Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Saksi-Saksi Yehova

Saksi-Saksi Yehova


Sejarah Saksi Yehova

Charles Taze Russell, lahir pada tahun 1852 di Pittsburg, adalah pendiri gerakan yang sekarang dikenal sebagai "Saksi-Saksi Yehova". Ketika berumur 18 tahun (1870), ia mengorganisir sebuah kelas Alkitab di Pittsburg, dan pada tahun 1876 terpilih sebagai "pendeta". Tahun 1879, ia mendirikan "Menara Pengawal Sion", yang sekarang dikenal sebagai "Menara Pengawal yang Memberitahukan Kerajaan Yehova". Karyanya yang utama adalah "Studies in the Scriptures" (Penyelidikan Alkitab), diterbitkan dalam tujuh jilid dari tahun 1881 sampai 1917. Sejak bulan Juli 1956, "The Watch Tower Bible and Tract Society" telah memunyai cabang di 63 negara, dan pekerjaan utusan Injil di lebih dari 104 negara. Lembaga itu sekarang memunyai perusahaan percetakan, apartemen, stasiun radio, dan sekolah Alkitab yang telah mengutus lebih dari 1.000 orang utusan Injil.

Pada tahun 1916, Russell meninggal dunia dan digantikan oleh Joseph Franklin Rutherford. Ia menyusun pemikiran agar semua anggotanya percaya bahwa mereka adalah para Saksi Yehova terakhir. Di bawah pimpinannya, pekerjaan itu berkembang dengan pesat. Ia menyusun lebih dari 100 jilid buku dan selebaran-selebaran, yang diterjemahkan ke dalam bermacam-macam bahasa. Ia meninggal pada tahun 1944 dan digantikan oleh Nathan H. Knorr. Ia mendirikan Sekolah Latihan Utusan Injil Gilead di South Lansing, New York, dan pada tahun 1953 menyelenggarakan Konvensi Internasional "Saksi-Saksi Yehova" di Stadion Yankee, New York.

Nama Saksi Yehova

Nama "Saksi-Saksi Yehova" diduga memunyai dukungan firman Allah dari Yesaya 41:10-12. Penggunaan nama bidat ini sebenarnya tidak tepat. Penjelasan-penjelasan di bawah ini akan membuktikan hal tersebut:

  1. Kata "kamu inilah saksi-saksi-Ku" dalam Yesaya 43:10 sebenarnya ditujukan kepada bangsa Israel (Yesaya 43:1).

  2. Perjanjian Baru mengajarkan agar kita menjadi saksi-saksi Kristus (Kisah Para Rasul 1:8); saksi-saksi kematian dan kebangkitan-Nya untuk pengampunan dosa (Kisah Para Rasul 1:22; 2:32; 3:15; 5:30-32; 10:39-43). Namun Saksi-Saksi Yehova menyangkal kebangkitan jasmani Yesus Kristus.

  3. Yang berbicara dalam Yesaya 43:10-12 adalah TUHAN atau Yehovah, yang sama dengan Tuhan Yesus Kristus, terbukti sebagai berikut:

    1. TUHAN adalah Pencipta (Yesaya 43:1, 7, 15), demikian juga Kristus (Yohanes 1:1-3; Kolose 1:16; Ibrani 1:1-3).

    2. TUHAN adalah Penebus (Yesaya 43:14), demikian juga Kristus (1 Petrus 1:18-19).

    3. TUHAN adalah satu-satunya Juru Selamat (Yesaya 43:11), demikian juga Kristus (Kisah Para Rasul 4:12).

    4. TUHAN adalah yang terdahulu dan yang terkemudian (Yesaya 44:6), demikian juga Kristus (Wahyu 1:8).

    5. TUHAN adalah Allah (Yesaya 43:12), demikian juga Kristus (Yohanes 1:1; Matius 1:23; Roma 9:5; Titus 2:13; 1 Yohanes 5:20).

    6. TUHAN adalah Gembala kita (Mazmur 23:1), demikian juga Kristus (Yohanes 10:1; Petrus 5:4; Ibrani 13:20).

    7. TUHAN adalah yang menyembuhkan (Keluaran 15:26), demikian juga Kristus (Yakobus 5:15).

    8. TUHAN adalah Kebenaran kita (Yeremia 23:6), demikian juga Kristus (1 Korintus 1:30).

Asas-Asas Saksi Yehova

A. Pribadi Kristus

Mereka mengajarkan:

  1. Kristus diciptakan. J.F. Rutherford dalam bukunya "Harp of God" menyatakan, "Firman adalah ciptaan langsung, pertama dan satu-satunya oleh Yehovah."

  2. Kristus belum pernah dan tidak akan pernah menjadi Allah. J.F. Rutherford dalam bukunya "The Truth Shall Make You Free" menyatakan, "Ia adalah seorang Allah yang berkuasa, tetapi bukan Allah Yang Mahakuasa."

  3. Kristus hanyalah manusia selagi Ia diam di dunia dan meninggal sebagai seorang Manusia. C.T. Russell dalam bukunya "Studies in the Scriptures" menyatakan, "Manusia Yesus telah mati untuk selama-lamanya" dan "Yesus dikenal sebagai Penghulu malaikat bernama Mikhael, yang berarti utusan Allah." J.F. Rutherford menyetujui hal ini dengan berkata, "Dalam jabatan ini (Anak yang diperanakkan oleh Allah dan anak sulung dari segala makhluk), Ia memunyai nama lain di sorga, yaitu Mikhael.

Kita menjawab:

a. Kristus adalah Pencipta segala sesuatu (Kolose 1:16). Memasukkan perkataan "yang lain" sesudah "segala sesuatu" seperti yang mereka lakukan pada ayat ini dalam The New World Translation, tidak berdasar sama sekali. Kristus adalah Pencipta segala sesuatu, termasuk para malaikat. Ungkapan "sulung" dalam Kolose 1:15 seharusnya dipahami dalam hubungannya dengan Kolose 1:18, "yang pertama bangkit dari antara orang mati". Dan ini tidak berarti bahwa Kristus adalah yang pertama akan dibangkitkan dari antara orang mati, melainkan bahwa Ia yang pertama bangkit dari antara orang mati di dalam tubuh kebangkitan-Nya, "buah sulung" dari antara orang mati, yaitu janji kebangkitan bagi semua orang yang dipersatukan dengan Kristus oleh iman. "Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, Ia tidak mati lagi; maut tidak berkuasa lagi atas Dia."

Perkataan Ibrani untuk Allah dalam Kejadian 1:1, Elohim, menjelaskan bahwa yang mengambil bagian dalam penciptaan pertama, pelakunya terdiri dari beberapa pribadi, sedangkan penggunaan kata kerja tunggal, menunjukkan kesatuan tindakan. Allah Tritunggal juga disebutkan dalam ayat-ayat lain yang berhubungan dengan penciptaan. Pada waktu Yohanes berkata tentang Kristus dalam Wahyu 3:14 sebagai "Permulaan dari ciptaan Allah", ia mengatakan sesuatu yang cocok dengan apa yang dikatakannya dalam Yohanes 1:1-3, di mana ia menegaskan bahwa Kristus ada bersama dengan Allah pada mulanya dan bahwa Ia adalah Firman adalah Allah.

b. Kristus sejak semula adalah Allah dan akan tetap Allah.

  1. Ia memunyai nama-nama ilahi (Yesaya 9:6; Matius 1:23; Yohanes 1:1).

  2. Ia disembah (Matius 2:11; 14:33; 28:9; Lukas 24:52; Ibrani 1:6; Filipi 2:10-11; Wahyu 5:8). Jika kita menyembah sesuatu yang bukan Allah berarti kita menyembah berhala (Keluaran 20:4-5; Kisah Para Rasul 10:25-26).

  3. Ia melakukan perbuatan yang hanya dapat dilakukan oleh Allah. Ia mengampuni dosa (Markus 2:5-7); Ia membangkitkan orang mati (Yohanes 11:43); Ia bangkit dari kematian (Yohanes 2:19; 10:18); Ia menciptakan dunia (Kolose 1:16); Ia menopang dunia (Kolose 1:17; Ibrani 1:2-3); tanda ajaib-Nya membuktikan kemuliaan dan keilahian-Nya (Yohanes 2:11).

  4. Gelar-gelar keilahian-Nya membuktikan bahwa Yesus Kristus adalah Allah. Ia Mahakuasa (Matius 28:18); Mahahadir (Matius 28:20); Mahatahu (Yohanes 21:17; 2:25; 16:30; Kisah Para Rasul 1:24); kekal (Yohanes 1:1; Kolose 1:17; Yohanes 8:58).

  5. Nama-nama yang diterapkan pada Yehova Allah dalam Perjanjian Lama, diterapkan kepada Kristus dalam Perjanjian Baru.

  6. Hubungan antara nama Kristus dengan Allah dan Roh Kudus dalam satu cara dengan mengecualikan semua nama yang lain, membawa kita kepada kesimpulan bahwa ketiganya sama dan sederajat (Matius 28:19; 2 Korintus 13:14; Yohanes 10:30). Ketika Kristus berkata mengenai Allah sebagai Bapa-Nya dalam pengertian yang unik, orang-orang Yahudi mengartikan bahwa Ia menyamakan diri-Nya dengan Allah (Yohanes 5:18).

c. Kristus adalah manusia, tetapi Ia juga adalah Allah yang menyatakan diri dalam daging. Kristus tidak mengesampingkan keilahian-Nya ketika Ia diam di dalam tubuh sebagai Manusia. Paulus menjelaskan bahwa Ia, yang sama dengan Allah, mengambil (bukan mengurangi, melainkan menambah) rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. "Allah di dalam Kristus" telah memperdamaikan isi dunia ini dengan diri-Nya sendiri.

d. Kristus tidak pernah menjadi Mikhael, Penghulu Malaikat. Kristus jauh lebih indah daripada para malaikat. Para malaikat menyembah Kristus. Pasal pertama Kitab Ibrani menunjukkan bahwa Kristus lebih indah daripada para malaikat sebab dalam hubungan, seorang anak melebihi seorang hamba; dalam martabat, seseorang yang disembah melebihi yang menyembah; dalam kedudukan, Kristus sebagai Tuhan yang berkuasa melebihi para malaikat yang hanya sebagai makhluk-makhluk yang taat saja; dalam kesucian, Kristus membenci dosa, sedangkan malaikat-malaikat ada yang berdosa.

B. Hukuman Kekal

Mereka mengajarkan:

  1. Neraka, kuburan, sheol, gehenna, dan hades adalah perkataan-perkataan yang sama artinya. Dalam buku "Let God Be True", mereka berkata, "Alkitab mengatakan bahwa neraka adalah kuburan, sehingga seorang anak kecil yang jujur pun dapat mengerti hal ini, tetapi para ahli teologi tidak dapat mengerti. Neraka yang menakutkan adalah ajaran agama yang mencemarkan Allah. Jelas bahwa neraka atau sheol atau hades berarti kubur, dan semua orang, yang baik maupun yang jahat, akan menuju ke tempat itu untuk menunggu hari kebangkitan."

  2. Kesempatan kedua. Mereka mengajarkan bahwa mereka yang meninggal tanpa Kristus akan mendapat kesempatan lain. Mereka akan mendengar Injil diberitakan, dan jika mereka tidak mau menerima undangan, mereka akan dipunahkan. Buku "Let God Be True" berkata, "Gehenna adalah gambar atau lambang kemusnahan atau pembasmian total, dan bukan siksaan kekal. Mereka yang menolak kesempatan kedua akan dibinasakan oleh kematian kedua, yaitu kepunahan."

Kita menjawab:

Kata Ibrani untuk "kuburan" adalah "qeber" (diucapkan "kawbar"). Perkataan ini dipakai 67 kali dalam Perjanjian Lama dan digunakan baik dalam bentuk jamak maupun tunggal. Perjanjian Lama menjelaskan kuburan sebagai berikut.

  1. Kuburan dapat menjadi milik pribadi, yang digali dan terletak di satu daerah (Kejadian 50:5).
  2. Ada banyak kuburan (Keluaran 14:11).
  3. Kuburan dapat disentuh (Bilangan 19:16, 18).
  4. Orang-orang menangis di kuburan (2 Samuel 3:32).
  5. Tubuh orang yang mati dapat ditaruh di dalam kuburan (1 Raja-raja 13:30).
  6. Sebuah kuburan dapat terletak di samping kuburan yang lain (2 Samuel 19:37).
  7. Tubuh dapat dikubur di dalam sebuah kuburan (1 Raja-raja 14:13).
  8. Orang dapat menaburkan abu di atas kuburan (2 Raja-raja 23:6).

Kata Ibrani sheol ditulis 65 kali di dalam Perjanjian Lama. Dalam Alkitab bahasa Inggris Authorized Version, perkataan ini diterjemahkan "kuburan" dan ditulis 31 kali, "neraka" 31 kali dan "lubang" 3 kali. Jika perkataan tersebut tetap sheol tentunya akan mengurangi kebingungan seperti pada Alkitab A.R.V.. Arti kata itu harus ditetapkan oleh pemakaiannya menurut konteksnya, bahwa Sheol bukannya kuburan. Hal itu terbukti dari hal-hal berikut ini:

  1. Meskipun dalam Alkitab terjemahan lama dikatakan Yakub "hendak berkabung sampai ke kubur" (Kejadian 37:35), perkataan sheol dalam bahasa Ibrani dalam ayat ini tidak dapat diartikan kuburan -- karena Yakub mengira Yusuf telah dimakan oleh binatang buas. Tidak ada seorang pun yang berkabung sampai ke kuburan. Tidak seorang pun dapat pergi kepada orang lain di dalam kuburan.

  2. Sheol dalam Ulangan 32:22 diterjemahkan salah, menjadi "neraka". Di sini perkataan api dihubungkan dengan sheol dan bahwa murka Allah mencapai "tempat yang paling bawah" dari sheol. Di dalam kuburan tidak ada api.

  3. 2 Samuel 22:6 mengatakan mengenai kesedihan di dalam Sheol. Di dalam kuburan tidak ada kesedihan.

  4. Ayub 11:8 membandingkan dalamnya sheol dengan tingginya langit. Jika sheol diartikan kuburan, maka tidak dapat dipakai sebagai bahan perbandingan.

  5. Mazmur 9:18 mengatakan mengenai orang-orang fasik yang akan dimasukkan ke sheol. Anda tidak dapat memasukkan banyak orang ke dalam sebuah kuburan, tetapi di dalam sheol terdapat cukup tempat untuk segala bangsa.

  6. Mazmur 16:10 mengatakan mengenai orang yang masuk Sheol dan sesuatu yang dapat binasa. Tubuh kita memang akan binasa, tetapi jiwa tidak akan binasa. Ayat ini berisi nubuatan dan menggambarkan Mesias seperti yang dibuktikan pemakaiannya oleh Petrus di dalam Kisah Para Rasul untuk diterapkan pada Kristus. Kisah Para Rasul 2:31 menunjukkan bahwa sheol dan hades adalah sama, karena perkataan sheol dalam bahasa Ibrani (Mazmur 16:10) bahasa Yunaninya adalah Hades. Dengan menggabungkan pikiran Perjanjian Lama dan Baru, kita dapat memakai istilah "Sheol-Hades" untuk dunia orang mati.

  7. Mazmur 55:16 menunjukkan, meskipun maut telah menyergap orang fasik, jiwa mereka akan turun hidup-hidup ke dalam sheol. Jelaslah bahwa sheol bukan berarti kuburan.

  8. Mazmur 116:3 menghubungkan sheol dengan kesakitan. Di dalam kuburan tidak ada kesakitan.

  9. Rumah perempuan jalang adalah jalan ke sheol. Jika sheol hanya kuburan saja, maka nasib wanita yang jahat sama baiknya dengan wanita yang berbudi luhur. Selanjutnya dikatakan "orang-orang yang diundangnya ada di dalam dunia orang mati" (Amsal 7:27; 9:18). Mengajarkan sheol adalah kuburan, berarti membuang semua kendali moral dan menjadikan dosa hanya sebagai lelucon.

  10. Sheol tidak pernah penuh, tetapi kuburan dapat segera penuh (Amsal 27:20; Yesaya 5:14). Perkataan hades dalam bahasa Yunani dipakai 11 kali dalam Perjanjian Baru. Di dalam hades orang-orang sadar akan diri sendiri, dapat berbicara, disiksa, terpisah dan jauh dari mereka yang dihibur, dapat mengingat, di dalam api tidak ada belas kasihan, tidak diberi air setetes pun untuk menyejukkan lidah. Kristus mengungkapkan apa yang terletak di balik kematian bagi orang yang benar dibandingkan dengan orang yang jahat. Nampaknya terdapat hal-hal yang serupa dalam kesanggupan merasakan secara jasmani dan secara kejiwaan. Paulus tidak dapat merasakan perbedaannya. Bahkan meskipun kita membayangkan di dalam mimpi, kadang-kadang masih sukar untuk membedakan apakah pengalaman kita itu dialami secara tubuh atau hanya secara kejiwaan saja. Lagipula kita tidak dapat mengatakan apakah roh yang tidak menempati tubuh tidak memunyai kemampuan untuk melihat, merasa sedih. Manusia diciptakan serupa dengan Allah; dapat melihat, mendengar, merasa, dan sadar seperti Allah, sekalipun nanti kalau jiwa kita sudah tidak menempati tubuh lagi.

  11. Perkataan Gehena dalam bahasa Yunani dipakai 11 kali dalam Perjanjian Baru dan diterjemahkan "neraka". Kristus berkata mengenai gehenna sebagai tempat terdapatnya api, yaitu api "yang tak terpadamkan". Dari 11 kali, 8 kali dipakai untuk menerangkan bahwa api itu kekal. Jelas bahwa gehenna tidak dapat berarti kuburan.

Pemakaian kata "kekal" untuk menyatakan sifat kelanggengan Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus, kebahagiaan orang-orang suci maupun kesengsaraan kekal bagi orang-orang sesat pada masa yang akan datang. Ini membuktikan bahwa penderitaan yang dialami orang-orang fasik berlangsung sampai kekal. Pemakaian kata ini dalam Kitab Wahyu membuktikan bahwa itu berarti "berlangsung terus-menerus", "selama-lamanya", "tiada henti-hentinya" (Wahyu 1:6; 4:9-10; 5:13; 7:12; 10:6; 11:15; 14:10-11; 19:3; 20:10).

Mengenai pembasmian, kita menjawab:

  1. Wahyu 21:8 tidak mengatakan bahwa lautan api menyebabkan kematian kedua, melainkan itu adalah kematian kedua. Di Alkitab, kematian tidak pernah berarti kepunahan manusia atau tidak ada sama sekali. Jika dianggap sebagai aspek hukuman, ini berarti keadaan salah, keadaan yang menyedihkan sekali, direndahkan martabatnya atau kesukaran yang besar.

  2. Menghancurkan tidak berarti memusnahkan. Ketika kantong anggur itu hancur, kantong itu tidak dapat lagi berfungsi untuk maksud semula pada waktu ia dibuat (Matius 9:17). Jika satu jiwa binasa, maka jiwa itu tidak berfungsi lagi untuk tujuannya yang semula, yaitu untuk memuliakan Allah (Kolose 1:16).

  3. Membinasakan tidak berarti memusnahkan. Hosea meratapi bangsa Israel, "Umatku binasa karena tidak mengenal Allah," tetapi di sini ia tidak bermaksud bahwa bangsanya telah dimusnahkan. Ketika Yesus berkata, "Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali", Ia tidak bermaksud untuk memusnahkannya. Beberapa orang berkeyakinan bahwa dosa memunyai akibat semacam itu, yaitu dapat membinasakan jiwa sama sekali. Hal ini tidak mungkin, karena semakin besar dosanya, maka orang yang berdosa akan segera dibinasakan dan dengan demikian maka hukumannya tidak seimbang.

  4. Mengenai kesempatan yang kedua, Alkitab tidak mengajarkan adanya kesempatan apa pun setelah kematian. Alkitab berkata bahwa setelah kematian ada penghakiman -- "Siapa bersitegang leher, walaupun telah mendapat teguran, akan sekonyong-konyong diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi." Keadaan orang yang fasik pada waktu kematian sudah tetap dan ditentukan,, yaitu api kekal, kegelapan, ratapan dan kertakan gigi, siksaan, hukuman kekal, murka Allah, kematian yang kedua, dan kebinasaan kekal.

C. Kerajaan

Mereka mengajarkan:

  1. Kerajaan Kristus akan didirikan sepenuhnya pada tahun 1914.

  2. Kedatangan Kristus yang kedua kali akan tidak kelihatan seperti angin (Yohanes 14:19).

  3. Kejadian-kejadian yang akan terjadi merupakan tanda kehadiran-Nya yang kedua kali sebagai Raja.

  4. "Pada akhir zaman dunia tua ini dan pada pintu masuk dunia baru, para Saksi Yehova akan mengabarkan kabar baik mengenai kerajaan yang didirikan dan menunjukkan pertempuran Allah di Armageddon akan menyucikan bumi dari kefasikan dan membukakan jalan pada keadaan damai yang kekal, kebahagiaan dan hidup. Hal ini menyebabkan pemisahan bangsa-bangsa, beberapa dari mereka masuk dunia baru dan sebagian lagi akan ditolak (Matius 25:31-46). Orang-orang yang melawan akan menganiaya para saksi yang memberitakan kabar baik, mengejek dan mencemooh peringatan yang disampaikan".

Kita menjawab:

  1. Kerajaan Kristus belum sepenuhnya didirikan pada tahun 1914. Jika memang sudah, maka peperangan akan berhenti dan kerajaan dunia telah menjadi Kerajaan Tuhan. Ketika sang Raja datang, kehendak-Nya akan terjadi di dunia seperti di sorga.

  2. Kedatangan Kristus akan terlihat oleh mata.

  3. Dalam Matius 24, tanda-tanda akan mendahului kedatangan-Nya dan segera setelah kita melihat pembinasa keji dan siksaan yang dahsyat, maka Anak Manusia akan tampak. Kristus memperingatkan murid-murid-Nya agar mereka jangan kacau tentang tanda-tanda umum dan tanda khusus yang menyatakan kedatangan-Nya.

  4. "Injil" (Matius 24:14) adalah Injil yang diberitakan oleh Kristus dan para rasul, dan Injil yang sama ini juga harus diberitakan sampai tiba kesudahan zaman. Injil kerajaan itu tidak berbeda dengan Injil yang diberitakan Rasul Paulus atau Injil yang diberitakan oleh setiap hamba Tuhan yang benar.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul asli buku : The Art of Soul-Winning
Judul buku : Cara-Cara Memenangkan Jiwa
Judul artikel : "Saksi-Saksi Yehova"
Penulis : Murray W.Downey
Penerbit : Kalam Hidup, Bandung
Halaman : 117 -- 121 dan 123 -- 127

e-JEMMi 44/2009