis, baik di Facebook maupun Twitter.

  • Doa merupakan panggilan hidup orang percaya. Doa memiliki satu tempat khusus di tengah kehidupan anak-anak Allah. Apakah Allah memberikan beban kepada Anda untuk berdoa, bukan untuk diri Anda, melainkan untuk banyak orang di dunia? Kami mengajak Anda bergerak di dalam doa dan berdoa untuk saudara-saudara kita yang sedang berpuasa selama bulan Ramadan ini.

  • Apakah Anda rindu memelajari pokok-pokok penting seputar iman Kristen bersama rekan-rekan seiman dari berbagai penjuru melalui dunia maya?

  • Yayasan Lembaga SABDA < http://ylsa.org > melalui program Pendidikan Elektronik Studi Teologi Awam (PESTA) kembali membuka Kelas Diskusi PASKAH 2016. Dalam kelas diskusi ini, akan dibahas topik-topik diskusi seputar kematian dan kebangkitan Kristus. Pastinya setiap peserta akan lebih diperkaya lagi tentang makna Paskah yang sejati melalui kelas ini.

  • Puji Tuhan! Masyarakat Kristen Indonesia semakin diberkati dengan adanya versi Alkitab yang baru, yaitu Alkitab Yang Terbuka (AYT). AYT memiliki sifat "SETIA, JELAS, dan RELEVAN":

Mutiara Guru

  • Pujian sedang berlangsung. Kami semua, anak-anak dan para guru, hanyut dalam pujian yang ceria dan bersemangat. Dengan gerakan yang menyertai masing-masing lagu, kami menggunakan tubuh kami juga untuk memuji Tuhan.

    Mungkin saking semangatnya, tiba-tiba seorang anak perempuan yang berkeringatan mendatangiku dengan wajah tegang dan berkata, "Tante, mau pipis ...." Ah, daripada ia keburu ngompol di kelas, aku bergegas menggandeng tangan mungilnya dan keluar. Untung kelas kami berada paling dekat dengan kamar mandi.

    Setibanya kami di toilet, kubantu ia menurunkan celananya. Lalu, kutunggui di sampingnya. Setelah selesai dan wajahnya tampak "lega", kutanya ia, "Sudah?" Ia mengangguk. Lalu, kuambilkan air di gayung dan kutaruh dekat kakinya. Karena usianya sudah hampir 3 tahun, kurasa ia pasti sudah bisa cebok sendiri. Namun, ia tak kunjung cebok dan berdiri. Alih-alih, dengan wajah memelas, ia menoleh kepadaku dan berkata, "Tante, tolong cebokin ...." Ah, dengan sedikit geli karena lambat memahaminya, aku segera meraih air dengan tangan untuk mencebokinya. Setelah selesai dan ia sudah rapi kembali, kami pun ikut kebaktian.

    Aneh, tetapi nyata. Ketika aku melakukan hal-hal seperti itu, hatiku selalu merasakan sukacita. Hal-hal kecil yang mungkin tak pernah diperhatikan orang. Misalnya, membersihkan sampah atau sisa-sisa makanan yang tercecer di kelas sehabis kebaktian, mengepel lantai yang basah atau kotor karena ada anak yang mengompol atau muntah, dan sebagainya. Bukan jijik yang terasa, melainkan sungguh ... sukacita.

    Rasanya begitulah aku diajar Tuhan untuk rendah hati. Menjadi guru sekolah minggu bukanlah posisi yang membuat foto kita dipajang, membuat kita sering diundang makan, atau membuat kita mendapat berbagai penghargaan. Sebaliknya, aku diajar untuk rela menjadi pelayan. Seperti Yesus yang bersedia mengambil kain dan basin untuk membasuh kaki para murid. Ya, Tuhan memanggil orang-orang yang rendah hati sehingga apa yang mereka ajarkan tidak bersumber dari diri mereka sendiri. Tuhan memanggil orang-orang yang tidak hanya mengandalkan bakat sehingga mereka selalu butuh Tuhan saat melayani.

    Terima kasih Tuhan atas hak istimewa kami untuk menjadi pelayan di ladang-Mu. Tiada upah yang lebih berharga bagi kami dibandingkan sukacita besar yang Kaulimpahkan di hati.

    "... sambil melayani Tuhan dengan segala kerendahan hati ...." (Kisah Para Rasul 20:19, AYT)

    Diambil dan disunting seperlunya dari:

    Judul buku : Loving Kids Like Jesus
    Penulis : Agustina Wijayani
    Penerbit : Gloria Graffa, Yogyakarta 2007
    Halaman : 37 -- 39
  • Dahulu, saya jengkel karena sepanjang Natal kebaktian di gereja penuh sesak. Saya tidak menyukai kursi-kursi gereja yang sesak dan kesulitan mencari tempat parkir. Saya bahkan pernah menggerutu setelah dialihkan ke sebuah ruangan tambahan karena ruang kebaktian sudah penuh jauh sebelum kebaktian dimulai. Saya berpikir mengapa orang-orang yang datang sekali setahun ini tidak tinggal di rumah saja?

    Sikap saya itu sepertinya mencerminkan sikap para murid, yang memarahi orang-orang yang membawa anak-anak kepada Yesus untuk memperoleh berkat-Nya (Matius 19:13). Apa pun alasannya, para murid pasti berpikir bahwa orang-orang itu tidak berhak berada di sana. Namun, Yesus berkata, "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Surga" (Matius 18:14).

    Saya akhirnya menyadari bahwa baik apabila seseorang dibawa ke suatu pertemuan yang merayakan kelahiran Yesus. Entah itu berupa acara anak-anak, ibadah penyalaan lilin, atau konser paduan suara, kita tidak pernah mengetahui kapan seseorang akan bertemu dengan Kristus Tuhan. Wartawan radio dan televisi, Harry Reasoner, pernah berkata, "Jika seorang kristiani hatinya tersentuh hanya sekali dalam setahun, sentuhan itu tetap memiliki arti. Dan, barangkali pada suatu hari Natal, pada suatu pagi yang hening, sentuhan itu terjadi."

    unculkan sifat kanak-kanak yang tersimpan di dalam diri kita. Dan, setiap anak disambut oleh Yesus.

    Tak ada yang da

    menggerakkan kita seperti sentuhan Yesus.

    Diambil dan disunting seperlunya dari:

    Judul situs : Alkitab SABDA
    Alamat URL : http://alkitab.sabda.org/illustration.php?id=3187
    Penulis renungan : DCM
    Tanggal akses : 16 Oktober 2015
  • Di dalam salah satu episode "Membangun Indonesia Baru", seorang sosiolog menyatakan bahwa untuk menegakkan supremasi hukum di Indonesia sangat sulit, sebab sudah melibatkan banyak institusi. Jadi, apakah mungkin pembaruan di segala bidang dapat dilaksanakan di Indonesia?

    Demikian pula situasi yang dihadapi Yosia. Rentetan aksi Yosia yang berjumlah lebih dari 17 mengungkapkan betapa bobroknya masyarakat Yehuda. Namun, Yosia bertekad bulat dan tidak gentar menentang arus. Hal ini terungkap ketika ia berani mengadakan pembersihan berbagai berhala, bukit pengorbanan, hingga membunuh imam-imam bukit pengorbanan, justru pada saat seluruh rakyat Yehuda sudah terjerumus ke dalam penyembahan berhala (2 Raja-raja 23:20). Ia tidak hanya memberikan instruksi, tetapi terlibat langsung dengan melakukan sendiri tindakan yang benar. Ia sendiri sebagai contoh hidup hasil pembaruan bagi rakyatnya. Ia mengumpulkan, membacakan, memberhentikan, merobohkan, menajiskan, memecahkan, menebang, hingga menyembelih. Pembaruan juga harus melanda seluruh lapisan masyarakat mulai dari pemimpin agama, pemimpin masyarakat, hingga rakyat jelata; mulai dari orang dewasa hingga anak-anak (2 Raja-raja 23:2). Ini berarti pembaruan tidak hanya dalam urusan kenegaraan, tetapi juga dalam kegiatan sehari-hari dalam masyarakat. Dan, yang paling penting adalah bahwa pembaruan harus dilandaskan firman Allah yang hidup.

    Renungkan: Pembaruan dapat dilaksanakan di bumi Indonesia asalkan gereja mau dan berani berperan secara langsung. Walaupun gereja, karena kedudukannya sebagai minoritas, bukanlah lembaga penggerak utama reformasi bangsa kita, tetapi gereja mempunyai firman hidup yang akan memampukannya untuk menjadi contoh hidup masyarakat yang sudah diperbarui. Oleh karena itu, gereja harus menyerukan kepada seluruh jemaatnya mulai dari anak-anak sekolah minggu, remaja, pemuda, dewasa, hingga manula, untuk menjadi contoh hidup bagi tingkah laku yang sudah diperbarui. Mulailah dari yang paling sederhana, yaitu membayar pajak sesuai undang-undang, menaati peraturan berlalu lintas, tidak membuang sampah sembarangan, menggunakan segala sumber alam seperti listrik, air, bensin, dan gas secara bijak. Kapan kita akan mulai, jika tidak sekarang?

    Diambil dan disunting seperlunya:

    Nama situs : SABDA.org
    Alamat URL : http://www.sabda.org/publikasi/e-sh/2000/07/17
    Penulis renungan : Tidak dicantumkan
    Tanggal akses : 15 Juni 2015
  • Secara tak sengaja, saya menemukan sebuah pohon tumbang yang bisa menjadi kayu api yang sangat baik untuk kompor besi dalam ruangan kami. Gergaji mesin saya memotongnya dengan rapi menjadi potongan-potongan kayu sekitar 45 cm. Akan tetapi, potongan-potongan kayu berdiameter 50 cm ini masih perlu dibelah. Oleh karena itu, saya mulai mengayunkan kapak. Tak ada yang terjadi -- kecuali mata kapak itu terjepit pada kayu. Kapak saya tajam, tetapi tidak cukup kuat untuk membelah kayu tersebut.

    Setelah frustrasi selama satu jam, saya mengemudikan mobil menuju toko besi dan membeli sebuah peralatan yang lebih besar dan berat bernama palu pembelah. Alat ini memiliki mata kapak pada satu sisinya dan mata untuk memalu pada sisi lainnya. Dengan alat yang benar, saya segera mendapatkan setumpuk kayu api belah yang baik dan kering untuk tahun berikutnya.

    Terkadang, saya berusaha melakukan pekerjaan Allah dengan menggunakan alat yang salah. Saya hebat dalam memberikan pendapat saya untuk menolong seseorang memecahkan masalah, tetapi sering kali tidak banyak yang terjadi sebelum saya mencari dan menerapkan kebenaran Allah pada situasi tersebut.

    Yeremia mengutuk nabi-nabi palsu di Israel karena mereka menggunakan apa yang salah -- kata-kata, mimpi, dan penglihatan mereka sendiri -- untuk memengaruhi dan menyesatkan rakyat (Yeremia 23:16, 25-27, 31-32).

    Marilah kita melakukan pekerjaan Tuhan dengan alat yang benar, yakni kuasa dan kekuatan dari firman Allah yang hidup.

    Diambil dan disunting seperlunya dari:

    Nama situs : Alkitab SABDA
    Alamat URL : alkitab.sabda.org/illustration.php?id=2051
    Penulis artikel : DCE
    Tanggal akses : 11 Mei 2015
  • Suatu kali, seorang guru Sekolah Minggu menegur Kevin, murid yang dikenal badung dan suka berbuat iseng di kelasnya. "Kevin, tidak boleh begitu! Tuhan Yesus tidak suka kalau Kevin begitu." Dengan enteng, Kevin menjawab, "Ah biarin, nanti Tuhan Yesusnya saya 'smack down'." Mendengar pernyataan muridnya tersebut, sang guru mendekat dan menasihatinya.

    Memang perlu diakui bahwa anak-anak lebih mudah mengikuti teladan tokoh atau acara tertentu di televisi dibandingkan cerita Alkitab, bahkan Tuhan Yesus sendiri. Mengapa? Karena Tuhan Yesus tidak terlihat, sedangkan televisi lebih nyata. Ini wajar karena salah satu pintu belajar seorang anak adalah penglihatan. Jadi, bagaimana caranya agar anak tersebut dapat belajar tentang Allah secara nyata? Orang tualah jawabannya. Orang tua harus mewujudkan dan menunjukkan contoh penerapan dari pengajaran mengenai Allah, dalam kehidupan sehari-hari. Dalam sebuah bukunya, Cornelius Plantinga Jr. mengatakan bahwa anak akan belajar mengenai Allah justru waktu ia melihat orang tuanya berdoa, menyebut nama Allah, menghindari dosa, dan memprioritaskan Allah dalam hidupnya.

    Kondisi zaman dan kemajuan teknologi memang dapat memberi pengaruh yang positif, tetapi sekaligus mendatangkan peringatan bagi orang tua kristiani. Setiap orang tua harus sungguh-sungguh mencondongkan hati kepada Allah dan hidup takut akan Allah. Supaya pengajaran mengenai Allah dapat ditangkap sepenuhnya oleh anak-anak ketika mereka melihat langsung cara hidup orang tuanya. Itulah artinya mengajarkan tentang Allah secara berulang-ulang kepada anak-anak.

    Diambil dan disunting dari:

    Nama situs : SABDA.org
    Alamat URL : http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2010/10/24
    Penulis artikel : RY
    Tanggal akses : 20 Februari 2015
  • Bagi sebagian besar anak, acara televisi, film, atau acara lainnya memang lebih menarik daripada SM. Jadi, jangan berharap acara sekolah minggu dapat bersaing dengan acara-acara televisi karena pasti akan kalah menarik. Namun, bukan tujuan guru SM untuk sekadar mengalahkan acara televisi karena kita tidak boleh menutup mata bahwa dalam beberapa aspek pendidikan, acara-acara tersebut juga penting bagi mereka. Tugas kitalah untuk memberi pengertian kepada mereka bahwa sekolah minggu memang bukan sekadar tempat hiburan dan bermain karena ibadah jelas bukan acara hiburan. Di SM, anak-anak bisa merasakan suasana ibadah/kebaktian yang mengisi rohani mereka.

    Jadi Semakin Menarik

    Acara SM akan menarik jika keseluruhan liturginya menarik dan disertai dengan sistem pembinaan yang terencana dengan baik. Dan, yang penting, kita harus tetap berusaha keras, bersabar, dan bertekun dalam pelayanan.

    Guru-guru SM wajib mengetahui detail liturgi dan acara yang dilaksanakan pada setiap Minggunya. Hal ini akan sangat membantu guru untuk bisa merencanakan acara dengan lebih baik. Kadang-kadang, pujian tidak dipersiapkan dengan baik, yang penting asal menyanyi saja. Pujian yang dipersiapkan dengan matang tidak kalah pentingnya dengan kebaktian. Selain mendukung cerita, pujian dapat memberikan pengajaran Kristen yang mudah diingat oleh anak-anak. Dalam keadaan takut, banyak persoalan, atau dalam keadaan sakit, sedih, dan duka, syair lagu pujian yang mereka kenal akan menjadi salah satu senjata rohani yang sangat ampuh. Garis besar liturgi anak SM biasanya sebagai berikut:

    • Pembukaan (Gerak badan dengan pujian)
    • Doa Pembukaan
    • Puji-Pujian
    • Persembahan
    • Pujian Persiapan Cerita/Firman
    • Penyampaian Firman (dengan alat bantu visual atau tidak)
    • Doa Firman
    • Pujian
    • Penutup

    Liturgi dan alur SM dikatakan berhasil jika dapat membuat suasana yang "bersemangat", menarik, dan terasa "akrab dan hidup". Dalam setiap kegiatan SM, guru harus mampu membawa anak mendalami/menghayati isi lagu dan firman Tuhan, dan membuat anak merasa "bertemu" dengan Allah.

    Diambil dan disunting seperlunya dari:

    Judul buku : 100 Senjata Pelayan Sekolah Minggu Asyik
    Judul bab : Senjata untuk Kelas SM
    Penulis : Igrea Siswanto
    Penerbit : Yayasan ANDI, Yogyakarta 2005
    Halaman : 11 -- 13
  • "Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal." 1 Petrus 1:23

    Ketika kita menyadari identitas kita sebagai anak Tuhan, kita tidak lagi diperhamba oleh apa yang berasal dari dunia dan Iblis. Sebelum kita diangkat menjadi anak oleh Tuhan, kita terkurung di bawah perbudakan. Beberapa mental budak: takut, malu, merasa tidak layak, dan perasaan yatim piatu.

    Iblis menaruh roh perbudakan ini di dalam orang yang tidak mengenali identitasnya sebagai anak-anak Bapa di surga. Namun, Yesus datang memerdekakan kita dari perbudakan itu. Dia mengangkat kita menjadi anak-anak kesayangan-Nya. Dia memberikan kita identitas yang baru, bukan lagi sebagai budak, melainkan sebagai ANAK.

    Banyak anak-anak TUHAN masih berkata, "Oh, apalah arti saya ini. Saya hanya cacing tanah. Saya hanya sampah dunia ini." Benar, jika kita hidup tanpa YESUS, tetapi jika kita sudah LAHIR BARU (Roma 10:9-10), bukan itu yang firman Tuhan katakan mengenai identitas diri kita. Firman Tuhan mengatakan kita adalah ciptaan yang baru.

    Di dalam kita ada Roh yang sama yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati (Roma 8:11) dan Roh yang ada di dalam kita adalah Roh yang jauh lebih kuat daripada semua roh yang ada di dunia ini (1 Yohanes 4:4). Di dalam Kristus, Saudara dan saya memiliki kuasa untuk mengusir roh jahat, menginjak kalajengking, membangkitkan orang mati, dan menyembuhkan orang sakit. Inilah identitas kita yang baru di dalam Kristus.

    Diambil dan disunting seperlunya dari:

    Nama situs : Proud to Shine
    Alamat URL : http://proudtoshine.com/2014/wordpress/?p=1957
    Penulis artikel : Tidak dicantumkan
    Tanggal akses : 24 Juni 2014
  • Bacaan: 1 Samuel 2:11-26

    Keluarga adalah salah satu lembaga yang didirikan Tuhan di dunia ini, maka seharusnya keluarga itu memuliakan Tuhan. Lalu, bagaimana seharusnya orang tua mengarahkan anak-anaknya agar hidup takut akan Tuhan?

    Dalam bacaan hari ini, kita membandingkan dua keluarga, yaitu keluarga Imam Eli dan keluarga Hana. Eli adalah imam yang berhasil memerintah sebagai hakim di Israel selama empat puluh tahun (1 Samuel 4:18). Ia menurunkan jabatannya kepada kedua anaknya, yakni Hofni dan Pinehas. Namun, ia tidak mampu mempersiapkan kerohanian mereka untuk hidup sungguh-sungguh di dalam Tuhan. Dengan status sebagai imam, kedua anak itu disebut sebagai orang-orang dursila yang tidak menghormati Tuhan, bahkan memandang rendah korban untuk Tuhan. Mereka begitu tamak dan rakus sehingga lemak yang seharusnya merupakan kurban untuk Tuhan pun dijarah (12-17). Hal memalukan lainnya adalah moral mereka yang begitu rendah (22). Imam Eli sendiri tidak memiliki ketegasan dalam mendidik anak-anaknya. Ini terlihat dari sikapnya yang hanya memberi nasihat, tanpa adanya tindakan untuk mendisiplin mereka. Padahal, anak-anaknya begitu keji di hadapan Tuhan. Maka, Tuhan mengeraskan hati anak-anaknya dan akan membinasakan mereka (23-25).

    Bagaimana dengan keluarga Hana? Hana beriman kepada Tuhan. Ia menggantungkan hidup dan harapannya sepenuhnya kepada Tuhan. Setelah Samuel anaknya diserahkan ke rumah Tuhan, setiap tahun ibunya membuat baju efod baginya dari kain linen (18-19). Keluarga Elkana pun makin diberkati Tuhan (20-21). Kehidupan Samuel juga terlihat kontras bila dibandingkan dengan anak-anak Eli. Samuel kecil semakin disukai, baik oleh Tuhan maupun manusia (26).

    Belajar dari kedua keluarga di atas, bangunlah keluarga kita di atas kebenaran firman Tuhan. Bila Anda adalah orang tua, didiklah anak-anak Anda untuk menghormati Tuhan. Dan, jangan lupa untuk menegur dan mendisiplin anak-anak Anda bila mereka menyimpang dari jalan kebenaran.

    Diambil dan disunting dari:

    Nama situs : SABDA.org
    Alamat URL : http://sabda.org
    Penulis : Tidak dicantumkan
    Tanggal akses : 5 Juni 2014

Warnet Pena

  • Hampir setiap tahun, khususnya sejak tahun 2007, e-BinaAnak turut menyambut Hari Anak Nasional dengan memberikan edisi-edisi khusus. Banyak sekali bahan menarik yang kami kirimkan melalui edisi-edisi khusus tersebut. Oleh karena itu, untuk memeriahkan HAN tahun ini, kami daftarkan arsip e-BinaAnak seputar HAN sepanjang masa. Kiranya menjadi berkat bagi kita semua.

    ...
  • 1. CERITA INJIL AUDIO (CIA)

    Android: https://play.google.com/store/apps/details?id=org.sabda.cerita.injil

    Cerita Injil adalah Kabar Baik bagi masyarakat Kristen Indonesia. Sekarang, Anda, keluarga, dan teman-teman dapat menikmati CIA -- Cerita Injil Audio...

  • Setelah sukses meluncurkan App Cerita Alkitab Terbuka (CAT) pada tahun 2015 lalu, Yayasan Lembaga SABDA < http://ylsa.org > berupaya agar app ini digunakan dengan lebih maksimal lagi oleh penggunanya. Puji Tuhan, saat ini CAT juga sudah bisa diakses secara online dalam...

  • Firman Tuhan adalah dasar hidup orang percaya. Setiap orang percaya terpanggil untuk mempelajari firman Tuhan dengan cermat dan membagikan/mengajarkannya kepada mereka yang membutuhkan. Namun, bagaimana kita membagikannya? Dari mana kita memulai? Apakah ada sistem dan platform yang baik untuk memahami dan mengajarkan firman Tuhan, baik untuk dewasa maupun anak-anak?

    ...
  • Di mana Anda dapat menemukan renungan Paskah terbaik? Tentu saja dalam Alkitab! Kami mengajak Anda untuk mengenal lebih dalam tentang Paskah di Alkitab melalui situs Paskah.co. Situs ini akan menjadi salah satu referensi berharga bagi Anda untuk mendapatkan sumber-sumber bahan Paskah terbaik di internet. Meskipun banyak sumber bahan Paskah, mulai...

  • Wikipedia sudah dikenal oleh mereka yang aktif dalam dunia internet sebagai tempat untuk menyebarkan dan memperoleh informasi umum mengenai sebuah topik. Salah satu halaman yang ada dalam Wikipedia Indonesia adalah tentang Sekolah Minggu. Sayangnya, halaman ini belum memiliki banyak informasi. Saat ini, sudah ada informasi mengenai Sejarah, Dasar-Dasar Pelayanan Sekolah Minggu...

  • Anak-anak yang dilayani dalam gereja pada zaman ini adalah generasi "digital native". Mereka lahir pada era digital media dan berinteraksi dengan peralatan digital. Mau tidak mau, gereja dan para pelayan anak harus memaksa diri untuk belajar, mengetahui, memanfaatkan, dan mengaplikasikan penggunaan digital media dalam pengajaran di sekolah minggu. Jika tidak, metode mengajar...

  • Perkembangan teknologi paling cepat diserap oleh anak-anak muda, termasuk juga anak-anak yang masih berusia dini. Salah satu teknologi yang akrab dengan mereka adalah teknologi ponsel. Mungkin sudah sangat jarang kita menemukan anak-anak yang tidak memiliki ponsel mereka sendiri. Hal yang perlu dikhawatirkan oleh orang dewasa, termasuk kita para pelayan anak, adalah apa yang...

  • Seorang pendidik Kristen, khususnya guru agama Kristen atau guru sekolah minggu, harus memiliki perlengkapan yang memadai untuk mempelajari firman Tuhan. Kepentingannya adalah untuk menjaga pengajaran kita tetap berdasar pada kebenaran Alkitab. Salah satu sumber bahan untuk mendalami firman Tuhan adalah buku-buku tafsiran Alkitab. Yayasan Lembaga SABDA menyediakan berbagai...

  • Situs Gudang Buku Kristen, yang disingkat GUBUK, diluncurkan oleh Yayasan Lembaga SABDA dengan visi: Mendorong orang Kristen untuk menghargai dan mau memanfaatkan buku-buku Kristen demi mencapai kedewasaan iman dan pertumbuhan kehidupan kekristenan yang lebih baik. Salah satu bagian dalam GUBUK ini adalah halaman Pelayanan Anak. Dalam halaman tersebut, pengunjung bisa...