Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs C3I
Loading

Emosi

Kita adalah manusia sosial, seksual, jasmaniah, emosional, intelektual, dan rohaniah. Karena berkodrat sosial kita membutuhkan sesama dan tidak bisa berfungsi optimal tanpa kehadiran orang lain di dalam hidup ini. Kita pun berkodrat jasmaniah, itu sebabnya kita perlu tidur, makan, dan minum. Demikian seterusnya dengan kodrat lainnya. Dari semua itu saya kira ada dua kodrat yang tidak dapat kita terima dengan nyaman: seksual dan emosional. Kali ini saya ingin membahas kodrat emosional saja.

Relasi kita dengan emosi bak relasi kasih-benci. Di satu pihak kita menyadari pentingnya dan menyatunya emosi dengan diri namun di pihak lain, kita tidak begitu nyaman dengan emosi. Sudah tentu kita menyambut beberapa jenis emosi yang diterima baik oleh lingkungan-seperti sukacita-tetapi kita kurang memeluk emosi lainnyaseperti takut, sedih, dan marah.

Kita pun cenderung mengecilkan peran emosi dalam hidup, terutama dalam proses pengambilan keputusan. Kita berusaha ber-"kepala dingin" tatkala menghadapi keputusan-yang berarti berusaha untuk tidak melibatkan emosi. Pada akhirnya kita cenderung mengecilkan peran emosi karena takut dianggap emosional alias tidak stabil.

Seorang neuroscientist (pakar syaraf) bernama Antonio Damasio membagikan penemuannya yang menarik tentang peran emosi dalam pengambilan keputusan. Sebagaimana kita ketahui, pusat emosi di dalam otak terletak di sebuah organ berbentuk kacang yang disebut amygdala. Emosi, seperti takut dan marah, berasal dari dan diatur oleh aktivitas di amygdala. Damasio menemukan, ternyata dalam pengambilan keputusan emosi berperan besar. Tatkala kita tengah diperhadapkan dengan keputusan sesungguhnya emosilah yang pertama berbicara-kita merasa suka atau tidak suka, marah atau gembira, takut atau nyaman. Setelah itu barulah otak bekerja secara rasional menentukan apa yang telah ditentukan atau disaring oleh reaksi emosional tadi. Damasio menyebut reaksi emosi itu, somatic marker.

Suka atau tidak suka, kita mesti menerima fakta bahwa emosi memainkan peran yang besar dalam pertimbangan rasional. Sebelum kita menimbang secara "obyektif," ternyata kita telah mengambil "keputusan"subyektif terlebih dahulu lewat somatic markeratau reaksi emosi. Di dalam psikologi kita mengenal terminologi, selective attention dan selective memory. Artinya, sesungguhnya perhatian yang kita berikan tidaklah murni netral. Kita memiliki kriteria tertentu-disadari atau tidak-yang menyaring apa yang akan kita perhatikan dan akhirnya simpan di memori.

Saya kira konsep somatic marker ini melengkapi apa yang telah kita ketahui tentang selective attention dan selective memory. Kita tidak dengan sembarang memberi perhatian dan mengingat sesuatu sebab pilihan itu dibuat-setidaknya dipengaruhi-oleh reaksi emosi yang keluar secara alamiah terhadap pilihan yang tersedia. Jika kita menyukainya, kecenderungan kita adalah memperhatikan dan mengingatnya. Sebaliknya, bila tidak kita sukai, kita akan mengabaikan dan melupakannya.

Pemahaman ini berdampak luas dan dapat diterapkan dalam pelbagai bidang kehidupan. Dalam belajar-mengajar, sekali lagi kita diingatkan bahwa menyukai si pengajar dan bidang ajaran berperan besar dalam keberhasilan atau prestasi belajar si anak didik. Sebagai contoh, di dalam mempelajari bahasa yang baru, penting sekali si pengguna bahasa diberi kesempatan mengekspresi diri lewat bahasa barunya-tanpa sering-sering diberi koreksi. Terpenting baginya adalah menyukai kemampuan berbahasa baru itu; setelah itu terbentuk, barulah penekanan diberikan pada penggunaan bahasa yang benar.

Atau bermain musik, misalnya piano. Salah satu metode pembelajaran yang efektif adalah mengajar si anak didik untuk memainkan lagu bernada enak didengar dengan pertolongan tangan di pengajar. Kendati ia memainkan nada yang sederhana namun dengan iringan tangan si guru, lagu itu mengalun dengan indah. Makin ia menyukai lantunan nada piano, makin bertambah motivasinya belajar bermain piano.

Reaksi terhadap si pengajar juga tidak kalah pentingnya. Jika reaksi awalnya adalah tidak suka, maka sukar bagi si anak didik untuk menyukai dan akhirnya mempelajari bidang ajaran tersebut. Sebaliknya, kendati ia tidak begitu mampu, namun bila ia menyukai si pengajar, motivasinya untuk memberi perhatian dan usaha yang keras akan bertambah. Dengan kata lain, somatic marker berperan besar dalam proses belajar-mengajar.

Ada implikasi lain dari pemahaman somatic marker ini: daripada bersusah payah mengenyahkan pengaruh emosi, lebih baik kita mengakuinya. Misalnya, sesungguhnya kita takut untuk melangkah ke lapangan pekerjaan yang baru namun kita menolak untuk mengakuinya. Sebaliknya, kita berupaya keras menemukan alasan mengapa tidak seharusnya kita memilih pekerjaan itu. Akibatnya adalah, kita makin terpaut jauh dari kenyataan. Sebaliknya, bila kita berhasil mengakui bahwa sebenarnya kita takut melangkah ke arena pekerjaan yang baru, kita pun dapat memeriksa alasan ketakutan itu. Mungkin pada akhirnya kita menemukan bahwa ketakutan itu tidak berdasar atau sebaliknya, kita justru menjumpai bahwa ketakutan itu berdasar. Kesimpulannya, jika kita mengakui reaksi emosi yang muncul, kita akan lebih dapat mengontrol hasil akhir keputusannya.

Tuhan menyukai kejujuran. Amsal 2:21-22 mengingatkan, "Karena orang jujur mendiami tanah ... tetapi orang fasik akan dipunahkan dari tanah itu" yang berarti orang jujur akan mendapatkan porsi berkat yang baik dan sepadan untuknya sedangkan orang fasik akan kehilangan berkat Tuhan atasnya. Oleh sebab kitab Amsal merupakan panduan untuk berhikmat, dapat pula kita simpulkan bahwa kejujuran merupakan bekal untuk berhikmat. Kejujuran dimulai dengan melihat dan mengakui reaksi emosi yang sebenarnya dan diakhiri dengan pertimbangan yang rasional. Ternyata hikmat hanya bertunas pada ranting kejujuran.z

Sumber
Halaman: 
3 - 4
Judul Artikel: 
Parakaleo, April Juni 2006, Vol. XIII, No. 2
Penerbit: 
Departemen Konseling STTRII
Kota: 
Jakarta
Editor: 
Paul Gunadi Ph.D., Yakub B.Susabda Ph.D., Esther Susabda Ph.D.
Tahun: 
2006

Komentar