Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Artikel

Loading

You are hereKepedulian

Kepedulian


Diakonia Gereja: Kepedulian kepada Umat-Nya yang Terkena Bencana

Oleh: Pdt Midian KH Sirait, M.Th. (Pendeta HKBP Resort Kalimantan Timur)

Bencana berupa gempa, tanah longsor, banjir, dan kekeringan bertubi-tubi melanda berbagai daerah di Tanah Air. Wujud perilaku peduli seseorang terhadap orang lain membutuhkan perhatian konkrit dalam bentuk biaya dan pertolongan lainnya. Banyak korban gempa yang meminta layanan pengobatan dan memanfaatkan fasilitas layanan medis. Penanganan pos pengungsian, yang tetap memprioritaskan keselamatan dan kesehatan menuju kehidupan yang baik dan harmoni.

Di tengah keadaan yang seperti itu, kita, sebagai gereja yang Tuhan tempatkan di bumi Indonesia, terpanggil untuk bersama-sama mengulurkan tangan mengatasi permasalahan yang terjadi tersebut. Yaitu, membantu terbentuknya komunitas baru dan membantu menuju kemandirian masyarakat pengungsi sehingga dapat menjadi masyarakat pengungsi mandiri. Kita harus berupaya untuk menguatkan mereka untuk melihat masa depan bersama Kristus.

Kepedulian

Oleh: Yon Maryono

Ada dua narasi Alkitab tentang perilaku orang kaya terhadap sesamanya. Pertama, Lukas 16:19-31 yang melukiskan tingkah-laku orang kaya dengan gaya hidup yang ditandai oleh suasana pesta pora dan kemewahan setiap hari. Sementara di pintu gerbang rumahnya duduk seorang pengemis yang sangat miskin dan kelaparan bernama Lazarus. Lazarus hanya makan dari sisa-sisa roti yang dibuang di lantai. sebagai alat pembersih tangan bagi para tamu setelah acara pesta selesai. Apa orang kaya itu tidak pernah melihat dan mengenal Lazarus? Ia melihat dan mengenalnya, karena selalu duduk di depan rumahnya. Tetapi ia telah mengeraskan hatinya. Pesan utama dari kisah perumpamaan Tuhan Yesus ini, sebenarnya bukan menyalahkan seseorang sukses dan menjadi kaya. Sebab para bapa leluhur Israel juga merupakan orang-orang kaya seperti Abraham, Ishak, dan Yakub. Tetapi yang menjadi persoalan utama dalam perumpamaan Tuhan Yesus tersebut adalah bagaimana seseorang menyikapi kekayaannya; dan bagaimana pula seseorang memperlakukan sesamanya yang sedang menderita.

Becak

Sudah lama aku ingin mengumpulkan para pengemudi becak yang mangkal di depan gereja. Mereka selama ini setiap minggu mendapat makan murah. Dengan hanya membayar Rp 500 mereka dapat makan sepuasnya dengan menu yang sederhana meski bukan ala kadarnya. Aktifitas nasi murah sudah berlangsung sekitar 12 tahunan, tapi hanya itu saja. Mereka membeli makanan setelah itu selesai. Kadang kala ada pembagian hadiah kecil disaat masa Paskah atau Natal. Aku melihat hal ini kurang membantu para pengemudi becak. Beberapa pengemudi becak sudah bertahun-tahun mangkal di depan gereja. Seorang pegemudi sudah mangkal selama 24 tahun yang lain sudah 10 tahun dan sebagainya. Bertahun-tahun mereka mangkal di depan gedung gereja, namun tidak pernah mereka masuk atau bersentuhan dengan para penghuni gedung itu. Beberapa kali memang aku pernah mengajak makan bersama dalam acara pesta rakyat. Atau menyapa beberapa orang ketika aku keluar dan masuk halaman gereja. Selain itu tidak ada lagi. Bahkan nama mereka pun aku tidak tahu.

Kupang

Seorang teman mengajakku untuk makan jagung bakar. Aku pikir ada baiknya sambil melihat-lihat kota Kupang pada malam hari. Setelah berputar sebentar ke kota maka kami duduk-duduk di trotoar makan jagung bakar. Penjual jagung adalah seorang ibu. Dia begitu bersemangat ketika melihat kami datang. Memang di sepanjang jalan ini banyak sekali orang berjualan jagung bakar. Aku pikir mereka berjualan tidak ditempat yang strategis. Jalan ini memang lebar tapi cukup sepi. Jarang sekali kendaraan yang berlalu lalang. Apalagi orang berjalan kaki. Bagaimana akan laku bila jalan begitu sepi?

Tinggalkan Komentar